Bukan Cuma Bikin Rileks, Pijat Refleksi Diteliti Mahasiswa UNAIR untuk Atasi Sembelit

Must read

EDUCARE.CO.ID – Sembelit atau konstipasi dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa tidak nyaman. Kondisi ini membuat seseorang sulit buang air besar atau merasa prosesnya tidak tuntas.

Konstipasi juga dapat muncul bersama feses yang keras dan frekuensi buang air besar yang rendah. Pola makan rendah serat, kurang minum, dan minim aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko kondisi tersebut.

Perubahan hormon juga dapat memengaruhi kerja saluran pencernaan. Selain obat pencahar, penderita dapat menggunakan terapi komplementer sebagai pendamping penanganan.

Kondisi tersebut menarik perhatian mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR). Mereka meneliti potensi pijat refleksi untuk membantu mengurangi gangguan defekasi pada penderita konstipasi.

Berdasarkan sumber rilis Fakultas Vokasi UNAIR, penelitian tersebut mengukur perubahan tingkat gangguan defekasi sebelum dan sesudah responden mengikuti terapi pijat refleksi.

Pijat Refleksi Jadi Terapi Pendamping

Pijat refleksi memberikan tekanan pada titik tertentu di tubuh. Area tangan dan kaki menjadi bagian yang umum mendapat stimulasi dalam terapi tersebut.

Rangsangan pada titik refleksi dapat membantu tubuh mencapai kondisi lebih rileks. Terapi ini juga berkaitan dengan sirkulasi darah dan aktivitas saraf.

Dalam penelitian tersebut, mahasiswa melihat potensi pijat refleksi untuk mendukung kerja sistem pencernaan. Salah satu mekanisme yang menjadi perhatian ialah pergerakan peristaltik usus.

Peristaltik membantu mendorong isi saluran pencernaan menuju bagian akhir sistem pencernaan. Proses tersebut berperan dalam kelancaran buang air besar.

Karena itu, penelitian ini menempatkan pijat refleksi sebagai pendekatan nonfarmakologis. Terapi tersebut berfungsi sebagai pendamping, bukan pengganti penanganan medis lain.

Penelitian Libatkan 56 Responden

Tim peneliti menggunakan metode quasi experiment. Mereka menerapkan rancangan pre-test and post-test with control group design.

Sebanyak 56 responden mengikuti penelitian. Peneliti kemudian membagi responden ke dalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.

Kelompok perlakuan mengikuti terapi pijat refleksi sebanyak enam sesi. Tim mengukur kondisi responden sebelum dan sesudah intervensi.

Pengukuran tersebut bertujuan melihat perubahan tingkat gangguan defekasi setelah responden menjalani terapi.

Peneliti Gunakan ODS Longo Score

Tim menggunakan Obstructed Defecation Syndrome (ODS) Longo Score untuk mengukur tingkat gangguan defekasi.

Instrumen tersebut mencakup beberapa indikator. Peneliti melihat frekuensi buang air besar, kesulitan mengejan, serta rasa tidak tuntas setelah buang air besar.

Selain itu, pengukuran mencakup durasi proses defekasi. Tim juga memperhatikan kegagalan buang air besar dan penggunaan bantuan saat defekasi.

Penggunaan instrumen tersebut membantu peneliti membandingkan kondisi responden sebelum dan sesudah intervensi.

Skor Gangguan Defekasi Mengalami Penurunan

Hasil penelitian menunjukkan penurunan skor ODS Longo yang signifikan pada kelompok yang mengikuti terapi pijat refleksi.

Perubahan tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada sejumlah keluhan yang berkaitan dengan proses buang air besar.

Hasil penelitian juga menunjukkan potensi pijat refleksi sebagai terapi komplementer bagi penderita konstipasi. Pendekatan ini menawarkan pilihan nonfarmakologis untuk mendampingi penanganan gangguan defekasi.

Meski demikian, penelitian tersebut berfokus pada pemanfaatan pijat refleksi sebagai terapi pendamping. Penderita tetap perlu menyesuaikan penanganan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Dorong Pengembangan Terapi Nonfarmakologis

Penelitian mahasiswa Vokasi UNAIR memperlihatkan bagaimana pendidikan vokasi dapat mendorong kajian yang berkaitan langsung dengan kebutuhan kesehatan masyarakat.

Melalui penelitian ini, mahasiswa mengeksplorasi pendekatan nonfarmakologis untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan.

Pijat refleksi juga menawarkan pendekatan yang relatif sederhana untuk mendampingi pengelolaan keluhan konstipasi.

Temuan tersebut dapat menjadi pijakan untuk kajian lebih lanjut mengenai terapi komplementer. Penelitian lanjutan dapat memperluas pemahaman mengenai pemanfaatan pijat refleksi dalam mendukung kesehatan pencernaan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article