STEM Tak Harus Mahal! Kemendikdasmen Siapkan 3.272 Guru untuk Perkuat Pembelajaran

Must read

EDUCARE.CO.ID – Pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) terus mendapat perhatian dalam pengembangan pendidikan Indonesia. Kemendikdasmen kini memperkuat kompetensi guru agar pendekatan STEM semakin mudah diterapkan di sekolah.

Alih-alih mengandalkan fasilitas mahal, guru dapat mengajak murid belajar melalui berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut juga mengusung prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), penguatan kemampuan guru menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Program STEM Nasional.

Guru Jadi Penggerak Pembelajaran STEM

Kemendikdasmen melihat guru sebagai salah satu penggerak utama pembelajaran STEM. Sebab, guru perlu mengubah konsep yang kompleks menjadi pengalaman belajar yang mudah dipahami murid.

Karena itu, pemerintah terus mengembangkan berbagai program peningkatan kompetensi guru. Program tersebut juga mengacu pada prinsip Pembelajaran Mendalam dan pendekatan 5M.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan pemerintah menargetkan 3.272 guru untuk mengikuti proses pengimbasan melalui fasilitator daerah.

“Dengan implementasi terarah, pembelajaran STEM dengan prinsip 5M yang erat dengan kearifan lokal diharapkan dapat menjadi pengungkit mutu pembelajaran sekaligus mempersiapkan Generasi Emas bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujar Nunuk.

Dengan cara tersebut, guru tidak hanya mempelajari teori STEM. Mereka juga dapat mengembangkan cara mengajar yang relevan dengan kondisi murid dan lingkungan sekitar.

155 Fasilitator Nasional Ikut Diperkuat

Untuk memperluas penerapan STEM, Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional. Mereka mengikuti pelatihan melalui kerja sama dengan Monash University, SEAQIS, dan Korea National University of Education.

Selain pelatihan teknis, program pengembangan kompetensi juga mencakup micro-credential dan lokakarya lintas jenjang. Materi tersebut membantu guru memahami penerapan STEM secara lebih praktis.

Selanjutnya, para fasilitator dapat membagikan pengetahuan kepada guru lain di daerah masing-masing. Dengan pola pengimbasan tersebut, penerapan STEM dapat menjangkau lebih banyak sekolah.

Nunuk juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah dan mitra pendidikan.

“Sebagai wujud partisipasi semesta, dukungan Bupati Kudus beserta seluruh jajaran pemerintahan, para kepala dinas pendidikan, dan tentunya seluruh mitra pembangunan, termasuk Pusat Belajar Guru menjadi kunci Program STEM ini dapat berjalan dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan Indonesia,” tuturnya.

Guru Diajak Saling Berbagi Pengalaman

Penerapan STEM tidak berhenti pada pelatihan. Guru juga perlu saling berbagi pengalaman untuk menemukan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe, mengajak rekan-rekan pendidik terus mengasah kemampuan.

“Mari kita terus semangat belajar mengasah kemampuan dan saling menginspirasi bertukar pengalaman mengajar untuk memperkaya wawasan dan mencetak generasi unggul,” pesannya.

Sementara itu, guru TKIT Umar bin Khatab Annisa berharap Program STEM Nasional dapat memacu kreativitas guru. Menurutnya, guru perlu menghadirkan model belajar yang mampu menumbuhkan pola pikir kritis sejak anak usia dini.

Kudus Siapkan Penerapan Secara Bertahap

Dukungan terhadap Program STEM Nasional juga datang dari pemerintah daerah. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus Anggun Nugroho mengapresiasi langkah Kemendikdasmen tersebut.

Menurut Anggun, program ini menunjukkan perhatian terhadap perkembangan anak di sekolah. Karena itu, Kudus berencana menerapkannya secara bertahap di berbagai jenjang.

“Kami akan mengimplementasikan program ini secara bertahap di semua jenjang. Mungkin akan ada piloting satu atau dua sekolah terlebih dahulu sebelum pelaksanaan secara menyeluruh di Kudus. Kami juga siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk menerapkan STEM,” kata Anggun.

Tahap awal tersebut dapat menjadi ruang bagi sekolah untuk melihat kesiapan guru dan murid. Setelah itu, pemerintah daerah dapat memperluas penerapan program ke sekolah lainnya.

Jepara Dorong Pengimbasan Lewat Komunitas Guru

Dukungan serupa datang dari Kabupaten Jepara. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Jepara Adi Hananto berharap STEM dapat berkembang secara menyeluruh di daerahnya.

Adi melihat komunitas belajar guru atau kombel sebagai salah satu sarana untuk memperluas pengetahuan STEM. Melalui forum tersebut, guru dapat bertukar pengalaman dan membagikan praktik pembelajaran kepada rekan lainnya.

“Kami akan mendukung program ini melalui komunitas belajar (kombel) guru. Harapannya, mereka dapat mengimbaskan STEM ini kepada semua guru yang ada di Kabupaten Jepara,” ujar Adi.

Dengan demikian, pengembangan kompetensi guru tidak hanya berlangsung melalui pelatihan formal. Interaksi antarguru juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif.

STEM Ajak Anak Belajar dari Masalah Nyata

Pada dasarnya, STEM mengajak anak memahami persoalan melalui situasi nyata. Anak tidak sekadar menghafal rumus, tetapi belajar mencari tahu bagaimana sebuah konsep bekerja.

Misalnya, guru dapat mengambil contoh dari lingkungan sekitar. Benda di kelas, kondisi alam, permainan, hingga aktivitas sehari-hari dapat menjadi bahan pembelajaran.

Selain itu, guru dapat mengajak murid mengamati masalah, mengajukan pertanyaan, mencoba solusi, lalu melihat hasilnya. Proses tersebut membantu anak membangun kebiasaan berpikir kritis dan kreatif.

Pendekatan seperti ini juga membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan murid. Mereka dapat melihat hubungan antara materi pelajaran dan persoalan yang mereka temui setiap hari.

Prinsip 5M Bikin STEM Lebih Dekat

Prinsip Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful menjadi dasar penting dalam pendekatan STEM yang dikembangkan Kemendikdasmen.

Pertama, guru dapat memilih aktivitas yang mudah dilakukan. Selanjutnya, mereka tidak perlu selalu menggunakan alat berbiaya tinggi.

Pada saat yang sama, suasana belajar perlu membuat anak merasa senang. Guru juga perlu membantu murid memahami tujuan kegiatan agar pengalaman belajar terasa bermakna.

Dengan pendekatan tersebut, sekolah dapat mulai mengenalkan STEM melalui sumber daya yang sudah tersedia. Bahkan, lingkungan sekitar sekolah pun dapat menjadi ruang eksplorasi bagi murid.

“Berani Mencoba, Kreatif Mencipta”

Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran STEM tidak hanya bergantung pada fasilitas sekolah. Kompetensi guru, kreativitas, dukungan pemerintah daerah, serta kolaborasi antarpihak ikut menentukan penerapannya.

Karena itu, Kemendikdasmen terus mendorong guru untuk berani mencoba pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual. Murid pun mendapat ruang untuk bertanya, bereksperimen, mencari solusi, dan menciptakan sesuatu.

Semangat tersebut terangkum dalam slogan “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta.”

Melalui penguatan kompetensi guru dan kerja sama berbagai pihak, Program STEM Nasional diharapkan dapat memperluas pengalaman belajar yang kritis, kreatif, dan relevan bagi murid Indonesia.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article