EDUCARE.CO.ID – Booth Sekolah Tetum Bunaya menjadi salah satu ruang belajar yang menarik perhatian dalam ajang Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Selama pameran, sekolah yang berlokasi di Jagakarsa, Jakarta Selatan, menghadirkan berbagai kegiatan literasi untuk anak dan orang tua.
Program tersebut hadir melalui penerbitan internal Tetum Bunaya dan Kelas Menulis Tetum. Anak-anak tidak hanya diajak membaca buku, tetapi juga belajar menulis, melakukan wawancara, membuat karya, hingga mengenal proses penerbitan.
Kehumasan Sekolah Tetum Bunaya, Kak Wiwit, mengatakan kegiatan di IIBF menjadi bagian dari upaya sekolah dan penerbit untuk memperkenalkan pengalaman literasi yang dekat dengan kehidupan anak.
“Kalau di Tetum Bunaya itu semua kegiatan belajarnya kita basiskan ke literasi. Program belajar di sekolah biasanya pemantiknya pakai buku,” ujar Kak Wiwit (Jumat, 2/10/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat buku tidak berhenti sebagai bahan bacaan. Anak juga dapat mengambil ide dari buku untuk melakukan berbagai aktivitas.

Kelas Menulis Tetum Ajak Anak Jadi Wartawan Cilik
Salah satu program yang ditonjolkan Tetum Bunaya dalam IIBF 2026 adalah Kelas Menulis Tetum.
Program ini mengajak anak dan orang tua untuk belajar melalui pengalaman. Anak-anak mendapat kesempatan menjadi wartawan cilik dan melakukan peliputan sederhana.
Mereka belajar menyusun pertanyaan, melakukan wawancara, mencatat informasi, kemudian mengolah pengalaman tersebut menjadi tulisan.
Kegiatan itu menjadi bagian dari pendekatan literasi Tetum Bunaya yang menghubungkan aktivitas membaca dengan pengalaman nyata.
“Anak diajak belajar melalui pengalaman. Mereka diajak jadi wartawan cilik, meliput. Lalu kita juga ada proyek mereka bikin buku,” kata Kak Wiwit.
Tetum Bunaya juga menggunakan pengalaman yang terjadi di lingkungan sekolah sebagai bahan cerita. Misalnya, keberadaan ayam yang bertelur di halaman sekolah kemudian berkembang menjadi cerita untuk anak.
Dari cerita tersebut, anak dapat mempelajari siklus hidup ayam. Mereka juga dapat menyanyikan lagu yang berkaitan dengan tema pembelajaran.
Dengan cara tersebut, buku menjadi pintu masuk menuju aktivitas belajar yang lebih luas.
Buku Lahir dari Pengalaman Anak dan Guru
Tetum Bunaya juga memiliki penerbitan sendiri. Menurut Kak Wiwit, kegiatan penerbitan tersebut sudah berjalan sejak sekitar 2016.
Buku-buku yang terbit menyesuaikan jenjang pembaca. Sebagian karya juga lahir dari pengalaman anak-anak dan guru selama berada di lingkungan sekolah.
Salah satu contohnya adalah buku Popop dan Popok. Buku tersebut mengangkat tema toilet training untuk anak kelompok bermain.
Ada pula cerita tentang ayam yang berasal dari kejadian nyata di lingkungan sekolah. Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi bahan belajar.
Kegiatan literasi juga tidak hanya menghasilkan karya siswa Tetum Bunaya. Sekolah turut mengajak guru dari sekolah lain di Kecamatan Jagakarsa untuk mengikuti program menulis.
Dalam proses tersebut, guru menulis pengalaman mereka bersama siswa di sekolah masing-masing.
Dari program tersebut lahir tiga buku antologi. Setiap buku memuat tulisan guru tentang pengalaman dan pengamatan mereka terhadap siswa.
“Bukunya memang guru rekam dari siswanya sehari-hari. Yang guru-guru lihat dari kegiatan di sekolahnya. Jadi bukan cuma dari sekolah Tetum, sekolah luar juga,” jelas Kak Wiwit.
IIBF Jadi Panggung untuk Karya Siswa

Kehadiran Tetum Bunaya di IIBF 2026 juga membawa sejumlah karya siswa dan guru.
Dalam rangkaian program Kelas Menulis Tetum, sekolah menyiapkan peluncuran beberapa buku. Karya tersebut mencakup tulisan guru, siswa, hingga kumpulan surat anak.
Salah satu proyek berasal dari kegiatan menulis surat yang sebelumnya diikuti siswa dari sejumlah sekolah. Tetum Bunaya kemudian mengumpulkan karya tersebut menjadi buku.
Ada pula karya siswa Tetum Bunaya yang mengikuti lomba menulis. Sekolah tetap mengapresiasi karya siswa yang belum meraih kemenangan dengan menerbitkannya dalam bentuk buku.
Program lain juga lahir dari kegiatan menulis cerpen. Sebelumnya, delapan siswa Tetum Bunaya mengikuti lomba menulis cerpen yang diselenggarakan Kompas.
Salah satu siswa berhasil lolos dan memenangkan kompetisi. Sementara itu, karya siswa lain yang belum lolos tetap mendapat ruang melalui penerbitan internal sekolah.
Buku Jadi Teman, Bukan Sekadar Tugas

