Anak Krakatau Erupsi, Sekolah Terdampak Berat Diimbau PJJ oleh Mendikdasmen

Must read

EDUCARE.CO.ID – Erupsi Gunung Anak Krakatau turut memengaruhi kegiatan belajar di sejumlah wilayah terdampak. Untuk menjaga keselamatan warga sekolah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengimbau sekolah di wilayah terdampak berat menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Sekolah dapat menjalankan pembelajaran dari rumah melalui sistem daring. Jika kondisi memungkinkan, sekolah juga dapat memilih lokasi lain yang aman dengan memanfaatkan sarana pembelajaran daring.

“Di daerah yang terdampak berat, maka pembelajaran dapat dilaksanakan melalui pembelajaran di rumah melalui daring atau dilaksanakan di tempat tertentu yang aman melalui sarana pembelajaran yang daring atau PJJ,” ujar Abdul Mu’ti dalam Konferensi Pers Update Situasi Terkini Pasca Erupsi Gunung Anak Krakatau yang disiarkan melalui YouTube Badan Komunikasi (Bakom), Minggu (6/9/2026).

Berdasarkan keterangan Mendikdasmen dalam konferensi pers tersebut, pemerintah meminta satuan pendidikan menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi di lapangan.

Keselamatan Siswa Jadi Prioritas Utama

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sekolah tidak perlu memaksakan kegiatan belajar tatap muka ketika kondisi lingkungan belum aman. Keselamatan dan kesehatan murid, guru, serta seluruh warga sekolah harus menjadi pertimbangan utama.

“Kami pastikan keselamatan warga sekolah menjadi prioritas. Kami juga meminta sekolah terus mengikuti informasi dan kebijakan dari pihak berwenang,” kata Mu’ti.

Kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 Tahun 2019 tentang Satuan Pendidikan Aman Bencana. Pemerintah juga merujuk Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pembelajaran dalam Situasi Darurat.

Dengan dasar tersebut, sekolah memiliki ruang untuk menyesuaikan kegiatan pembelajaran ketika menghadapi kondisi darurat.

Pembelajaran Tetap Berjalan meski Situasi Darurat

Pemerintah tidak meminta sekolah menghentikan proses pendidikan. Sebaliknya, sekolah perlu memilih metode yang sesuai dengan tingkat risiko di wilayah masing-masing.

“Dalam situasi darurat, pembelajaran tetap dapat berjalan dengan mengutamakan perlindungan, keselamatan, serta kesehatan warga sekolah,” tegas Mu’ti.

Karena itu, sekolah dapat memanfaatkan pembelajaran daring ketika kondisi tidak memungkinkan untuk menggelar kegiatan tatap muka. Guru juga dapat menyesuaikan materi dengan kemampuan dan kondisi peserta didik selama masa darurat.

Selain menjaga proses belajar, Mu’ti meminta guru memberikan edukasi mengenai kesehatan kepada siswa. Materi tersebut dapat membantu anak memahami langkah yang perlu mereka lakukan selama kondisi erupsi berlangsung.

Jam Belajar Tidak Harus Mengikuti Jadwal Normal

Selain metode pembelajaran, sekolah juga dapat menyesuaikan durasi belajar. Pemerintah memberikan fleksibilitas agar sekolah tidak harus menjalankan seluruh jam pelajaran seperti pada kondisi normal.

“Nah, untuk lama dan jam belajar dapat disesuaikan. Jam belajar dapat disesuaikan sesuai dengan situasi dan kondisi, tidak harus dilaksanakan penuh sebagaimana jadwal kegiatan pembelajaran yang normal,” tutur Mu’ti.

Dengan fleksibilitas tersebut, sekolah dapat mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum menentukan jadwal. Guru juga dapat mengatur kembali beban pembelajaran agar siswa tetap memperoleh materi tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

Di tengah situasi tersebut, Mu’ti juga mengingatkan siswa agar tetap tenang dan mengikuti arahan dari pihak sekolah serta pemerintah.

Sekolah yang Tidak Terdampak Tetap Wajib Waspada

Sementara itu, sekolah yang berada di luar wilayah terdampak langsung masih dapat menjalankan pembelajaran tatap muka. Meski demikian, sekolah tetap perlu menerapkan protokol kesehatan.

Mu’ti meminta sekolah menggunakan masker dan menghindari kegiatan pembelajaran di luar kelas. Pihak sekolah juga perlu menutup pintu serta jendela ketika kondisi udara di sekitar sekolah membutuhkan perlindungan tambahan.

“Kemudian daerah yang tidak terdampak langsung, maka pembelajaran dapat tetap diselenggarakan di sekolah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, tidak melaksanakan kegiatan di luar kelas, menutup pintu, jendela, dan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan keselamatan bagi seluruh murid,” jelasnya.

Dengan demikian, kebijakan pembelajaran tidak berlaku sama untuk seluruh wilayah. Sekolah perlu menyesuaikan langkah berdasarkan kondisi dan informasi terbaru di daerah masing-masing.

Belum Ada Laporan Sekolah Rusak

Pemerintah juga memantau kondisi satuan pendidikan di wilayah yang berpotensi terdampak erupsi.

Berdasarkan laporan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Lampung, BPMP Banten, serta Satuan Pendidikan Aman Bencana, hingga konferensi pers tersebut belum ada laporan kerusakan infrastruktur sekolah.

“Disampaikan bahwa tidak ada korban jiwa dari kalangan murid maupun guru sebagai akibat dari erupsi itu, dan juga tidak ada sekolah yang dilaporkan rusak, baik rusak ringan maupun rusak berat,” jelas Mu’ti.

Meski belum ada laporan kerusakan sekolah, pemerintah tetap meminta satuan pendidikan mengikuti perkembangan situasi. Kondisi lingkungan dapat berubah sehingga sekolah perlu mengambil keputusan berdasarkan informasi terbaru dari pihak berwenang.

Sekolah Diminta Ikuti Informasi Resmi

Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sekolah perlu mengambil langkah yang fleksibel. Sekolah terdampak berat dapat mengalihkan pembelajaran ke rumah atau lokasi aman.

Sebaliknya, sekolah yang tidak terdampak langsung masih dapat menggelar pembelajaran tatap muka dengan menerapkan langkah perlindungan kesehatan.

Pada akhirnya, keselamatan tetap menjadi dasar utama dalam menentukan kegiatan belajar. Sekolah, guru, siswa, dan orang tua perlu mengikuti informasi resmi agar setiap keputusan sesuai dengan kondisi terkini.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article