EDUCARE.CO.ID – Atlet Indonesia Sumaya mencatat debut berkesan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Baru sekitar dua tahun menekuni teqball, atlet asal Kabupaten Bengkalis, Riau, itu berhasil meraih medali perak nomor Women’s Singles.
Medali tersebut menjadi pencapaian penting bagi Sumaya sekaligus menambah koleksi medali Indonesia dari cabang olahraga teqball.
Berdasarkan sumber Kemenpora, perjalanan Sumaya menuju podium juga menarik perhatian. Sebelum beralih ke teqball, ia lebih dulu menekuni sepak takraw.
Berawal dari Sepak Takraw
Pengalaman sebagai atlet sepak takraw menjadi modal bagi Sumaya ketika mulai mengenal teqball. Keduanya sama-sama mengandalkan kemampuan mengontrol bola menggunakan bagian tubuh tertentu.
Namun, Sumaya menemukan sejumlah perbedaan yang membuat teqball terasa lebih menantang.
“Kebetulan sekali saya dulu adalah pemain sepak takraw. Perbedaan sepak takraw dan teqball itu dari segi sentuhannya. Kalau di takraw itu boleh sentuhannya seperti di kanan, kalau di teqball itu harus pakai paha, atau dada, kepala, tidak boleh dengan anggota tubuh yang sama,” kata Sumaya.
Selain teknik sentuhan, ukuran lapangan, karakter bola, dan aturan permainan juga berbeda.
“Lapangan juga berbeda, lebih kecil, bolanya lebih besar dan peraturannya juga lebih sulit. Itu yang membuat saya tertarik sama teqball dan juga lebih menantang,” sambungnya.
Latihan Tiga Kali Sehari
Sumaya tidak membutuhkan waktu lama untuk serius menekuni olahraga tersebut. Ia menjalani latihan intensif setiap hari untuk meningkatkan kemampuan dan beradaptasi dengan karakter permainan teqball.
Bagi atlet kelahiran 18 Agustus 2005 itu, latihan bahkan sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Saya terus berlatih. Hidup saya untuk teqball. Setiap hari, pagi, siang, dan sore,” ujar Sumaya.
Kerja keras tersebut kemudian membawanya tampil di panggung Asian Games untuk pertama kalinya.
Debut Asian Games Berakhir dengan Medali Perak
Pada final nomor Women’s Singles, Sumaya bertanding di Nagoya City Higashi Sports Center, Sabtu (19/9/2026).
Ia harus mengakhiri pertandingan dengan medali perak setelah melalui laga yang berlangsung sengit. Meski belum membawa pulang emas, Sumaya menilai dirinya telah memberikan kemampuan terbaik.
“Pertandingan kemarin sangat sengit, saya sudah melakukan yang terbaik, tapi kemenangan belum berpihak kepada saya,” tuturnya.
Bagi Sumaya, medali perak pada debut Asian Games menjadi pencapaian penting setelah perjalanan singkatnya di dunia teqball.
Medali Sumaya Jadi Motivasi untuk Atlet Indonesia
Sumaya berharap pencapaiannya dapat memacu semangat atlet Indonesia dari cabang olahraga lain yang masih berjuang di Asian Games 2026.
Ia ingin medali tersebut menjadi tambahan motivasi agar para atlet Merah Putih terus berusaha mempersembahkan hasil terbaik.
“Saya berharap medali perak ini mampu memberikan semangat dan motivasi kepada rekan-rekan atlet cabor lain agar lebih keras untuk menyumbangkan sebanyak-banyak medali untuk Indonesia,” katanya.
Sang Ayah Bangga dengan Perjuangan Sumaya
Prestasi Sumaya juga mendapat apresiasi dari sang ayah, Syafrudin. Ia mengaku bangga melihat putrinya mampu mencapai final dan membawa pulang medali untuk Indonesia.
Bagi Syafrudin, keberhasilan Sumaya menembus partai final sudah menjadi pencapaian yang patut diapresiasi.
“Saya merasa bangga sebagai orang tua Maya. Meski belum bisa menyumbangkan medali emas, saya sudah sangat merasa bangga karena dia sudah masuk final dan menyumbangkan medali perak,” ujar Syafrudin.
Dari Sepak Takraw ke Podium Asian Games
Perjalanan Sumaya menunjukkan bagaimana pengalaman dari satu cabang olahraga dapat menjadi modal untuk menekuni disiplin baru.
Hanya sekitar dua tahun berlatih teqball, ia sudah mampu mencapai final Asian Games dan membawa pulang medali perak.
Pencapaian tersebut sekaligus menjadi debut yang berkesan bagi Sumaya di panggung olahraga terbesar Asia. Perjalanan berikutnya akan menjadi kesempatan bagi atlet muda asal Bengkalis itu untuk terus mengembangkan kemampuan di cabang teqball.

