Bukan Sekedar Limbah! Mahasiswa Indonesia Sulap Sisa Produksi Bir Jadi Bahan Sosis Inovatif

Must read

EDUCARE.CO.ID – Riset pangan membawa Bianca Haidi, mahasiswi Program Studi Teknologi Pangan i3L University, menjelajah tiga negara. Ia mengikuti program akademik di China, meneliti bidang genetika di Jepang, lalu kembali ke bidang pangan saat menjalani pertukaran pelajar di Jerman.

Di FH Münster, Jerman, Bianca mengembangkan ide pengolahan brewer’s spent grain (BSG) untuk produk sosis. BSG merupakan hasil samping dari industri pembuatan bir.

Bianca lebih dulu memfermentasi bahan tersebut menggunakan Rhizopus oligosporus. Setelah itu, ia menggunakannya sebagai bahan substitusi dalam pengembangan bratwurst sausage.

Riset tersebut menjadi bagian dari program pertukaran pelajar yang ia jalani di FH Münster.

Lihat Potensi dari Hasil Samping Industri Bir

Bianca menemukan peluang riset dari banyaknya brewer’s spent grain di Jerman. Ia kemudian mencari cara agar hasil samping tersebut dapat kembali memiliki manfaat dalam industri pangan.

Ia memilih proses fermentasi untuk mengolah BSG sebelum menggunakannya dalam formulasi sosis.

“Di Jerman, banyak terdapat brewer’s spent grain atau hasil samping dari industri pembuatan bir. Dalam proyek riset ini, saya memanfaatkan bahan tersebut melalui proses fermentasi untuk kemudian disubstitusikan ke dalam bratwurst sausage,” terang Bianca.

Gagasan tersebut juga sejalan dengan ketertarikan Bianca terhadap isu food waste. Ia melihat hasil samping industri bukan sekadar bahan yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sumber yang masih dapat dikembangkan.

Pendekatan itu mempertemukan teknologi pangan dengan gagasan keberlanjutan. Bianca mencoba mengubah hasil samping produksi menjadi bagian dari produk pangan baru.

Perjalanan Riset Dimulai dari China

Sebelum berangkat ke Jerman, Bianca lebih dulu mengikuti program akademik di Shanghai Jiao Tong University, China.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya ke Jepang. Pada Juni hingga Agustus 2026, Bianca terpilih mengikuti Amgen Scholars Program di The University of Tokyo.

Dua pengalaman tersebut mempertemukan Bianca dengan lingkungan penelitian yang berbeda. Ia juga mendapat kesempatan mempelajari metode dan bidang ilmu di luar rutinitas perkuliahan Teknologi Pangan.

Dari Teknologi Pangan Masuk ke Riset Genetika

Saat berada di Jepang, Bianca mengambil tantangan yang cukup berbeda dari bidang studinya.

Ia mengerjakan penelitian mengenai lokalisasi protein melalui genetic engineering. Topik tersebut membuat Bianca harus mempelajari pendekatan penelitian yang sebelumnya belum menjadi fokus utamanya.

“Pengalaman ini sangat berarti karena penelitian yang saya lakukan berada di luar latar belakang utama saya,” ujar Bianca.

Bianca mengaku sempat mengalami imposter syndrome ketika harus bekerja bersama para peneliti yang memiliki pengalaman lebih panjang.

Namun, ia kemudian mendapat dorongan dari Gregory A. Llacer, Global Director of the Amgen Scholars Program sekaligus Senior Administrative Affiliate of Harvard College.

Gregory mendorong Bianca untuk aktif bertanya ketika menemukan hal yang belum ia pahami. Bianca pun mulai lebih sering berdiskusi dengan profesor pembimbing.

Pengalaman tersebut membantu Bianca membangun keberanian dalam menjalani penelitian lintas disiplin.