Founder sekaligus Kepala Sekolah Tetum Bunaya, Ibu Endah, mengatakan sekolah ingin membangun hubungan yang lebih dekat antara anak dan buku.
Menurutnya, anak tidak harus selalu membaca buku dalam situasi formal. Mereka dapat menggunakan buku sebagai sumber ide untuk berbagai aktivitas.
“Bahwa buku adalah teman. Sesimpel itu,” ujar Ibu Endah.
Ia menjelaskan, anak dapat mengambil ide dari buku untuk bermain drama, membuat karya, atau menjalankan aktivitas lainnya.
Karena itu, sekolah berusaha membuat buku terasa dekat dengan kehidupan anak.
“Buku itu tidak harus sesuatu yang kita harus baca. Kita bisa melakukan kegiatan dengan buku, mengambil ide dari buku. Pokoknya segala sesuatu,” lanjutnya.
Pendekatan tersebut juga terlihat dalam kegiatan Tetum Bunaya di IIBF 2026.
Perpustakaan Jadi Bagian Penting di Sekolah
Budaya literasi di Tetum Bunaya tidak hanya berjalan melalui program penerbitan.
Sekolah juga memiliki perpustakaan dengan koleksi hampir 5.000 buku. Menurut Kak Wiwit, perpustakaan tersebut telah meraih akreditasi A.
Perpustakaan menjadi ruang yang aktif digunakan siswa. Anak-anak dapat berkunjung pada pagi dan siang hari sesuai jadwal.
Sekolah juga menyediakan jadwal kunjungan kelas. Selain itu, berbagai kegiatan seperti relawan membaca dan program Read Alone ikut menghidupkan aktivitas literasi.
Tetum Bunaya juga menggelar Festival Literasi sebagai salah satu agenda tahunannya.
Untuk menyesuaikan kebiasaan membaca anak dengan perkembangan teknologi, sekolah menyediakan perpustakaan digital.
Sekolah bekerja sama dengan platform perpustakaan digital PIBO. Fasilitas tersebut dapat siswa kelas 4 hingga kelas 6 melalui dukungan sekolah.
Anak dapat mengakses buku digital dari rumah bersama orang tua. Mereka juga dapat menggunakannya saat mengikuti kegiatan di sekolah.
Pendidikan Inklusif Berjalan dalam Keseharian
Selain literasi, Tetum Bunaya mengembangkan pendidikan inklusif dalam kegiatan sehari-hari.
Ibu Endah menjelaskan bahwa sekolah memulai proses dengan mengenali kebutuhan setiap anak. Sekolah melakukan asesmen ketika calon siswa datang.
Tim melihat berbagai aspek. Misalnya, kemampuan mengikuti kegiatan, kenyamanan di lingkungan baru, respons terhadap instruksi, hingga ketertarikan terhadap buku.
“Ketika ada murid datang, kita asses dulu. Kita lihat dulu misalnya keaktifannya seperti apa. Bisa tidak di kegiatan seperti ini,” jelas Ibu Endah.
Sekolah kemudian menyesuaikan pendampingan dengan kebutuhan anak.
Dalam keseharian, pendekatan inklusif juga tumbuh melalui interaksi antarsiswa. Anak-anak belajar bermain dan beraktivitas bersama teman dengan karakter serta kebutuhan yang berbeda.
Menurut Ibu Endah, proses tersebut berlangsung secara alami.
Anak-anak belajar memahami teman tanpa harus memandang perbedaan sebagai sesuatu yang aneh. Mereka juga belajar menempatkan teman sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.
Lingkungan Hijau Jadi Identitas Tetum Bunaya
Selain literasi dan pendidikan inklusif, lingkungan hijau menjadi bagian dari identitas Tetum Bunaya.
Sekolah berupaya mengurangi penggunaan plastik dan menerapkan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.
Ibu Endah mencontohkan pengelolaan konsumsi makanan. Ketika membawa makanan untuk kegiatan di luar sekolah, pihak sekolah menggunakan wadah yang dapat dibawa kembali dan dicuci.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah sekali pakai.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di Tetum Bunaya tidak hanya berlangsung melalui materi di kelas. Anak juga dapat belajar dari kebiasaan yang mereka temui setiap hari.
Tetum Bunaya Hadirkan Literasi Berbasis Pengalaman
Kegiatan Tetum Bunaya di IIBF 2026 memperlihatkan pendekatan literasi yang mereka kembangkan.
Anak tidak hanya membaca. Mereka juga bertanya, mewawancarai, menulis, membuat buku, dan belajar dari pengalaman.
Kegiatan seperti kunjungan ke rumah Betawi, proyek lingkungan, hingga menjadi wartawan cilik menjadi contoh pembelajaran berbasis pengalaman.
Di sisi lain, penerbitan internal memberi ruang bagi siswa dan guru untuk mendokumentasikan pengalaman mereka dalam bentuk buku.
Bagi Tetum Bunaya, kegiatan tersebut menjadi cara untuk mendekatkan buku dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui IIBF 2026, sekolah juga ingin menunjukkan bahwa literasi dapat hadir dalam banyak bentuk. Anak bisa membaca, menulis, bercerita, bertanya, berkarya, dan belajar bersama.

