EDUCARE.CO.ID – Sebanyak 50 SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat hubungan dengan dunia industri. Langkah ini bertujuan mendekatkan pembelajaran vokasi dengan kebutuhan pekerjaan sekaligus meningkatkan kesiapan siswa menghadapi dunia kerja.
Kemendikdasmen menandai komitmen tersebut melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama 50 SMK di DIY dan sejumlah industri mitra. Kegiatan berlangsung di Sleman, DIY, Rabu (19/8/2026).
Berdasarkan rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), kerja sama tersebut mencakup lebih dari sekadar Praktik Kerja Lapangan (PKL). Sekolah dan industri juga akan menyusun kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
Industri juga akan ikut mengisi pembelajaran. Selain itu, siswa mendapat kesempatan mengerjakan proyek yang mengambil contoh dari persoalan nyata di dunia kerja.
50 SMK DIY Perkuat Hubungan dengan Industri

Sejumlah pejabat Kemendikdasmen dan perusahaan mitra menandatangani PKS dalam kegiatan tersebut.
Sekretaris Direktorat Jenderal Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Suparto, menandatangani kerja sama dengan PT Handal Yesindo Sejahtera dan PT Agate International.
Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Arie Wibowo Khurniawan juga menandatangani kerja sama dengan PT Trakindo Utama dan PT Erajaya Swasembada.
Perwakilan 50 SMK di DIY turut menandatangani PKS dengan industri mitra. Kerja sama ini membuka ruang bagi sekolah untuk membawa pengalaman dunia kerja ke dalam proses pembelajaran.
Kerja Sama SMK Tidak Berhenti pada PKL
PKL tetap menjadi bagian penting dalam hubungan sekolah dan industri. Namun, Kemendikdasmen ingin memperluas bentuk kerja sama tersebut.
Sekolah dapat mengajak industri menyusun kurikulum sesuai perkembangan kebutuhan pekerjaan. Praktisi industri juga dapat masuk ke kelas dan berbagi pengalaman langsung kepada siswa.
Sekolah dan perusahaan juga dapat membuat proyek bersama. Lewat proyek tersebut, siswa dapat berlatih menyelesaikan persoalan yang mirip dengan situasi di tempat kerja.
Kerja sama juga dapat mencakup magang siswa dan guru, kelas industri, hingga peluang rekrutmen bagi lulusan SMK.
Kemendikdasmen Dorong Program yang Berdampak
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan perubahan industri berlangsung cepat. Karena itu, sekolah perlu terus menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan tersebut.
“Melalui kolaborasi ini, Kemendikdasmen terus mendorong penguatan kualitas pembelajaran vokasi dengan memberikan pengalaman belajar yang relevan, memperkuat kompetensi murid, serta meningkatkan kesiapan lulusan SMK menghadapi dunia kerja,” kata Tatang.
Tatang juga meminta sekolah dan industri segera menjalankan kesepakatan tersebut. Menurutnya, kerja sama tidak cukup hanya menghasilkan dokumen.
“Jangan biarkan rencana menumpuk di atas kertas. Kita harus melihat seberapa besar manfaatnya bagi murid. Semua pihak harus mendapatkan manfaat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan sekolah untuk mengembangkan kemampuan teknis dan karakter siswa secara seimbang. Dunia kerja kini membutuhkan lulusan yang mampu beradaptasi, bekerja sama, berpikir analitis, dan memecahkan masalah.
SMK Perlu Bergerak Mengikuti Perubahan Industri
Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Arie Wibowo Khurniawan menilai hubungan SMK dengan industri sudah menjadi kebutuhan utama.
“SMK lahir dari industri sehingga pengelolaannya harus dibuat mirip dengan industri,” katanya.
Menurut Arie, digitalisasi ikut mengubah kebutuhan kompetensi perusahaan. Perubahan itu membuat SMK perlu memperbarui kurikulum secara berkala.
Sekolah juga perlu melibatkan industri saat menyusun materi pembelajaran. Dengan begitu, siswa dapat mempelajari kompetensi yang benar-benar mereka butuhkan ketika masuk dunia kerja.
PKL Akan Didorong Lebih Terstruktur
Kerja sama ini juga membuka peluang bagi sekolah dan perusahaan untuk memperbaiki pola PKL.
Arie mengatakan industri dapat menyiapkan proyek khusus untuk siswa. Proyek tersebut dapat memberi pengalaman kerja yang lebih nyata dan terarah.
“Tujuannya untuk bisa menghasilkan kemitraan yang berdampak. Ke depannya, PKL bisa lebih terstruktur dan industri bisa menyiapkan proyek untuk para murid,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, siswa tidak hanya menjalani PKL sebagai bagian dari kewajiban sekolah. Mereka juga dapat memahami cara kerja, target, komunikasi, dan persoalan yang muncul di lingkungan profesional.

Kolaborasi Jadi Bekal Lulusan SMK
Kerja sama 50 SMK di DIY dengan industri menunjukkan pentingnya hubungan erat antara sekolah dan dunia kerja. Sekolah mendapat gambaran langsung tentang kebutuhan perusahaan. Sebaliknya, industri dapat ikut membantu menyiapkan calon tenaga kerja sejak bangku sekolah.
Penyelarasan kurikulum, keterlibatan praktisi, proyek industri, magang, kelas industri, dan peluang rekrutmen dapat memberi pengalaman yang lebih relevan bagi siswa.
Langkah tersebut juga dapat membantu siswa mengembangkan hard skills dan soft skills secara bersamaan. Mereka tidak hanya belajar kemampuan teknis, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi, kerja sama, analisis, adaptasi, dan pemecahan masalah.
Jika sekolah dan industri menjalankan kolaborasi secara konsisten, pendidikan vokasi di DIY dapat semakin dekat dengan kebutuhan pasar kerja. Pada akhirnya, lulusan SMK tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga kompetensi dan pengalaman yang berguna saat memasuki dunia profesional.


