Dosen Polije Ciptakan AI yang Bisa Tebak Kematangan Durian Tanpa Dibelah

Must read

EDUCARE.CO.ID – Dosen Program Studi Teknologi Industri Pangan Politeknik Negeri Jember (Polije), Aulia Brilliantina, mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mendeteksi tingkat kematangan durian Monthong tanpa harus membelah buah. Inovasi tersebut membantu petani menentukan kualitas durian secara lebih akurat sekaligus menjaga mutu hasil panen.

Berdasarkan sumber rilis Politeknik Negeri Jember (Polije), teknologi ini lahir dari riset doktoral Aulia di Program Studi S3 Ilmu Pertanian Universitas Jember (UNEJ). Penelitian tersebut menggabungkan ilmu fisiologi pascapanen, teknologi sensor, machine learning, dan pemodelan sistem.

AI Membaca Aroma, Suhu, dan Bunyi Durian

Aulia merancang teknologi AI dengan memanfaatkan tiga indikator utama, yaitu aroma, suhu permukaan, dan bunyi hasil ketukan pada durian. Sistem kemudian mengolah seluruh data tersebut untuk menentukan tingkat kematangan buah secara akurat.

Selanjutnya, algoritma machine learning mengelompokkan buah ke dalam tiga kategori, yaitu belum matang, setengah matang, dan matang.

Pendekatan ini membantu petani melakukan penyortiran secara lebih objektif tanpa merusak buah.

Akurasi Mencapai Hampir 97 Persen

Aulia menguji sistem tersebut menggunakan 90 buah durian Monthong.

Hasil pengujian menunjukkan metode Neural Network mampu mencapai tingkat akurasi 96,91 persen dengan nilai AUC 0,98. Penelitian itu juga menemukan bahwa sensor gas menjadi indikator paling akurat dalam mengenali tingkat kematangan durian.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi AI berpotensi meningkatkan ketepatan proses panen dan penyortiran hasil produksi.

Bantu Petani Atur Distribusi

Selain mendeteksi kematangan buah, Aulia juga mengembangkan model prediksi mutu dan umur simpan durian berdasarkan suhu penyimpanan.

Model tersebut membantu petani, pengepul, hingga pelaku usaha menentukan waktu distribusi yang paling tepat sehingga kualitas buah tetap terjaga saat sampai ke konsumen.

Menurut Aulia, teknologi ini hadir sebagai alat pendukung, bukan pengganti pengalaman petani.

“Teknologi ini bukan untuk menggantikan pengalaman petani, tetapi menjadi alat bantu agar keputusan panen dan penyortiran dapat dilakukan secara lebih konsisten,” kata Aulia.

Aulia Kembangkan Perangkat AI yang Lebih Praktis

Selain mengembangkan teknologi AI, Aulia juga mempublikasikan hasil penelitiannya di tiga jurnal internasional bereputasi. Salah satu artikelnya terbit di Scientific Reports, jurnal bereputasi Q1 yang berada di bawah Nature Portfolio.

Ke depan, Aulia berharap industri memanfaatkan inovasi tersebut untuk mendukung penanganan pascapanen durian. Ia juga berupaya mengembangkan perangkat yang lebih ringkas agar petani dapat menggunakannya langsung di kebun maupun rumah pengemasan.

“Hasil penelitian doktoral perlu dikomunikasikan dan dikembangkan agar memberi manfaat nyata bagi petani, konsumen, serta industri durian,” tutupnya.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article

spot_img