EDUCARE.CO.ID – Sebanyak 33 juta penduduk Indonesia telah mengikuti pemeriksaan kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026.
Hasil skrining tersebut menunjukkan temuan penting. Anak usia sekolah dan remaja mengalami gejala depresi serta kecemasan 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa dan lansia.
Data itu memberi gambaran lebih jelas mengenai kondisi kesehatan jiwa masyarakat Indonesia. Skrining nasional juga membantu pemerintah mengenali kelompok yang membutuhkan perhatian lebih cepat.
Berdasarkan sumber Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyampaikan data tersebut dalam sesi Mental Health Awareness. Antara melaporkan paparan itu pada Minggu (6/9/2026).
Benjamin mengatakan masalah kesehatan jiwa tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, sekitar 1 dari 7 orang hidup dengan gangguan jiwa.
Di Indonesia, prevalensi gangguan jiwa berada pada kisaran 10 hingga 17 persen di berbagai kelompok usia. Kondisi tersebut turut memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas masyarakat.
Remaja Usia 15-24 Tahun Paling Rentan
Data CKG menunjukkan kelompok usia 15 hingga 24 tahun memiliki prevalensi depresi tertinggi secara nasional.
Kelompok tersebut sebagian besar terdiri dari generasi Z. Karena itu, kondisi kesehatan jiwa anak muda menjadi salah satu perhatian penting dalam skrining nasional.
Survei berbasis sekolah juga menunjukkan perubahan pada indikator kesehatan mental pelajar. Persentase siswa yang pernah berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.
Angka percobaan mengakhiri hidup juga mengalami peningkatan. Persentasenya naik dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen dalam periode yang sama.
Kenaikan tersebut perlu mendapat perhatian serius dari keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial. Deteksi lebih awal dapat membantu seseorang memperoleh dukungan yang sesuai.
Anak Muda Makin Terbuka Membicarakan Kesehatan Jiwa
Kemenkes melihat peningkatan angka skrining dengan perspektif yang lebih luas. Kenaikan angka tidak selalu berarti kondisi kesehatan jiwa masyarakat semakin buruk.
Menurut Kemenkes, meningkatnya literasi kesehatan jiwa juga ikut memengaruhi hasil tersebut. Generasi muda kini lebih terbuka mengenali gejala yang mereka rasakan.
Mereka juga lebih berani membicarakan masalah kesehatan mental. Keterbukaan ini dapat membantu tenaga kesehatan melakukan penanganan lebih awal.
Karena itu, edukasi kesehatan jiwa memiliki peran penting. Masyarakat perlu memahami tanda-tanda masalah mental tanpa memberikan stigma kepada orang yang mengalaminya.
Layanan Kesehatan Jiwa Terus Bertambah
Pemerintah juga memperluas kapasitas layanan kesehatan jiwa di berbagai daerah.
Saat ini, Indonesia memiliki 6.549 puskesmas dan 1.450 rumah sakit yang menyediakan layanan kesehatan jiwa. Layanan tersebut mendapat dukungan dari 1.484 dokter spesialis jiwa dan 2.612 psikolog klinis.
Namun, jumlah tenaga profesional masih belum merata. Rasio psikiater nasional saat ini mencapai sekitar 1 psikiater untuk 200 ribu penduduk.
Rasio tersebut masih jauh dari standar ideal WHO. Organisasi tersebut menggunakan perbandingan sekitar 1 psikiater untuk 30 ribu penduduk sebagai acuan.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu memperkuat pemerataan layanan. Masyarakat di berbagai daerah juga membutuhkan akses bantuan yang mudah dan terjangkau.
Perempuan Lebih Banyak Mengalami Gangguan Jiwa
Data Kemenkes menunjukkan perbedaan kondisi kesehatan jiwa antara perempuan dan laki-laki.
Prevalensi gangguan jiwa pada perempuan mencapai 14,8 persen. Sementara itu, laki-laki berada pada angka 13 persen.
