Mahasiswa UMS Raih Silver Medal WICE 2026 Berkat Inovasi Green Accounting

Must read

EDUCARE.CO.ID – Sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan inovasi digital untuk membantu perusahaan memantau kondisi lingkungan sekaligus memperkuat pelaporan keberlanjutan.

Mereka mengembangkan EnviroChain, platform yang menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT) dan blockchain untuk mendukung penerapan green accounting serta pemantauan lingkungan secara real-time.

Inovasi bertajuk “EnviroChain: Optimizing Blockchain and IoT-Based Green Accounting Records in Sensitive Industrial Sectors in Indonesia” tersebut berhasil meraih Silver Medal dalam 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di SEGi University, Malaysia.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), WICE 2026 berlangsung melalui rangkaian kompetisi daring dan luring. Tahap luring berlangsung pada 20–24 September 2026.

EnviroChain Berangkat dari Masalah Pelaporan Lingkungan

Ketua Tim EnviroChain, Heilin Alber Siva Haryoko, menjelaskan bahwa timnya melihat adanya jarak antara kebijakan keberlanjutan perusahaan dengan kondisi lingkungan dalam kegiatan operasional.

Menurut Heilin, perusahaan membutuhkan lebih dari sekadar laporan keberlanjutan. Perusahaan juga memerlukan sistem yang dapat menyediakan data lingkungan secara aktual dan berkelanjutan.

“Ide pengembangan EnviroChain berawal dari persoalan adanya kesenjangan antara kebijakan formal perusahaan dengan praktik operasional di lapangan. Kami melihat bahwa perusahaan tidak hanya membutuhkan laporan keberlanjutan, tetapi juga sistem yang dapat membantu memastikan data lingkungan berasal dari kondisi aktual dan dapat dipantau secara berkelanjutan,” ujar Heilin, Jumat (2/10/2026).

Dari persoalan tersebut, tim mengembangkan EnviroChain sebagai platform pelaporan lingkungan yang menggabungkan perangkat IoT dengan teknologi blockchain.

Sensor IoT Pantau Kondisi Lingkungan Secara Real-Time

EnviroChain menggunakan sensor IoT untuk mengumpulkan data dari berbagai parameter lingkungan.

Sensor tersebut dapat memantau emisi CO₂, NOx, SO₂, partikulat, pH air limbah, suhu, hingga kandungan logam berat.

Sensor mengirimkan data hasil pemantauan ke server untuk diproses dan dicatat dalam sistem. Dengan mekanisme tersebut, pengguna dapat memperoleh gambaran kondisi lingkungan berdasarkan data yang dikumpulkan secara langsung.

Tim juga menggunakan permissioned blockchain Hyperledger Fabric untuk memperkuat transparansi pencatatan.

Sistem menerapkan cryptographic hash dalam proses pencatatan data. Sebelum masuk ke distributed ledger, data menjalani proses validasi.

Mekanisme tersebut membantu menjaga riwayat pencatatan agar lebih sulit diubah tanpa jejak.

Ada Dashboard dan AI Consultant

EnviroChain tidak hanya mengumpulkan data lingkungan. Platform tersebut juga mengolah data agar lebih mudah dipahami dan digunakan perusahaan.

Salah satu fiturnya adalah Real-Time Environmental Dashboard. Fitur ini menampilkan hasil pemantauan sensor melalui grafik interaktif sehingga pengguna dapat melihat perubahan kondisi lingkungan.

Tim juga mengembangkan fitur AI Consultant. Fitur tersebut membantu menganalisis tren emisi dan konsumsi energi.

Hasil analisis kemudian dapat menjadi dasar untuk menyusun rekomendasi terkait efisiensi energi, optimalisasi proses operasional, serta strategi pengurangan emisi.

Green Leaderboard dan ESG Reporter Lengkapi Platform

EnviroChain juga membawa fitur Green Leaderboard untuk menampilkan kinerja lingkungan perusahaan berdasarkan data yang telah melalui proses validasi.

Selain itu, terdapat ESG Reporter yang membantu perusahaan mengolah data menjadi laporan keberlanjutan.

Sistem tersebut mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI) dan POJK 51/2017.

Tim mengintegrasikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui tiga pendekatan. Pertama, pemantauan kondisi lingkungan. Kedua, transparansi pencatatan data. Ketiga, penyediaan akses informasi mengenai kinerja lingkungan.

Dengan pendekatan tersebut, EnviroChain tidak hanya menempatkan data sebagai bahan laporan. Tim juga ingin mendorong perusahaan menggunakan data lingkungan untuk memperbaiki proses operasional.

Mahasiswa Lintas Jurusan Kembangkan EnviroChain

Pengembangan EnviroChain melibatkan mahasiswa dari beberapa bidang keilmuan di UMS.

Tim terdiri dari Heilin Alber Siva Haryoko dan Fauzan Muhammad Ihsan dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Kemudian ada Alhimnie Rusydie dari Teknik Informatika, Fakultas Komunikasi dan Informatika, serta Muhammad Yusuf Ridho dari Teknik Industri, Fakultas Teknik UMS.

Dosen pembimbing Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA., turut mendampingi proses pengembangan inovasi tersebut.

Menurut Heilin, kolaborasi lintas disiplin membantu tim melihat persoalan dari berbagai sudut.

“Kolaborasi lintas disiplin menjadi bagian penting dalam pengembangan EnviroChain. Dari Manajemen, kami melihat persoalan dari sisi green accounting, ESG, dan pelaporan lingkungan,” jelas Heilin.

Tim dari bidang teknologi kemudian mengembangkan aspek sistem. Sementara itu, mahasiswa Teknik Industri membantu menghubungkan solusi dengan proses dan kebutuhan di lingkungan industri.

Lolos Seleksi hingga Raih Silver Medal

Fauzan Muhammad Ihsan mengatakan tim tidak hanya fokus pada sisi teknologi. Mereka juga berupaya memastikan EnviroChain dapat menjawab kebutuhan nyata di dunia industri.

Sebelum tampil di hadapan dewan juri internasional, tim melewati proses seleksi dan memperoleh Letter of Acceptance (LoA).

Tim kemudian mempresentasikan inovasi EnviroChain di hadapan juri WICE 2026. Respons positif dari dewan juri mengantarkan inovasi tersebut meraih Silver Medal pada sesi awarding.

Bagi tim, penghargaan tersebut menjadi dorongan untuk melanjutkan pengembangan EnviroChain di luar ajang kompetisi.

“Kami berharap EnviroChain tidak berhenti sebagai sebuah inovasi dalam kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Fauzan.

Ia berharap EnviroChain dapat membantu perusahaan menggunakan data lingkungan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pelaporan. Data tersebut juga dapat menjadi dasar untuk melakukan perbaikan nyata dalam kegiatan operasional.

Dengan menggabungkan IoT, blockchain, green accounting, dan ESG, mahasiswa UMS mencoba menghadirkan pendekatan digital untuk menjawab kebutuhan transparansi serta pemantauan lingkungan di sektor industri.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article