DeepBIM Pangkas Clash hingga 84,22 Persen, Tiga Mahasiswa ITB Sabet Juara 1 WBBC 2026

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tiga mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih Juara 1 Wiratman BIM Competition (WBBC) 2026 lewat inovasi DeepBIM berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Tim bernama BIMaxxing itu terdiri dari Ignacio Kevin Alberiann, Hilmi Nufal Azizi, dan Asybel Bintang. Mereka memenangkan kompetisi yang berlangsung di Jakarta pada 15 Juli 2026.

DeepBIM menawarkan pendekatan baru untuk meningkatkan kualitas proses Building Information Modeling (BIM). Tim mengembangkan teknologi ini sebagai kerangka quality assurance yang membantu mengaudit informasi model sekaligus menghubungkan model bangunan dengan data biaya.

DeepBIM Pangkas Konflik Model hingga 84,22 Persen

Tim BIMaxxing menguji DeepBIM pada proyek Lattice Hotel Summarecon Gedebage. Dalam proses koordinasi model, sistem tersebut membantu menyelesaikan clash atau konflik antarelemen hingga 84,22 persen.

Ribuan titik konflik dalam model pun dapat tim pangkas menjadi hanya ratusan. Hasil tersebut menunjukkan peluang AI untuk membantu arsitek, perencana, dan pelaku industri konstruksi membangun alur kerja yang lebih efisien.

DeepBIM memiliki dua lapisan utama. Lapisan pertama bertugas mengaudit kepatuhan informasi dalam model. Lapisan kedua menghadirkan AI agent yang menghubungkan model Revit dengan data biaya melalui bahasa alami.

Dengan pendekatan itu, pengguna dapat berinteraksi dengan data model tanpa harus selalu melakukan proses manual yang rumit.

“Kami ingin menguji apakah gagasan yang kami kembangkan, yaitu mengintegrasikan alur kerja BIM dengan lapisan kecerdasan buatan, bisa bertahan di forum kompetitif nasional, bukan hanya di ruang studio,” ujar Ignacio.

Tiga Mahasiswa Bagi Peran Sesuai Keahlian

Ketiga anggota BIMaxxing membagi tanggung jawab berdasarkan keahlian masing-masing. Ignacio memimpin tim sekaligus menangani penalaran struktur dan Mechanical, Electrical, and Plumbing (MEP).

Hilmi berfokus pada desain dan lanskap. Sementara itu, Asybel menangani BIM dan aspek teknologi.

Komposisi tim yang hanya terdiri dari tiga orang membuat setiap anggota harus mampu mengerjakan lebih dari satu peran. Mereka pun perlu menjaga koordinasi agar pengembangan DeepBIM tetap berjalan sesuai target.

Menurut tim, DeepBIM tidak sekadar memanfaatkan fitur AI yang sudah tersedia. Mereka membangun sistem dengan menggabungkan auditor kepatuhan model dan AI agent yang mampu bekerja lintas sumber data.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda gagasan BIMaxxing dalam kompetisi.

Dosen Bantu Pertajam Konsep DeepBIM

Dalam persiapan menghadapi WBBC 2026, tim BIMaxxing mendapat pendampingan dari dosen pembimbing Ir. Fauzan Alfi Agirachman, S.T., M.T., Ph.D. yang memiliki keahlian di bidang BIM.

Pendampingan tersebut membantu tim mempertajam konsep sekaligus memastikan gagasan mereka tetap logis dan kredibel saat menghadapi juri.

Saat tim terlalu larut dalam persoalan teknis, arahan dosen membantu mereka kembali melihat tujuan besar kompetisi. Proses asistensi berlangsung sejak pengembangan konsep hingga persiapan menuju tahap final.

Bagi BIMaxxing, masukan dari pembimbing tidak hanya membantu menyempurnakan teknologi. Pendampingan juga membuat mereka lebih siap menjelaskan alasan, manfaat, dan hasil penerapan DeepBIM.

BIM Execution Plan Jadi Panduan Pengerjaan

Tim BIMaxxing juga menekankan pentingnya BIM Execution Plan (BEP) dalam mengerjakan proyek berbasis BIM.

Menurut mereka, tim perlu menentukan pembagian kerja, workflow, target, serta hasil akhir sejak awal. BEP kemudian menjadi panduan selama proses pengembangan proyek hingga tahap kompetisi.

Perencanaan tersebut membantu setiap anggota memahami tanggung jawab masing-masing. Dengan begitu, proses pengerjaan dapat berjalan lebih terarah meskipun tim hanya beranggotakan tiga mahasiswa.

BIMaxxing Ajak Mahasiswa Berani Uji Ide

Kemenangan dalam WBBC 2026 membuat tim BIMaxxing ingin mendorong mahasiswa lain agar tidak menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk mengikuti kompetisi.

Menurut Ignacio, keberanian menguji ide dan membuktikannya melalui data menjadi bagian penting dari proses tersebut.

“Jangan menunggu merasa ‘cukup siap’ untuk ikut. Kalau kalian punya ide yang terasa terlalu ambisius, kejar dan siapkan bukti yang selaras untuk menopangnya. Keunikan sudut pandang kalian sering kali justru menjadi senjata terkuat, bukan kelemahan,” ujar Ignacio.

Bagi mereka, gagasan yang terlihat ambisius tetap memiliki peluang berkembang selama tim mampu menunjukkan bukti dan alasan yang kuat.

AI Buka Peluang Baru untuk Dunia Arsitektur

Keberhasilan BIMaxxing menunjukkan bahwa mahasiswa arsitektur tidak hanya dapat menggunakan teknologi BIM sebagai alat bantu desain. Mereka juga dapat mengembangkan teknologi untuk memperbaiki proses kerja di bidang arsitektur dan konstruksi.

Melalui DeepBIM, tim BIMaxxing menggabungkan BIM, AI, data biaya, dan proses quality assurance dalam satu alur kerja. Pendekatan tersebut membuka peluang penggunaan teknologi yang lebih luas dalam koordinasi proyek dan pengelolaan informasi bangunan.

Prestasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi teknologi dapat lahir dari lingkungan pendidikan. Ketika mahasiswa berani menguji gagasan, mengolah data, dan mengembangkan solusi, ruang kompetisi dapat menjadi tempat untuk membawa ide dari studio menuju penerapan yang lebih nyata.

 

Penulis: Andini Namira Saskirana

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article