EDUCARE.CO.ID – Penggunaan laptop di ruang kelas tidak selalu berdampak buruk bagi proses belajar. Penelitian dua siswi MAN Insan Cendekia Serpong menunjukkan perangkat digital dapat memicu kecemasan digital dan technostress. Namun, penggunaan yang tepat juga mampu meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian belajar siswa.
Berdasarkan sumber Kementerian Agama Republik Indonesia, penelitian tersebut dilakukan oleh Hanum Salsabila Rizkiani dan Naura Shafaa Andyta saat keduanya masih duduk di kelas X. Kini mereka telah melanjutkan pendidikan di kelas XI.
Kepala MAN IC Serpong, Hilal Najmi, menjelaskan bahwa kedua siswi meneliti pengaruh laptop terhadap emosi dan strategi belajar siswa melalui metode systematic literature review.
Artikel Terbit di Jurnal Nasional
Hanum dan Naura menulis artikel berjudul Screens in a Classroom: A Systematic Literature Review on the Emotional and Strategic Consequences of Laptop Use in Students. Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan menerbitkan artikel tersebut pada Vol. 9 No. 3 Agustus 2026.
Departemen Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang menerbitkan jurnal tersebut setelah artikel melewati proses double blind review.
Laptop Bisa Memicu Stres dan Meningkatkan Percaya Diri
Hilal menyebut temuan pertama penelitian menunjukkan adanya paradoks emosional dalam penggunaan laptop.
“Laptop dapat memicu kecemasan digital dan technostress yang menurunkan keterlibatan belajar. Namun, fitur-fitur digital juga membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa saat mengerjakan tugas kompleks,” jelas Hilal.
Karena itu, dampak laptop sangat bergantung pada cara siswa menggunakannya dalam kegiatan belajar.
Gangguan Belajar Sering Berasal dari Faktor Internal
Temuan kedua menunjukkan strategi memisahkan perangkat untuk fungsi berbeda belum tentu efektif mengurangi gangguan digital.
Penelitian menemukan banyak gangguan muncul dari rasa bosan, lelah, dan rasa penasaran siswa sendiri. Salah satu studi yang dianalisis mencatat interupsi digital mencapai 15,06 persen pada pembelajaran daring dan 8,12 persen pada pembelajaran tatap muka.
Selain itu, penelitian menunjukkan adanya perbedaan persepsi siswa terhadap aktivitas digital sendiri dan aktivitas digital teman.
Sekitar 70–72 persen siswa menganggap aktivitas digital teman tidak memengaruhi belajar mereka. Sebaliknya, 75,66 persen siswa mengakui aktivitas digital yang mereka lakukan sendiri justru mengganggu proses belajar.
Penggunaan Terstruktur Membantu Keterlibatan Belajar
Penelitian juga menunjukkan laptop dapat memperkuat keterlibatan siswa ketika guru menggunakannya secara terstruktur.
Kuis interaktif dan aktivitas digital yang terarah membantu siswa bertahan pada fase motivasi belajar yang rendah. Oleh sebab itu, kedua peneliti menyimpulkan bahwa pelarangan perangkat digital bukan solusi utama.
“Yang lebih dibutuhkan adalah self-regulated learning dan pendidikan kewargaan digital agar siswa mampu mengenali dan mengelola gangguan digitalnya sendiri,” terang Hilal.
Penelitian Berangkat dari Pengalaman Nyata
Hanum dan Naura memilih topik penelitian karena mereka mengalami langsung penggunaan laptop dalam pembelajaran sehari-hari. Pengalaman tersebut mendorong keduanya menyusun pertanyaan penelitian tentang pengaruh laptop terhadap emosi dan strategi belajar siswa.
“Hanum dan Naura mengangkat topik yang dekat dengan pengalaman mereka sendiri sebagai siswa,” kata Hilal.
Menyaring Ratusan Artikel Menjadi Enam Studi Utama
Kedua siswi menggunakan protokol PRISMA 2020 untuk melakukan systematic literature review. Mereka menelusuri artikel berbahasa Indonesia dan Inggris yang terbit pada periode 2020–2025 melalui basis data Lens.org.
Dari 645 rekaman awal, proses penyaringan menghasilkan 175 artikel. Selanjutnya, mereka melakukan seleksi manual dan menetapkan 6 artikel sebagai dasar sintesis penelitian.
Hilal menilai proses tersebut menunjukkan keseriusan siswa dalam menerapkan metode penelitian ilmiah secara sistematis.
MAN IC Serpong Dorong Budaya Menulis Ilmiah
Publikasi jurnal ini menjadi bagian dari program Penulisan Artikel Ilmiah di MAN IC Serpong. Sekolah mengubah program karya tulis ilmiah menjadi artikel siap publikasi sejak tahun ajaran 2025/2026.
Pada tahun pertama program tersebut, 140 siswa terbagi dalam 77 kelompok penulisan. Dari jumlah itu, 21 artikel berhasil terbit di jurnal nasional terakreditasi SINTA 4 hingga SINTA 3.
Selain itu, dua artikel lain diterima untuk dipresentasikan pada Kalijaga International Conference on Education 2026 yang akan berlangsung pada September mendatang.
Capaian Hanum dan Naura menunjukkan siswa sekolah menengah mampu menghasilkan karya ilmiah yang relevan dengan isu pendidikan digital dan mendapat pengakuan akademik nasional.



