EDUCARE.CO.ID – Istilah brain rot semakin sering muncul seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan waktu di depan layar. Kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan dapat membuat anak kesulitan mempertahankan fokus saat belajar.
Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika anak mempelajari keterampilan yang membutuhkan konsentrasi dan kemampuan berpikir bertahap, termasuk Microsoft Excel.
Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Build Tech Borneo, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Lailatul Badriah, melihat pembelajaran kontekstual sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu peserta didik memahami materi komputer.
Ia menggunakan metode Realistic Mathematics Education (RME) untuk menghubungkan konsep matematika dengan situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Brain Rot Bisa Ganggu Proses Belajar Excel
Lailatul menjelaskan bahwa brain rot dapat menjadi tantangan dalam pembelajaran Microsoft Excel. Peserta didik perlu memahami proses memasukkan data sebelum mengerjakan perhitungan yang lebih kompleks.
“Adanya fenomena brain rot ini dapat menyebabkan kendala dalam proses pembelajaran, khususnya dalam belajar Microsoft Excel. Ketika peserta didik sulit memasukan data, mereka pun akan sulit untuk menyelesaikan kasus perhitungan pada tingkat yang lebih sulit,” ujar Lailatul.
Menurutnya, pengajar perlu mencari cara agar peserta didik tidak sekadar menghafal langkah penggunaan Excel. Mereka juga perlu memahami konsep di balik perhitungan.
Pendekatan pembelajaran yang dekat dengan pengalaman sehari-hari dapat membantu proses tersebut.
RME Hubungkan Matematika dengan Kehidupan Nyata
RME atau Realistic Mathematics Education menggunakan persoalan nyata sebagai titik awal pembelajaran. Peserta didik kemudian membangun pemahaman konsep melalui situasi yang mereka kenal.
Metode ini dapat diterapkan dalam pembelajaran Microsoft Excel. Pengajar bisa mengambil contoh sederhana yang sering ditemui peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Lailatul memberikan contoh perhitungan harga diskon. Materi tersebut menggabungkan harga dasar dan persentase diskon.
“Sebagai contoh, kasus perhitungan harga diskon yang menggunakan harga dasar dan diskon dalam persen (%). Untuk menghitungnya, bisa menggunakan benda nyata berupa beberapa koin,” jelasnya.
Koin Jadi Media untuk Memahami Persentase
Penggunaan benda nyata membantu peserta didik melihat konsep matematika secara lebih konkret. Dalam contoh tersebut, pengajar menggunakan beberapa koin sebagai media pembelajaran.
Peserta didik dapat menghubungkan jumlah koin dengan konsep persentase. Setelah memahami konsep melalui benda nyata, mereka kemudian dapat menerapkannya dalam perhitungan menggunakan Microsoft Excel.
Cara tersebut membuat materi tidak berhenti pada rumus. Peserta didik juga memahami alasan di balik proses perhitungan.
Lailatul menilai pengajar dapat mengambil banyak contoh lain dari lingkungan sekitar. Harga barang, uang saku, belanja, tabungan, dan aktivitas sehari-hari bisa menjadi bahan pembelajaran.
Pemahaman Peserta Didik Ikut Meningkat
Lailatul menerapkan pendekatan RME di LKP Build Tech Borneo untuk membantu peserta didik memahami Microsoft Excel.
Menurutnya, pembelajaran dengan konteks nyata dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi. Pengajar juga dapat mengembangkan pendekatan serupa untuk topik lain.
Terutama pada materi yang membutuhkan kemampuan berpikir lebih kompleks, pengajar dapat mencari persoalan yang dekat dengan pengalaman peserta didik.
Dengan begitu, proses belajar tidak hanya berfokus pada kemampuan menjalankan fitur komputer. Peserta didik juga belajar memahami masalah dan menentukan langkah penyelesaiannya.
Kreativitas Pengajar Jadi Kunci
Lailatul mengingatkan bahwa penerapan RME membutuhkan kreativitas dari pengajar. Guru atau instruktur perlu memilih media yang sesuai dengan karakter peserta didik.
“Yang perlu diingat, untuk dapat menjalankannya tentu diperlukan kreativitas mengajar agar menggunakan media atau bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” kata Lailatul.
Pengajar juga perlu mengenali lingkungan peserta didik. Contoh yang terasa dekat bagi anak di satu daerah belum tentu memiliki makna yang sama bagi anak di daerah lain.
Karena itu, pemilihan konteks tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pengajar perlu menyesuaikan contoh dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pembelajaran Kontekstual Perlu Sesuai Lingkungan Anak
Setiap daerah memiliki kebiasaan dan pengalaman yang berbeda. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara peserta didik memahami sebuah contoh.
Pengajar perlu melihat lingkungan sekitar sebelum menentukan konteks pembelajaran. Cara ini membantu peserta didik menghubungkan materi dengan pengalaman yang sudah mereka miliki.
Pendekatan RME pun dapat menjadi salah satu pilihan untuk menghadirkan pembelajaran komputer yang lebih kontekstual. Peserta didik tidak hanya belajar menggunakan Excel, tetapi juga memahami konsep matematika melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Di tengah tantangan screen time dan konsumsi konten digital, proses belajar yang melibatkan pengalaman nyata dapat menjadi pendekatan yang menarik. Kunci utamanya tetap terletak pada kreativitas pengajar dalam menciptakan kegiatan belajar yang relevan dan bermakna.


