EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pendidikan nonformal dan vokasi melalui dua program sekaligus. Pemerintah menyalurkan bantuan kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang terdampak banjir di Aceh dan Sumatra Utara.
Pada saat yang sama, Kemendikdasmen meningkatkan kompetensi 118 guru SMK dari 11 provinsi melalui program upskilling dan reskilling. Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bidang Bangunan dan Listrik (BBL) Medan.
Berdasarkan Siaran Pers Kemendikdasmen Nomor 757/sipers/A6/VIII/2026, rangkaian program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Kegiatan berlangsung pada Rabu (26/8/2026) di Medan, Sumatra Utara.

Pendidikan Tidak Hanya Berlangsung di Sekolah
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui sekolah formal. Menurutnya, pendidikan nonformal juga memiliki peran penting dalam membuka akses belajar bagi masyarakat.
“Education is not only about schooling but the essence of education is learning. Esensi pendidikan itu belajar, tidak hanya sekolah,” jelas Abdul Mu’ti.
Ia mengatakan sistem pendidikan nasional telah mengakui pendidikan formal, informal, dan nonformal. Karena itu, setiap jalur pendidikan perlu mendapat kesempatan untuk memberikan layanan sesuai kebutuhan masyarakat.
Pandangan tersebut juga menjadi dasar Kemendikdasmen dalam memperkuat keberadaan LKP. Lembaga kursus dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan keterampilan praktis untuk bekerja maupun membangun usaha.
SMK Didorong Cetak Wirausaha Muda
Selain memperkuat pendidikan nonformal, Kemendikdasmen mendorong SMK agar tidak hanya berorientasi pada penyiapan tenaga kerja.
Abdul Mu’ti ingin peserta didik SMK memiliki keberanian untuk menciptakan peluang usaha. Menurutnya, kreativitas dan soft skills perlu mendapat perhatian lebih besar karena kebutuhan dunia kerja terus berubah.
“Jangan selalu anak SMK itu didorong kerja kantor pakai lamaran berlapis-lapis, beri mereka visi tentang entrepreneurship,” ungkapnya.
Ia menilai keterampilan teknis tetap penting. Namun, kemampuan tersebut dapat cepat berubah seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Karena itu, kemampuan beradaptasi, berinovasi, memecahkan masalah, dan berkreasi menjadi bekal penting bagi lulusan SMK.
Potensi Daerah Bisa Jadi Keahlian SMK
Kemendikdasmen juga mendorong sekolah vokasi menyesuaikan program keahlian dengan potensi daerah. Langkah ini dapat membantu peserta didik mengembangkan sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi.
Abdul Mu’ti mencontohkan komoditas seperti kopi, teh, nilam, dan perikanan. Potensi tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan bidang keahlian di SMK sesuai karakteristik daerah.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan vokasi tidak hanya menyiapkan siswa untuk mencari pekerjaan. Sekolah juga dapat membekali mereka agar mampu mengolah potensi daerah dan menciptakan peluang ekonomi.
118 Guru SMK Ikuti Upskilling dan Reskilling

Untuk menjaga relevansi pembelajaran vokasi, Kemendikdasmen menjalankan program upskilling dan reskilling bagi 118 guru SMK dari 11 provinsi.
Program tersebut berlangsung pada 20 Agustus hingga 2 September 2026. Peserta mengikuti penguatan kompetensi dalam tiga bidang keahlian, yaitu:
- Teknik Kendaraan Ringan
- Teknik Sepeda Motor
- Teknik Komputer dan Jaringan
Program tidak hanya mengasah kemampuan teknis. Peserta juga mengikuti lokakarya, kunjungan industri, serta uji kompetensi keahlian.
Kemendikdasmen mengarahkan program tersebut untuk memperkuat kompetensi teknis sesuai standar industri, kemampuan pedagogik, dan jiwa kewirausahaan guru.
Guru juga mendapat bekal untuk menerapkan pembelajaran berbasis projek dan pembelajaran mendalam dengan dukungan teknologi digital, coding, serta kecerdasan artifisial.
Abdul Mu’ti menekankan pentingnya pengembangan profesional guru secara berkelanjutan.
“Upskilling, reskilling, itu ditingkatkan kemudian pelajari skill yang baru. Tapi hard skills saja tidak cukup, soft skills harus kita perkuat,” ujarnya.
