HUSKIVA BAG, Inovasi Mahasiswa UM yang Jaga Ikan Tetap Segar hingga 72 Jam

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menciptakan inovasi tas penyimpanan ikan bernama HUSKIVA BAG. Produk ini memanfaatkan sabut kelapa sebagai material insulasi termal untuk membantu menjaga kesegaran hasil tangkapan pemancing sport fishing.

Tim mahasiswa UM mengembangkan inovasi tersebut melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Ulfa Nur Azizah memimpin tim dalam pengembangan HUSKIVA BAG dengan pendampingan dosen Dyah Palupi Rohmiati, M.Pd.

Berdasarkan sumber rilis Universitas Negeri Malang, inovasi ini menggabungkan kebutuhan pemancing, pemanfaatan material lokal, dan konsep keberlanjutan dalam satu produk.

Berawal dari Masalah Penyimpanan Ikan saat Memancing

Tim HUSKIVA BAG melihat persoalan yang sering dihadapi pemancing sport fishing. Banyak pemancing membutuhkan wadah yang praktis untuk membawa hasil tangkapan sekaligus menjaga ikan tetap segar selama perjalanan.

Dalam satu perjalanan, pemancing rata-rata menghabiskan sekitar lima jam untuk beraktivitas. Mereka bahkan menggunakan sekitar empat jam waktu tersebut untuk memancing.

Durasi yang cukup panjang membuat ikan berisiko kehilangan kesegaran sebelum pemancing kembali ke daratan. Karena itu, tim UM mencari solusi penyimpanan yang mampu menjaga kualitas hasil tangkapan lebih lama.

Selanjutnya, tim melakukan survei kepada 187 responden dari 10 komunitas memancing. Hasilnya menunjukkan sejumlah persoalan yang sering muncul.

Responden mengeluhkan ikan yang cepat kehilangan kesegaran, bau amis, serta wadah penyimpanan yang kurang praktis untuk dibawa.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan HUSKIVA BAG.

Sabut Kelapa Jadi Material Utama Insulasi Termal

Tim memilih sabut kelapa sebagai salah satu material utama dalam sistem insulasi HUSKIVA BAG.

Sebelum digunakan, tim mengolah sabut kelapa melalui proses alkali treatment. Proses ini bertujuan meningkatkan kualitas serat sekaligus mendukung kemampuan insulasi termalnya.

Setelah itu, tim memadukan serat sabut kelapa dengan aluminium foil, kain parasut tempel, dan poliester 300D. Kombinasi tersebut membentuk sistem insulasi termal berlapis.

“Kami ingin menghadirkan wadah penyimpanan ikan yang tidak hanya praktis digunakan oleh pemancing, tetapi juga memiliki inovasi dari sisi material. Sabut kelapa kami manfaatkan sebagai bagian dari insulasi termal sehingga material tersebut memiliki nilai guna yang lebih tinggi,” ujar Ulfa.

Selain memilih material, tim juga mempelajari kebutuhan pengguna selama melakukan aktivitas sport fishing.

Karena itu, HUSKIVA BAG tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan ikan. Produk ini juga membantu pemancing membawa perlengkapan dengan lebih praktis.

Dirancang Ringan dan Memiliki Fitur Multifungsi

Tim mahasiswa UM merancang HUSKIVA BAG dengan konsep ringan, fleksibel, dan cocok untuk kegiatan luar ruangan.

Produk ini memiliki handle multifungsi, hook holder untuk menggantung perlengkapan, serta shoulder strap yang dapat pengguna sesuaikan.

Selain itu, bagian dalam tas menggunakan material kedap air. Fitur tersebut memudahkan pengguna membersihkan tas setelah menyimpan ikan dan es.

“Kami berusaha agar inovasi ini tidak berhenti pada fungsi penyimpanan saja. Dari sisi desain, kami juga mempertimbangkan bagaimana tas ini bisa dibawa dengan lebih mudah dan digunakan dalam aktivitas pemancingan,” tutur Ulfa.

Sistem insulasi termal berlapis menjadi salah satu keunggulan utama HUSKIVA BAG. Teknologi tersebut membantu menjaga kestabilan suhu penyimpanan sehingga ikan dapat tetap segar hingga 72 jam.

Tim menyediakan HUSKIVA BAG dalam dua pilihan ukuran.

Ukuran medium memiliki kapasitas 23 liter dengan dimensi 40 x 24 x 24 sentimeter. Sementara itu, ukuran besar memiliki dimensi 60 x 40 x 35 sentimeter.

Ubah Sabut Kelapa Menjadi Produk Bernilai Tambah

Melalui HUSKIVA BAG, tim mahasiswa UM juga ingin menunjukkan potensi sabut kelapa sebagai material inovatif.

Selama ini, masyarakat sering belum memanfaatkan sabut kelapa secara maksimal. Padahal, material tersebut memiliki peluang untuk berkembang menjadi berbagai produk fungsional.

Tim melihat peluang tersebut sebagai bagian penting dari pengembangan HUSKIVA BAG.

“Harapannya HUSKIVA BAG dapat menjadi alternatif bagi pemancing yang selama ini masih menggunakan berbagai jenis wadah penyimpanan yang kurang praktis. Kami juga ingin menunjukkan bahwa material seperti sabut kelapa masih dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna,” jelas Ulfa.

Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi bagi pemancing. HUSKIVA BAG juga membuka peluang pemanfaatan material lokal yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Sejalan dengan Konsep SDGs

Pengembangan HUSKIVA BAG juga berkaitan dengan konsep pembangunan berkelanjutan.

Tim mengaitkan inovasi tersebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Selain itu, produk ini juga relevan dengan SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Pemanfaatan sabut kelapa mendorong penggunaan sumber daya lokal secara lebih optimal. Pada saat yang sama, inovasi tersebut juga membuka peluang untuk mengurangi material yang berpotensi menjadi limbah.

Melalui pendekatan tersebut, tim menggabungkan inovasi teknologi, kebutuhan konsumen, dan prinsip keberlanjutan.

HUSKIVA BAG Raih Pendanaan PKM 2026

Inovasi HUSKIVA BAG membawa tim mahasiswa UM meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026.

Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyelenggarakan program tersebut untuk mendukung lahirnya berbagai inovasi mahasiswa.

Keberhasilan tersebut menjadi langkah awal bagi tim untuk mengembangkan HUSKIVA BAG lebih lanjut.

Melalui produk ini, Ulfa Nur Azizah dan tim menggabungkan inovasi material, kebutuhan pemancing, serta pemanfaatan sumber daya lokal.

Ke depan, tim berharap HUSKIVA BAG dapat terus berkembang menjadi produk yang bermanfaat bagi pemancing sport fishing.

Selain itu, inovasi ini juga menunjukkan bahwa material sederhana seperti sabut kelapa dapat berkembang menjadi produk fungsional dengan nilai ekonomi.

HUSKIVA BAG pun menjadi contoh bagaimana mahasiswa dapat mengubah persoalan sehari-hari menjadi inovasi yang menawarkan manfaat praktis sekaligus mendukung konsep keberlanjutan.

 

Penulis: Putri Faathimah Niara

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article