EDUCARE.CO.ID – Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul mengajak remaja lebih mengenal emosi dan menjaga kesehatan jiwa sejak usia sekolah.
Berdasarkan sumber laman resmi Pemerintah Kabupaten Bantul, instansi tersebut menggelar Kampanye GERMAS Kesehatan Jiwa Anak Usia Sekolah dan Remaja di SMP Negeri 3 Bantul pada Rabu (23/9).
Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan “Sekolah Sehat Jiwa, Jaga Jiwa Jaga Raga”.
Mengusung tema “Aku, Kamu, dan Perasaanku”, kampanye tersebut mengajak siswa memahami emosi, membangun pertemanan sehat, dan memilih cara yang tepat saat menghadapi berbagai perasaan.
Siswa Mulai dengan Mengenali Perasaan
Programer Usia Sekolah dan Remaja Dinkes Bantul, Atika Nurul Haniyyah, membuka kegiatan dengan permainan mood check.
Aktivitas ini membantu siswa mengenali kondisi perasaan mereka sebelum mengikuti rangkaian edukasi.
Setelah itu, peserta mengikuti Mental Health Challenge. Permainan tersebut mengajak siswa mempelajari kesehatan jiwa dan hubungan pertemanan melalui aktivitas interaktif.
Cara belajar seperti ini membuat topik kesehatan jiwa terasa lebih dekat dengan kehidupan remaja.
Friendship Check Ajak Siswa Bedakan Green Flag dan Red Flag
Selanjutnya, siswa mengikuti permainan Friendship Check.
Lewat permainan tersebut, peserta belajar mengenali ciri pertemanan sehat atau green flag. Mereka juga belajar melihat perilaku yang perlu diwaspadai atau red flag.
Pertemanan sehat membutuhkan sikap saling menghargai. Remaja juga perlu mendengarkan teman dan memberikan dukungan.
Ketika muncul perbedaan pendapat, komunikasi tetap perlu berjalan dengan sopan.
Peserta kemudian mengikuti permainan What Would You Do?. Aktivitas ini melatih siswa menghadapi situasi sosial secara aman dan rasional.
Dinkes Bantul juga mengenalkan prinsip P3LP kepada peserta. Prinsip ini mengajak remaja memperhatikan perubahan perilaku atau emosi teman.
Selanjutnya, siswa belajar mendengarkan cerita teman dengan tenang tanpa menghakimi. Jika masalah membutuhkan bantuan lebih lanjut, mereka dapat menghubungkan teman dengan orang dewasa, guru BK, atau tenaga profesional.
Rewrite My Thought Ajarkan Pola Pikir Lebih Realistis
Sesi Rewrite My Thought membantu peserta mengenali pola pikir negatif.
Siswa kemudian belajar mengubah pikiran tersebut menjadi kalimat yang lebih realistis dan ramah terhadap diri sendiri.
Materi ini juga menanamkan pesan penting bahwa meminta bantuan bukan tanda kegagalan.
Sebaliknya, keberanian bercerita dan mencari dukungan dapat membantu seseorang menghadapi masalah dengan lebih baik.
Psikolog Bahas Emosi dan Kepercayaan Diri
Setelah permainan, psikolog Herlini Utari menyampaikan materi “Membangun Pertemanan Sehat, Percaya Diri, dan Mampu Mengelola Emosi”.
Materi tersebut membahas beberapa hal penting. Peserta belajar mengenali emosi, mengelola perasaan, membangun kepercayaan diri, dan menjaga hubungan pertemanan.
Herlini juga mengenalkan enam emosi dasar kepada siswa. Emosi tersebut meliputi senang, sedih, marah, takut, terkejut, dan jijik.
Setiap emosi dapat mendorong seseorang untuk bertindak. Emosi juga membantu seseorang berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain.
Karena itu, remaja perlu mengenali perasaan sebelum menentukan tindakan.
Pause-Think-Talk Bantu Remaja Mengelola Emosi
Dinkes Bantul mengenalkan metode Pause-Think-Talk/Express sebagai salah satu cara mengelola emosi.
Pada tahap Pause, siswa belajar berhenti sejenak dan mengatur napas.