Presentasi Riset Berbuah Penghargaan

Kerja keras Bianca di Jepang membuahkan hasil. Ia meraih Best Oral Presenter Award dalam Amgen Scholars International Symposium.

Penghargaan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan akademiknya. Bianca juga semakin yakin bahwa mahasiswa dapat mempelajari bidang baru tanpa harus terjebak pada batas disiplin ilmu.

“Saya semakin percaya bahwa disciplines are frameworks for inquiry, not boundaries to discovery,” kata Bianca.

Prinsip tersebut kemudian ia terapkan ketika kembali mengerjakan riset pangan di Jerman.

Bawa Pengalaman Food Waste ke Jerman

Di FH Münster, Bianca kembali menggarap topik yang dekat dengan Teknologi Pangan. Kali ini, ia memilih brewer’s spent grain sebagai bahan penelitian.

Ide tersebut muncul dari pengalaman Bianca ketika mengerjakan proyek laboratorium dan mengikuti pembelajaran tentang food waste.

Kaprodi Teknologi Pangan sekaligus academic advisor Bianca, Dr. Hanny Angrainy, M.Sc., menjelaskan bahwa Bianca sendiri yang menggagas proyek tersebut.

Bianca kemudian membawa gagasan itu kepada profesor di Jerman untuk mendapat kesempatan mengembangkannya.

“Seperti project spent brew itu project dari Bianca sendiri. Dia mengusulkan karena dia punya experience di project lab dan kelas sebelumnya menggunakan food waste,” jelas Hanny.

Menurut Hanny, Bianca melihat kondisi industri di Jerman sebagai peluang untuk mengembangkan gagasan tersebut.

“Jadi dia lihat di Jerman kan banyak limbah dari produksi bir, yang bisa dijadikan plant based sausage. Jadi project itu murni dia sodorkan ke profesor di sana, dan profesor di sana senang banget dengan idenya,” lanjut Hanny.

Tiga Negara, Tiga Pengalaman Riset

Perjalanan Bianca di China, Jepang, dan Jerman memberinya pengalaman dengan karakter yang berbeda.

Di China, ia memperluas pengalaman akademik. Jepang membawanya masuk ke bidang rekayasa genetika. Sementara itu, Jerman kembali mempertemukannya dengan Teknologi Pangan melalui riset pemanfaatan hasil samping industri.

Rangkaian pengalaman tersebut memperluas cara Bianca melihat penelitian. Ia tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga belajar mencari persoalan, menyusun gagasan, berdiskusi dengan peneliti, dan mengembangkan solusi.

Pengalaman lintas disiplin itu juga menjadi bekal bagi Bianca untuk melanjutkan kontribusinya di Indonesia.

Ingin Bawa Pengetahuan Kembali ke Indonesia

Setelah menyelesaikan studi di Jerman, Bianca ingin membawa pengalaman risetnya pulang ke Indonesia.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dari tiga negara dapat ia terapkan untuk mendukung perkembangan industri pangan nasional.

“Setelah studi di Jerman selesai, saya ingin membawa pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan ini ke Indonesia. Saya berharap dapat menerapkan konsep maupun teknologi yang saya pelajari untuk mendukung pengembangan industri pangan di Indonesia,” ujarnya.

Dari Hasil Samping Menjadi Gagasan Baru

Riset Bianca menunjukkan bahwa peluang inovasi pangan dapat muncul dari bahan yang sebelumnya dianggap sebagai hasil samping.

Melalui pengolahan dan penelitian, brewer’s spent grain menjadi bagian dari eksperimen pengembangan produk sosis di Jerman.

Lebih dari sekadar proyek akademik, perjalanan Bianca juga memperlihatkan pentingnya pengalaman lintas negara dan lintas disiplin bagi mahasiswa.

China, Jepang, dan Jerman memberinya ruang untuk mencoba pendekatan penelitian yang berbeda. Kini, pengalaman tersebut ingin ia bawa kembali untuk ikut mengembangkan industri pangan di Indonesia.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article