EDUCARE.CO.ID – Memilih sekolah untuk anak bukan hanya soal kemampuan akademik. Bagi sebagian orang tua, cara sekolah membangun kebiasaan, kemandirian, dan karakter anak juga menjadi pertimbangan penting.
Hal itu pula yang dirasakan Elita, orang tua dua siswa Sekolah Tetum Bunaya. Ia memilih Tetum Bunaya setelah mendapat rekomendasi dari tetangga yang lebih dulu menyekolahkan anaknya di sana.
Kini, kedua anak Elita masih menempuh pendidikan di Tetum Bunaya. Gwen, anak sulungnya, sudah duduk di kelas 4 SD. Sementara adiknya, Borneo, kini berada di kelas 1 SD.
Berdasarkan hasil wawancara di Booth Sekolah Tetum Bunaya dalam ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, Elita menceritakan pengalaman anak-anaknya selama belajar di sekolah tersebut.
Berawal dari Rekomendasi Tetangga
Elita mengenal Tetum Bunaya ketika mencari sekolah untuk Gwen. Saat itu, ia mendapat informasi dari tetangga yang anaknya lebih dulu bersekolah di sana.
Salah satu hal yang membuat Elita tertarik adalah pendekatan Montessori yang diterapkan Tetum Bunaya.
“Dia basisnya Montessori. Dari awal tuh mereka diajari bermain sambil belajar, sensori, menulis, segala macam. Aku pikir kayaknya menarik juga nih daripada sekolah konvensional,” ujar Elita.
Ia kemudian datang langsung untuk melihat lingkungan sekolah. Elita juga berdiskusi dengan guru dan kepala sekolah.
Setelah kunjungan tersebut, ia merasa visi sekolah sejalan dengan harapan keluarga.
“Alhamdulillah klik sama visi-misi kita orang tua. Bismillah kita coba nih kakak di sini,” tuturnya.
Keputusan itu kemudian berlanjut. Gwen tetap bersekolah di Tetum Bunaya hingga SD. Adiknya pun mengikuti langkah sang kakak sejak jenjang TK.
Bukan Hanya Akademik, Anak Belajar Mandiri
Menurut Elita, salah satu perubahan yang paling terasa ada pada keteraturan anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Tetum Bunaya tidak hanya mengajarkan materi akademik. Sekolah juga membiasakan anak melakukan berbagai aktivitas secara mandiri.
Salah satunya melalui Program Makan Bersama (PMB). Dalam kegiatan tersebut, anak mengambil makanan sendiri, menggunakan apron, menyiapkan alat makan, hingga mengembalikan piring setelah selesai makan.
Anak juga belajar menjaga kebersihan. Mereka terbiasa mencuci tangan dan menyikat gigi.
“Jadi mereka tuh kayak keteraturan sehari-hari sudah diajarkan di sekolah. Jadi nggak cuma belajar pelajaran akademik saja. Pembiasaan kehidupan sehari-hari juga diajarkan,” kata Elita.
Bagi Elita, kebiasaan tersebut menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang anak.
“Membuat Cerdas Tanpa Menggegas”
Elita juga melihat perkembangan kemampuan membaca dan menulis pada anaknya.
Ketika masuk SD, Gwen belum lancar membaca. Kemampuan menulisnya pun masih perlu berkembang. Namun, Elita memilih untuk mempercayakan proses tersebut kepada sekolah.
Ia menyebut Tetum Bunaya memiliki tagline “Membuat Cerdas Tanpa Menggegas.”
Menurutnya, tagline tersebut tercermin dalam cara sekolah mendampingi setiap anak.
“Awalnya kita takut, temannya di sekolah lain kelas 1 sudah lancar baca. Anak aku belum. Tapi ya sudah, aku percayain ke sekolah. Alhamdulillah lancar,” ujarnya.
Seiring waktu, kemampuan membaca Gwen berkembang. Ia pun mampu membaca dengan lebih cepat.
Pengalaman tersebut membuat Elita melihat bahwa setiap anak memang memiliki tahapan perkembangan yang berbeda.