Kemudian, tahap Think mengajak mereka mengenali perasaan, pikiran, serta pemicu emosi.
Setelah itu, tahap Talk/Express membantu siswa menentukan respons yang tepat. Mereka juga belajar menyampaikan perasaan secara aman.
Selain metode tersebut, peserta mempelajari beberapa teknik sederhana. Ada teknik relaksasi napas, grounding 5-4-3-2-1, dan teknik genggam jari.
Teknik tersebut dapat membantu remaja menenangkan diri ketika menghadapi situasi yang membuat mereka tertekan.
Remaja Belajar Menyalurkan Emosi secara Positif
Dinkes Bantul juga mengajak siswa menyalurkan emosi melalui aktivitas konstruktif.
Remaja dapat berolahraga ketika membutuhkan cara untuk melepaskan ketegangan.
Menulis jurnal juga dapat membantu mereka menuangkan pikiran dan perasaan. Selain itu, siswa dapat bernyanyi, beribadah, bercerita kepada orang yang dipercaya, membuat puisi, atau menari.
Pilihan aktivitas tersebut memberi ruang bagi remaja untuk mengekspresikan perasaan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Komunikasi Asertif Bantu Bangun Pertemanan Sehat
Dalam sesi berikutnya, peserta mengenal empat gaya komunikasi. Keempatnya terdiri atas pasif, pasif-agresif, agresif, dan asertif.
Dinkes Bantul menekankan komunikasi asertif sebagai salah satu keterampilan penting dalam membangun hubungan.
Komunikasi asertif memungkinkan seseorang menyampaikan pikiran dan perasaan dengan tegas serta jelas.
Pada saat yang sama, cara tersebut tetap menjaga kesopanan dan menghargai orang lain.
Kemampuan ini dapat membantu remaja menghadapi perbedaan pendapat tanpa harus mengabaikan perasaan sendiri ataupun orang lain.
KENALI, RAWAT, dan CERITAKAN
Dinkes Bantul kemudian merangkum pesan kampanye melalui tiga langkah sederhana, yaitu KENALI, RAWAT, dan CERITAKAN.
KENALI mengajak remaja memahami emosi, kebutuhan, serta batasan diri.
RAWAT mengingatkan siswa untuk menjaga kesehatan jiwa melalui kebiasaan positif.
Sementara itu, CERITAKAN mendorong remaja berbicara kepada orang yang mereka percaya ketika membutuhkan dukungan.
Tiga langkah tersebut membantu siswa memahami bahwa kesehatan jiwa membutuhkan perhatian dalam kehidupan sehari-hari.
My 3 Promises Tutup Rangkaian Edukasi
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan sesi My 3 Promises.
Peserta membuat tiga komitmen melalui bagian Untuk Diriku, Untuk Emosiku, dan Untuk Temanku.
Melalui bagian Untuk Diriku, siswa berkomitmen menghargai diri sendiri.
Pada bagian Untuk Emosiku, mereka berkomitmen mengelola perasaan dengan cara yang sehat.
Sementara itu, bagian Untuk Temanku mengajak siswa menjadi teman yang saling mendukung.
Dinkes Bantul Dekatkan Edukasi Kesehatan Jiwa dengan Remaja
Kampanye GERMAS Kesehatan Jiwa di SMP Negeri 3 Bantul menggunakan pendekatan yang dekat dengan keseharian remaja.
Permainan, diskusi, dan praktik membuat siswa tidak hanya menerima materi. Mereka juga dapat mencoba cara mengenali dan mengelola emosi.
Selain itu, peserta belajar membangun hubungan pertemanan yang sehat. Mereka juga memahami kapan harus mencari bantuan dari orang yang lebih dewasa atau tenaga profesional.
Melalui program ini, Dinkes Bantul terus mendorong sekolah menjadi ruang yang mendukung kesehatan jiwa siswa.
Edukasi sejak usia sekolah juga dapat membantu remaja mengenali kondisi emosional mereka lebih awal.
Pada akhirnya, pemahaman tentang emosi dan relasi sehat dapat menjadi bekal penting bagi remaja. Mereka dapat tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik dalam merawat diri dan membangun hubungan positif dengan lingkungan.
Penulis: Putri Faathiman Niara


