EDUCARE.CO.ID – Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan madrasah Aceh. Dua siswa MAN 1 Pidie berhasil meraih Juara 3 pada ajang World Robotic Competition Center (WRCC) 2026 di Selangor, Malaysia.
Kompetisi tersebut berlangsung pada 11–12 Agustus 2026 di University Putra Malaysia (UPM). Dua siswa yang mengharumkan nama Aceh tersebut adalah Askia Humaira dan Habibi Azzarrar dari MAN 1 Pidie, Tijue, Kabupaten Pidie.
Bersaing dengan Ribuan Peserta Asia
Panitia mencatat lebih dari 1.200 peserta dari berbagai negara Asia mengikuti WRCC 2026. Karena itu, persaingan berlangsung sangat ketat.
Meski demikian, Askia dan Habibi mampu menunjukkan kemampuan unggul pada bidang pemrograman, desain mekanik, dan sistem kontrol robotik. Hasilnya, mereka berhasil menembus podium Juara 3.
Kepala MAN 1 Pidie, Muhammad Thaifuri, S.Pd., M.Pd., menyampaikan rasa bangga atas capaian para siswanya.
“Alhamdulillah, di tengah persaingan yang sangat ketat, kedua siswa kami mampu menunjukkan kemampuan terbaik dan meraih Juara 3,” ujar Thaifuri.
Bukti Madrasah Mampu Bersaing Global
Menurut Thaifuri, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa madrasah mampu melahirkan talenta yang sanggup bersaing di tingkat internasional.
Selain itu, ia menilai prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi pelajar Aceh untuk terus berinovasi di bidang teknologi.
“Pencapaian ini menjadi motivasi besar bagi pelajar Aceh untuk terus mengembangkan kemampuan teknologi,” tambahnya.
Lolos Seleksi dan Dibina Intensif
Sebelum tampil di Malaysia, Askia dan Habibi terlebih dahulu melewati seleksi internal sekolah. Setelah itu, mereka mengikuti pembinaan intensif dan rutin mengikuti berbagai kompetisi robotik tingkat nasional.
Mereka juga mendapat pendampingan dari pelatih robotik Safri Ali. Pengalaman kompetisi sebelumnya kemudian menjadi bekal penting saat menghadapi tantangan internasional.
Robot Cerdas Jadi Andalan Tim Aceh
Pada kompetisi tersebut, Askia dan Habibi menampilkan robot dengan sistem kontrol cerdas. Robot itu mampu menyesuaikan diri dengan berbagai skenario pertandingan.
Karena kemampuan adaptasinya baik, dewan juri memberikan apresiasi tinggi terhadap karya tim Aceh. Apresiasi tersebut turut membantu mereka meraih posisi Juara 3.
Bangun Jejaring dan Semangat Kolaborasi
Selain lomba teknis, WRCC 2026 juga mendorong kolaborasi lintas budaya. Peserta dari berbagai negara dapat bertukar ide dan membangun jejaring internasional.
MAN 1 Pidie menilai pengalaman tersebut penting bagi pengembangan wawasan global siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga belajar bekerja sama dengan peserta dari negara lain.
Dapat Dukungan Kemenag dan Tokoh Daerah
Keberhasilan Askia dan Habibi mendapat dukungan dari berbagai pihak. Di antaranya Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie, serta sejumlah tokoh daerah.
Mereka menilai prestasi ini sebagai momentum penting bagi kemajuan pendidikan madrasah di Aceh.
Thaifuri berharap capaian tersebut menjadi awal dari prestasi yang lebih besar pada masa mendatang.
“Juara 3 bukan akhir perjalanan. Sebaliknya, ini adalah awal untuk terus berkembang dan meraih prestasi yang lebih tinggi,” tegasnya.
Melalui prestasi ini, dua siswa MAN 1 Pidie menunjukkan bahwa pelajar madrasah Indonesia mampu tampil kompetitif pada bidang robotik dan teknologi di panggung internasional.



