EDUCARE.CO.ID – Rasa pahit menjadi ciri khas pare. Namun, di balik rasa tersebut, sayuran bernama latin Momordica charantia ini mengandung berbagai zat gizi dan senyawa yang bermanfaat bagi tubuh.
Pare dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Sejumlah orang mengonsumsinya untuk membantu menjaga kadar gula darah, kolesterol, berat badan, dan daya tahan tubuh.
Di Indonesia, masyarakat biasa mengolah pare dengan berbagai cara. Ada yang merebusnya, menumisnya, atau mencampurkannya ke dalam masakan.
Meski begitu, manfaat pare tidak berarti menggantikan pengobatan medis. Beberapa khasiatnya juga masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Kandungan Nutrisi Pare yang Perlu Diketahui
Pare memiliki kandungan serat yang cukup tinggi. Sayuran ini juga menyediakan sejumlah makronutrien, seperti karbohidrat, protein, dan lemak.
Selain itu, pare mengandung beberapa vitamin dan mineral penting. Kandungan tersebut mencakup vitamin A, vitamin C, folat, serta zat besi.
Pare juga menyimpan senyawa antioksidan. Beberapa di antaranya berupa flavonoid, fenol, dan isoflavon.
Antioksidan membantu tubuh melawan radikal bebas. Karena itu, konsumsi sayuran yang kaya antioksidan dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan.
Sejak lama, masyarakat juga memanfaatkan pare dalam pengobatan tradisional. Mereka menggunakannya untuk berbagai keluhan, termasuk diabetes, asam urat, radang usus besar, dan batu ginjal.
Namun, penggunaan pare sebagai pengobatan tetap perlu memperhatikan bukti ilmiah dan kondisi kesehatan masing-masing.
5 Manfaat Pare bagi Kesehatan
Kandungan gizi dan senyawa aktif membuat pare menarik untuk dikonsumsi. Berikut beberapa manfaat yang sering dikaitkan dengan sayuran pahit ini.
1. Membantu Menjaga Kadar Gula Darah
Pare memiliki senyawa yang dapat memengaruhi metabolisme glukosa. Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi pare dalam membantu mengontrol kadar gula darah.
Beberapa senyawa dalam pare diduga dapat mendukung kerja insulin. Insulin sendiri membantu tubuh mengolah glukosa menjadi energi.
Namun, penderita diabetes tidak boleh menjadikan pare sebagai pengganti obat atau terapi dari dokter. Penelitian mengenai efektivitas dan keamanan pare untuk mengontrol gula darah masih terus berkembang.
2. Membantu Mengontrol Kolesterol
Pare juga memiliki potensi untuk membantu menjaga kadar kolesterol.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa ekstrak pare dapat memengaruhi kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat. Kandungan serat, kalium, dan antioksidan turut mendukung pola makan yang baik bagi kesehatan jantung.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu menjaga pola makan secara keseluruhan. Konsumsi pare saja tidak cukup untuk mencegah penyakit jantung.
3. Memiliki Potensi Melawan Sel Kanker
Kandungan antioksidan membuat pare turut menarik perhatian dalam penelitian terkait kanker.
Sejumlah studi menemukan bahwa senyawa dalam pare berpotensi menghambat pertumbuhan sel kanker. Penelitian tersebut mencakup beberapa jenis kanker, seperti kanker lambung, usus besar, paru-paru, dan payudara.
Namun, sebagian besar bukti masih berasal dari penelitian laboratorium atau tahap awal. Karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap pare sebagai obat kanker.
Peneliti masih membutuhkan studi lebih lanjut untuk mengetahui manfaat tersebut pada manusia.
4. Memiliki Potensi Antivirus
Beberapa penelitian juga menemukan aktivitas antivirus pada senyawa tertentu dalam pare.
Temuan tersebut membuat pare menarik untuk diteliti sebagai bahan yang berpotensi membantu melawan infeksi virus. Beberapa penelitian bahkan pernah mengaitkannya dengan virus HIV.
Namun, klaim tersebut belum cukup kuat untuk menjadi dasar pengobatan. Masyarakat tetap perlu mengikuti terapi medis yang telah terbukti secara klinis.
5. Membantu Menjaga Berat Badan
Pare dapat menjadi pilihan sayuran bagi orang yang sedang menjaga berat badan.
Sayuran ini relatif rendah kalori dan lemak. Di sisi lain, kandungan seratnya dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Efek tersebut dapat membantu seseorang mengontrol asupan makanan. Namun, hasil penurunan berat badan tetap bergantung pada pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan kebiasaan hidup secara keseluruhan.
Cara Mengurangi Rasa Pahit Pare
Rasa pahit sering membuat sebagian orang enggan mengonsumsi pare. Padahal, ada cara sederhana untuk mengurangi rasa tersebut.
Salah satunya dengan merendam pare dalam air garam selama sekitar 30–45 menit sebelum memasaknya.
Setelah itu, bilas pare dengan air bersih. Anda kemudian bisa mengolahnya sesuai selera, misalnya dengan menumis atau merebusnya.
Pilih pare yang masih segar agar kualitas bahan makanan tetap terjaga.
Jangan Lupakan Pola Hidup Sehat
Mengonsumsi pare tidak otomatis membuat tubuh menjadi sehat. Anda tetap perlu membangun kebiasaan yang seimbang.
Rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, minum cukup air, dan tidur yang cukup dapat mendukung kesehatan tubuh.
Bagi penderita penyakit tertentu, konsumsi pare juga perlu mendapat perhatian. Terutama bagi mereka yang rutin mengonsumsi obat untuk mengontrol gula darah atau kondisi kesehatan lainnya.
Jika Anda ingin menggunakan pare untuk membantu menangani kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi.
Dengan begitu, Anda dapat menyesuaikan jenis makanan dan jumlah konsumsinya dengan kebutuhan tubuh.
Pada akhirnya, pare memang memiliki rasa yang khas dan pahit. Namun, kandungan serat, vitamin, mineral, serta antioksidannya membuat sayuran ini tetap menarik sebagai bagian dari menu sehari-hari.
Penulis: Putri Faathiman Niara