IIBF Jadi Ruang Anak Berani Bertanya
Pengalaman belajar di Tetum Bunaya juga terlihat dalam kegiatan Gwen di IIBF 2026.

Dalam pameran tersebut, Gwen mengikuti kegiatan Wartawan Cilik di Kelas Menulis Tetum. Ia belajar bertanya, melakukan wawancara, membaca, dan menulis.
Gwen mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut.
Saat ditanya bagian yang paling disukai, siswa kelas 4 itu memilih wawancara.
“Wawancara,” jawab Gwen.
Menurut Gwen, kegiatan tersebut terasa menyenangkan karena ia bisa bertanya kepada orang lain.
Ia bahkan sudah memiliki gambaran ketika mendapat tugas menulis cerita sendiri.
“Imaginasi,” jawab Gwen saat ditanya ingin menulis cerita tentang apa.
Gwen Suka Membaca Komik
Di luar kegiatan wawancara, Gwen juga mengaku senang membaca buku.
Jenis buku yang paling ia sukai adalah komik. Ia juga menikmati proses belajar di Tetum Bunaya karena sekolah memberikan ruang untuk belajar sekaligus bermain.
Ketika ditanya apakah ia lebih suka belajar atau bermain, Gwen menjawab, “Belajar sama bermain.”
Jawaban sederhana tersebut menggambarkan pengalaman belajar yang ia rasakan sehari-hari.
Bagi Gwen, sekolah bukan hanya tempat untuk mengikuti pelajaran. Ada pula kesempatan untuk bermain, bertanya, membaca, dan mencoba pengalaman baru.
Orang Tua Atur Penggunaan Gadget
Elita juga menyadari bahwa gadget sudah dekat dengan kehidupan anak-anak saat ini.
Karena itu, ia dan suaminya membuat aturan penggunaan gadget di rumah. Anak-anak hanya mendapat waktu bermain gadget pada Sabtu dan Minggu.
Mereka dapat bermain selama satu jam dalam setiap sesi. Orang tua juga menggunakan aplikasi untuk mengontrol penggunaan perangkat tersebut.
Setelah waktu penggunaan selesai, perangkat akan terkunci secara otomatis.
Sementara pada hari sekolah, anak tetap menggunakan perangkat jika ada kebutuhan belajar. Misalnya, untuk mengerjakan tugas dari kursus bahasa Inggris.
Bagi Elita, pembatasan tersebut bukan berarti menjauhkan anak dari teknologi. Ia memilih mengatur penggunaannya agar tetap seimbang dengan aktivitas lain.
“Pelan tapi Pasti”
Setelah beberapa tahun mendampingi anak bersekolah di Tetum Bunaya, Elita menggambarkan pengalamannya dengan satu kalimat sederhana.
“Pelan tapi pasti.”
Kalimat tersebut juga terasa selaras dengan pendekatan Tetum Bunaya yang mengedepankan proses perkembangan anak tanpa terburu-buru.
Bagi orang tua yang sedang mencari sekolah, pengalaman Elita menunjukkan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan pelajaran.
Kemandirian, kebiasaan sehari-hari, keberanian berkomunikasi, hingga kesempatan mengeksplorasi minat juga menjadi bagian dari pengalaman anak.
Gwen: “Ayo Sekolah di Tetum Bunaya!”
Sementara itu, Gwen punya pesan sederhana untuk teman-teman yang ingin mengenal Tetum Bunaya.
Ketika ditanya apakah ia ingin mengajak teman-temannya bersekolah di sana, Gwen langsung menjawab:
“Ayo sekolah di Tetum Bunaya, seru.”
Pengalaman Gwen di IIBF 2026 menunjukkan bagaimana kegiatan membaca, menulis, bercerita, dan wawancara dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak.
Bagi orang tua yang mencari lingkungan pendidikan dengan pendekatan belajar yang bertahap, mandiri, dan dekat dengan aktivitas sehari-hari, Tetum Bunaya dapat menjadi salah satu pilihan yang patut dikenal lebih jauh.