Namun, data kematian akibat bunuh diri menunjukkan pola berbeda. Catatan kepolisian sepanjang 2023 hingga 2025 menunjukkan bahwa laki-laki mencapai sekitar 80 persen dari kasus kematian akibat bunuh diri.
Kemenkes mengaitkan perbedaan tersebut dengan perilaku mencari bantuan. Perempuan cenderung lebih aktif mencari pertolongan medis ketika menghadapi masalah.
Sebaliknya, sebagian laki-laki dewasa masih menghadapi tekanan norma sosial untuk menyimpan masalah sendiri. Kondisi itu dapat membuat mereka lebih jarang mencari bantuan profesional.
Kemenkes juga menjelaskan bahwa sebagian laki-laki memilih tindakan yang lebih fatal ketika menghadapi krisis. Karena itu, lingkungan terdekat perlu peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi emosional.
Kemenkes Kenalkan Empat Langkah Membantu Orang Terdekat
Kemenkes mendorong masyarakat ikut berperan dalam menjaga kesehatan jiwa. Upaya tersebut tidak harus selalu datang dari tenaga medis.
Kemenkes menggaungkan empat langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, yaitu bertanya, mendengarkan, menemani, dan menghubungkan.
Pertama, seseorang dapat bertanya mengenai kondisi orang yang sedang mengalami masalah. Selanjutnya, dengarkan ceritanya tanpa menghakimi.
Langkah berikutnya adalah menemani agar orang tersebut tidak menghadapi situasi sulit seorang diri. Jika membutuhkan penanganan lebih lanjut, bantu menghubungkannya dengan tenaga profesional.
Pendekatan ini membuat kepedulian terhadap kesehatan jiwa menjadi tanggung jawab bersama. Keluarga, teman, guru, rekan kerja, dan lingkungan sekitar dapat mengambil peran.
Healing119.id Layani Ribuan Klien Setiap Bulan
Kemenkes juga menyediakan dukungan melalui layanan digital healing119.id.
Layanan tersebut telah menerima akses dari sekitar 220 ribu klien sejak Juli 2025 hingga Juni 2026. Jumlah tersebut setara dengan rata-rata sekitar 19 ribu klien setiap bulan.
Dari keseluruhan klien, sekitar 2.400 orang menyatakan keinginan untuk mengakhiri hidup. Tim kemudian memberikan penanganan intensif secara daring kepada mereka.
Kehadiran layanan digital membuka jalur bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan. Namun, layanan tersebut tetap menjadi bagian dari sistem dukungan dan bukan pengganti seluruh layanan kesehatan jiwa.
Edukasi Kesehatan Jiwa Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Selain memperluas skrining, Kemenkes memperkuat edukasi preventif melalui penerbitan Buku Saku Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis.
Materi tersebut menyasar berbagai lingkungan. Sekolah, kampus, tempat kerja, serta keluarga dapat memanfaatkannya sebagai bahan edukasi.
Khusus bagi orang tua, pemahaman mengenai kesehatan jiwa dapat membantu mereka mengenali perubahan perilaku anak. Sekolah juga dapat menjadi ruang aman bagi siswa untuk bercerita dan mencari dukungan.
Langkah tersebut penting karena masalah kesehatan jiwa tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari sambil menghadapi tekanan emosional yang berat.
Skrining Nasional Buka Jalan untuk Penanganan Lebih Dini
Program CKG memberikan gambaran yang semakin luas mengenai kondisi kesehatan jiwa masyarakat Indonesia. Data tersebut sekaligus membantu pemerintah mengenali kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar.
Anak dan remaja menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan dapat bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi mereka.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan jiwa. Membicarakan kondisi mental bukan tanda kelemahan.
Semakin cepat seseorang memperoleh dukungan, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan bantuan yang sesuai. Karena itu, penguatan skrining, edukasi, dan akses layanan kesehatan jiwa perlu berjalan bersama.
Penulis: Putri Faathiman Niara