Kemendikdasmen Salurkan Rp4,18 Miliar untuk 71 LKP
Di sektor pendidikan nonformal, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan peningkatan mutu senilai Rp4,18 miliar kepada 71 LKP yang terdampak banjir di Aceh dan Sumatra Utara.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan banjir tidak hanya merusak bangunan LKP. Bencana juga merendam peralatan praktik dan mengganggu keberlangsungan kegiatan belajar.
“LKP bukan sekadar fisik bangunan saja yang terkena, melainkan juga ruang harapan bagi anak bangsa untuk meraih keterampilan,” jelas Tatang.
Menurutnya, bantuan tersebut dapat membantu LKP memulihkan sarana belajar sekaligus memperbaiki tata kelola lembaga dan menyediakan kembali media pembelajaran yang adaptif.
Aceh Terima Bantuan untuk 49 LKP
Dari total 71 LKP penerima bantuan, 49 LKP berada di Provinsi Aceh.
Rinciannya meliputi:
- 21 LKP di Kabupaten Bireuen
- 12 LKP di Kabupaten Aceh Tamiang
- 10 LKP di Kota Langsa
- 6 LKP di Kota Lhokseumawe
Sementara itu, 22 LKP di Sumatra Utara juga menerima bantuan. Sebanyak 17 LKP berada di Kabupaten Langkat dan lima LKP berada di Kabupaten Deli Serdang.
Pemerintah berharap bantuan tersebut dapat mempercepat pemulihan fasilitas sekaligus menjaga layanan pendidikan tetap berjalan bagi masyarakat terdampak bencana.
LKP Sakinah Mulai Bangkit Setelah Terdampak Banjir
Pimpinan LKP Sakinah, Samsinar, merasakan langsung manfaat bantuan tersebut. Lembaganya sebelumnya terdampak banjir pada November 2025.
Banjir merendam sejumlah fasilitas, termasuk mesin jahit serta peralatan tata busana dan kecantikan. Kini, bantuan Kemendikdasmen akan digunakan untuk mengganti sarana yang rusak.
LKP Sakinah selama ini memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat, termasuk anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formal.
“Alhamdulillah dengan adanya bantuan dari Kemendikdasmen, kami hari ini sudah pelan-pelan bangkit kembali untuk menjalankan kursus ini,” kata Samsinar.
Ia berharap LKP Sakinah dapat kembali menjadi tempat belajar bagi masyarakat yang membutuhkan keterampilan untuk membuka peluang usaha.
LKP Rita Gunakan Bantuan untuk Pulihkan Peralatan
Manfaat bantuan juga dirasakan LKP Rita di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Banjir sebelumnya merendam lembaga tersebut dan merusak sejumlah fasilitas pembelajaran.
LKP Rita menerima bantuan sebesar Rp50 juta. Pimpinan LKP Rita, Dewi Rita, akan menggunakan dana tersebut untuk mengganti mesin dan mendukung kegiatan pelatihan.
“Semoga dengan bantuan ini kami dapat meningkatkan dan mengembalikan kembali sarana sebagai penunjang dalam melaksanakan program kami,” ujar Dewi Rita.
Menurutnya, LKP memiliki peran penting karena masyarakat dapat memperoleh keterampilan tanpa harus menempuh pendidikan tinggi.
“Dengan adanya LKP mereka mampu berkarya walaupun tidak harus dengan berkuliah, sehingga mereka mampu berusaha sendiri,” tambahnya.
Pendidikan Nonformal dan Vokasi Sama-Sama Diperkuat
Program Kemendikdasmen menunjukkan bahwa penguatan pendidikan tidak hanya berfokus pada sekolah formal. Pemerintah juga memberi perhatian pada LKP sebagai jalur pendidikan nonformal dan SMK sebagai bagian penting dari pendidikan vokasi.
Pemulihan fasilitas LKP membantu masyarakat terdampak bencana kembali memperoleh akses pelatihan. Sementara itu, peningkatan kompetensi guru SMK menjadi langkah untuk memastikan pembelajaran vokasi tetap sesuai dengan perkembangan industri dan teknologi.
Kemendikdasmen juga mendorong pendidikan vokasi agar tidak berhenti pada kemampuan teknis. Kreativitas, inovasi, kemampuan beradaptasi, pemecahan masalah, dan jiwa kewirausahaan menjadi bagian penting dalam menyiapkan peserta didik menghadapi masa depan.


