EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi meluncurkan Mahasiswa Berdampak: Program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa) Tahun Anggaran 2026 pada Senin (20/7/2026). Program ini mendorong mahasiswa berkontribusi langsung dalam menyelesaikan persoalan masyarakat melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Program Aksara Mahasiswa mempertemukan mahasiswa, dosen, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam satu kolaborasi. Bersama-sama, mereka merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memberi manfaat jangka panjang.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, ilmu pengetahuan akan memberi manfaat lebih besar ketika mampu menjawab persoalan nyata.
“Perubahan mulai tumbuh ketika mahasiswa bersedia hadir, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, lalu bekerja bersama masyarakat. Itulah semangat yang ingin kita kuatkan melalui Diktisaintek Berdampak dan Program Mahasiswa Berdampak,” ujar Brian.
Program Melanjutkan Keberhasilan Tahun Sebelumnya
Kemdiktisaintek mengembangkan Program Aksara Mahasiswa sebagai penguatan dari Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (PM-BEM).
Pada 2025, program tersebut menerima 957 proposal dari berbagai perguruan tinggi. Selanjutnya, Kemdiktisaintek menetapkan 263 proposal dari 199 perguruan tinggi sebagai penerima pendanaan.
Memasuki 2026, kementerian juga melibatkan lebih dari 10 ribu mahasiswa dalam program pemulihan masyarakat yang terdampak bencana. Oleh karena itu, pemerintah memperluas ruang pengabdian mahasiswa melalui Program Aksara Mahasiswa.
Hadir dengan Dua Skema Utama
Pada 2026, Program Aksara Mahasiswa menawarkan dua skema utama, yaitu Aksara Peduli dan Aksara Sirkular.
Aksara Peduli berfokus pada penyelesaian berbagai persoalan di sektor pangan, energi, kesehatan, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, ekonomi biru, serta kebutuhan lain yang sesuai dengan kondisi daerah.
Sementara itu, Aksara Sirkular mendorong masyarakat mengelola sampah sejak dari sumbernya. Program ini mencakup edukasi, pemilahan sampah, penerapan teknologi, penguatan TPS 3R dan bank sampah, penguatan kelembagaan, hingga pengembangan ekonomi sirkular.
Kemdiktisaintek menjalankan kedua skema tersebut selama enam bulan. Selama pelaksanaan, mahasiswa memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
Mahasiswa Belajar Sambil Memberikan Dampak
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana, menjelaskan bahwa Program Aksara Mahasiswa menjadi ruang belajar yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Organisasi kemahasiswaan melaksanakan program tersebut dengan pendampingan dosen. Selain itu, pemerintah daerah dan masyarakat ikut berperan sebagai mitra sejak proses identifikasi masalah, penyusunan solusi, pelaksanaan program, evaluasi, hingga penyusunan rencana keberlanjutan.
“Program ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang dimilikinya dalam menghadirkan solusi atas berbagai permasalahan di masyarakat,” ujar I Ketut Adnyana.
Brian Yuliarto juga mendorong perguruan tinggi agar mengakui keterlibatan mahasiswa dalam program pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Melalui Program Aksara Mahasiswa 2026, Kemdiktisaintek berharap mahasiswa tidak hanya mengembangkan kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan kemampuan berkolaborasi. Lebih dari itu, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan ilmu pengetahuan secara nyata untuk menghadirkan perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat.




