Bahaya Tersembunyi di Balik Rasa Manis: Airlangga Forum Bahas Dampak Pemanis terhadap Imunitas
educare.co.id, Surabaya – Airlangga Forum Sekolah Pascasarjana mengangkat isu penting seputar dampak pemanis dalam konsumsi sehari-hari melalui seminar bertajuk “Efek Pemanis yang Tidak Manis”. Acara yang digelar secara daring pada Jumat (20/6/2025) ini menghadirkan dua narasumber ahli, yakni Dr. Willy Sandhika, dr., M.Si., Sp.PA(K), serta Dr. Waode Fifin Ervina Muslihi, S.Gz., M.Imun.
Dalam pemaparannya, Dr. Willy menjelaskan bahwa rasa manis tidak hanya dihasilkan dari gula, tetapi juga dari pemanis buatan. Ia mengaitkan konsumsi gula dengan penyakit diabetes, sementara pemanis non-gula menurutnya berkaitan erat dengan sistem imun.
“Jika berbicara tentang gula, maka akan berhubungan dengan diabetes. Sedangkan produk pemanis non-gula berhubungan dengan sistem imun,” ungkapnya, dalam siaran tertulis Unair (24/6).
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa dalam perspektif imunologi, gula dapat menjadi sahabat maupun musuh, tergantung pada kondisi individu.
“Jika peruntukannya adalah pada orang yang kekurangan kalori, gizi buruk, gula bisa menjadi teman. Bagi yang sudah berlebihan akan menimbulkan berbagai macam penyakit,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa takaran konsumsi pemanis sangat tergantung pada usia dan kondisi tubuh seseorang. “Jika masih anak-anak, bagus memakan gula. Jika sudah tua seharusnya diet bebas gula. Tetapi perlu ditekankan bahwa diet bebas gula artinya juga tanpa pemanis buatan,” ujarnya.
Dr. Willy juga menyoroti bahaya pemanis buatan yang hanya memberikan rasa manis tanpa kandungan kalori atau nilai gizi. Ia memperingatkan bahwa meskipun beberapa jenis pemanis telah mendapat izin edar dari BPOM, masih banyak pemanis ilegal yang beredar luas di masyarakat.
“Pemanis buatan bisa memicu autoimun. Sistem imun didesain untuk menyerang virus, bakteri dari luar. Namun, ada kalanya sistem imun menyerang tubuh sendiri, pemanis buatan bisa memicu autoimun. Untuk itu hindari pemanis buatan,” jelasnya.
Senada dengan itu, Dr. Fifin menyampaikan keprihatinannya atas semakin maraknya penggunaan pemanis buatan di masyarakat. Ia menyebut sulitnya mengukur jumlah pemanis yang masuk ke dalam tubuh sebagai masalah serius.
“Kita harus melek akan minuman serta makanan yang kita konsumsi, pemanis buatan bisa dilihat pada komposisi yang ada pada label. Namun terkadang tidak mencantumkan kadarnya,” ungkapnya.
Menurutnya, pemanis buatan bisa 200 kali lebih manis dari gula biasa, dan kadar yang terlalu tinggi dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus. “Kadar pemanis buatan yang terlalu tinggi bisa mengganggu bakteri baik yang ada pada pencernaan sehingga akan menyebabkan radang,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa gangguan pada pencernaan bisa berdampak serius terhadap sistem imun tubuh.
“Sistem imun paling banyak diproduksi dalam usus. Sehingga jika produksi sistem imun terganggu yang terjadi adalah akan datang banyak penyakit. Penyakit seperti autoimun, cancer, diabetes biasanya berawal dari sistem imun yang terganggu,” katanya.
