Tak Hanya Indah, Gunung Batu Laki Simpan Habitat Bekantan dan Peluang Wisata

Must read

EDUCARE.CO.ID – Gunung Batu Laki di Desa Batu Laki, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, menyimpan potensi wisata alam dan edukasi.

Kawasan ini menjadi ruang hidup bagi bekantan, satwa endemik Kalimantan. Selain itu, Batu Laki masuk dalam kawasan Meratus UNESCO Global Geopark.

Konsep tersebut menggabungkan tiga aspek utama. Ketiganya meliputi konservasi, edukasi, dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Aktivitas wisata di Batu Laki juga mulai memberi manfaat bagi warga. Salah satunya melalui wisata lanting atau rakit tradisional.

Berdasarkan sumber laman resmi Berita Provinsi Kalimantan Selatan, potensi tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata edukasi biodiversitas.

Gunung Batu Laki Jadi Habitat Bekantan

Gunung Batu Laki menjadi salah satu kawasan yang dihuni bekantan di Kalimantan Selatan.

Kepala Desa Batu Laki, Muamar Amrullah, mengatakan warga sering melihat kawanan bekantan di sekitar tebing gunung.

Menurutnya, satwa tersebut biasanya muncul pada pagi atau sore hari. Warga bahkan dapat melihat bekantan bermain di pepohonan sekitar kawasan.

“Yang saya ketahui memang ada kawanan Bekantan. Biasanya saya melihat pagi atau sore yang banyak Bekantan terlihat bermain-main di pohon sekitaran tebing gunung Batu Laki. Kurang kurang ada sekitar 10 ekor,” kata Muamar Amrullah.

Keberadaan satwa tersebut menambah nilai penting kawasan Batu Laki. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati pemandangan alam.

Mereka juga bisa mengenal satwa endemik Kalimantan secara langsung. Karena itu, Batu Laki memiliki peluang untuk mengembangkan wisata berbasis edukasi lingkungan.

Lanting Buka Peluang Ekonomi Warga

Selain habitat bekantan, Batu Laki juga memiliki aktivitas wisata yang melibatkan masyarakat sekitar.

Salah satu aktivitas tersebut berupa wisata lanting. Rakit tradisional ini menjadi salah satu pilihan bagi wisatawan untuk menikmati kawasan Batu Laki.

Pengelola Situs Batu Gamping Batu Laki, Muhammad Arsad, mengatakan aktivitas tersebut ikut menggerakkan ekonomi warga.

“Adanya lanting wisata memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” ujar Muhammad Arsad.

Dengan demikian, wisata tidak hanya menghadirkan pengalaman bagi pengunjung. Aktivitas tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Di sisi lain, keterlibatan warga dapat memperkuat hubungan antara kegiatan wisata dan potensi kawasan.

Karhutla Jadi Tantangan Konservasi

Meski memiliki potensi besar, Batu Laki juga menghadapi tantangan lingkungan.

Salah satunya muncul dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada September 2026, kebakaran terjadi di kawasan Gunung Batu Laki.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap habitat bekantan. Sebab, satwa tersebut bergantung pada kawasan hutan sebagai tempat hidup dan mencari makan.

Muamar Amrullah mengatakan kebakaran tidak berdampak langsung terhadap permukiman warga. Aliran Sungai Amandit memisahkan kawasan gunung dengan permukiman.

“Alhamdulillah tidak ada dampak ke masyarakat sekitar, karena gunung dipisahkan oleh aliran Sungai Amandit dengan permukiman warga,” jelasnya.

Namun, perhatian terhadap habitat bekantan tetap penting. Pemantauan kawasan perlu berjalan secara berkelanjutan.

Wisata Edukasi Perlu Berjalan Bersama Konservasi

Batu Laki memiliki kombinasi potensi alam, biodiversitas, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Keberadaan bekantan menjadi salah satu daya tarik edukasi. Sementara itu, wisata lanting menunjukkan peluang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi.

Karena itu, pengembangan wisata perlu berjalan seiring dengan upaya konservasi.

Wisatawan juga dapat memperoleh pengalaman yang lebih bermakna. Mereka tidak sekadar menikmati lanskap Meratus.

Mereka juga dapat memahami pentingnya menjaga habitat satwa endemik. Pada saat yang sama, masyarakat sekitar dapat memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan wisata.

Batu Laki dan Masa Depan Wisata Meratus

Sebagai bagian dari Meratus UNESCO Global Geopark, Batu Laki memiliki peluang untuk mengembangkan wisata berbasis biodiversitas.

Konsep tersebut dapat menghubungkan kegiatan wisata dengan pendidikan lingkungan. Selain itu, masyarakat lokal dapat mengambil peran dalam pengelolaan potensi kawasan.

Namun, kelestarian alam tetap menjadi dasar utama. Pengembangan wisata perlu mempertimbangkan kondisi habitat dan keberadaan satwa.

Dengan pendekatan tersebut, Batu Laki dapat berkembang sebagai ruang wisata sekaligus pembelajaran. Kawasan ini juga dapat memperkenalkan kekayaan biodiversitas Meratus kepada masyarakat dan wisatawan.

 

Penulis: Meilia Dewi Pertiwi

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article