EDUCARE.CO.ID – Gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak 15 Agustus 2026 masih memengaruhi aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar murid tetap dapat belajar tanpa mengabaikan keselamatan.
Berdasarkan data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) per 20 Agustus 2026, sebanyak 1.378 satuan pendidikan mengalami dampak gempa. Dari jumlah tersebut, 1.268 satuan pendidikan atau sekitar 92 persen telah melaporkan kondisi pembelajaran dan kerusakan.
Kemendikdasmen kini mendukung pemerintah daerah dalam menerapkan berbagai moda pembelajaran. Sekolah dapat memilih pola belajar sesuai kondisi wilayah, tingkat kerusakan fasilitas, serta keamanan murid dan guru.

116 Ribu Murid Tetap Belajar di Tengah Situasi Darurat
Sekitar 116.324 murid terdampak tetap mengikuti pembelajaran. Pemerintah Provinsi NTT mengarahkan sekolah untuk menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi darurat di masing-masing daerah.
Sebagian murid mengikuti kegiatan belajar dari rumah atau tempat pengungsian. Pilihan tersebut muncul karena gempa susulan masih terjadi dan sejumlah bangunan sekolah belum aman untuk kegiatan tatap muka.
Dari satuan pendidikan yang telah menyampaikan laporan, sebanyak:
- 923 satuan pendidikan menerapkan belajar dari rumah;
- 171 satuan pendidikan menjalankan pembelajaran daring;
- 35 satuan pendidikan menggunakan kelas darurat;
- 30 satuan pendidikan masih menjalankan pembelajaran tatap muka.
Pola tersebut memberi ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi lapangan.
Kemendikdasmen Terbitkan Panduan Pembelajaran Darurat
Kemendikdasmen telah menerbitkan Panduan Pembelajaran di Masa Darurat untuk membantu sekolah menjaga keberlanjutan pendidikan selama masa bencana.
Panduan tersebut memberi keleluasaan kepada sekolah dalam memilih moda dan materi pembelajaran. Guru dapat memprioritaskan materi esensial, literasi dan numerasi dasar, serta kebutuhan psikososial murid.
Contoh penerapan panduan juga tersedia melalui laman Rumah Pendidikan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan keselamatan dan hak belajar anak harus berjalan beriringan dalam situasi bencana.
“Dalam situasi bencana, keselamatan dan keberlanjutan pendidikan anak harus menjadi perhatian bersama. Kemendikdasmen terus bergerak bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan, meskipun dalam kondisi darurat,” ujar Atip di NTT, Jumat (21/8/2026).
Menurut Atip, bencana tidak boleh menghentikan hak anak untuk belajar. Pemerintah juga perlu memastikan murid mendapat dukungan sesuai kondisi yang mereka hadapi.
Gempa Berdampak pada Ribuan Sekolah dan Puluhan Ribu Warga
Gempa Flores juga membawa dampak besar bagi masyarakat. Kemendikdasmen menyampaikan belasungkawa atas korban meninggal dunia yang mencapai 72 orang, termasuk tiga murid dan satu guru.
Bencana tersebut juga merusak puluhan ribu rumah dan membuat lebih dari 80 ribu warga mengungsi. Sekitar 38 ribu di antaranya merupakan warga sekolah.
Data Seknas SPAB mencatat dampak bencana tersebar di tujuh kabupaten. Wilayah terdampak mencakup 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Kerusakan fasilitas pendidikan juga cukup besar. Dari 8.664 ruang kelas yang masuk dalam pendataan, sebanyak 5.521 ruang kelas atau 63,7 persen mengalami kerusakan.
Sebanyak 2.229 ruang kelas mengalami kerusakan berat atau total. Kerusakan juga terjadi pada laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, serta rumah dinas guru.
Secara keseluruhan, 502 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat.
Tim Kemendikdasmen Bergerak Sejak Sehari Setelah Gempa
Kemendikdasmen mulai mengirim tim ke wilayah terdampak sejak 16 Agustus 2026. Tim awal bergerak dari Labuan Bajo menuju sejumlah daerah yang membutuhkan bantuan pendidikan.
Bantuan tahap awal mencakup:
- 4.500 bingkisan anak;
- paket sembako;
- 800 school kit;
- 400 family kit.
Bantuan tersebut telah menjangkau sejumlah wilayah di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada.
Tim tambahan kemudian bergerak menuju Ende, Nagekeo, dan Sikka untuk memperluas dukungan kepada satuan pendidikan terdampak.
100 Tenda Kelas Darurat Mulai Didistribusikan
Kemendikdasmen juga menyiapkan ruang belajar sementara bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat.
Sebanyak 100 tenda ruang kelas mulai didistribusikan ke wilayah terdampak. Kemendikdasmen menargetkan sekolah dapat menggunakan fasilitas tersebut pada pekan berikutnya.
Fasilitas ini menjadi bagian dari upaya pemerintah agar kerusakan gedung sekolah tidak menghentikan proses belajar murid terlalu lama.
Pendampingan Psikososial untuk Murid dan Guru
Pemulihan pendidikan tidak hanya membutuhkan ruang kelas dan perlengkapan belajar. Murid dan guru juga membutuhkan pendampingan untuk menghadapi dampak psikologis setelah gempa.
Kemendikdasmen bekerja sama dengan Himpunan Psikologi, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta sejumlah mitra perguruan tinggi dalam memberikan dukungan psikososial.
Pendampingan tersebut membantu murid dan guru menghadapi rasa takut, kecemasan, serta tekanan setelah bencana.
Ribuan Perlengkapan Sekolah Disiapkan
Untuk mendukung pemulihan pembelajaran, Kemendikdasmen juga menyiapkan bantuan tambahan.
Rencana distribusi mencakup:
- 5.000 school kit;
- 1.500 family kit;
- 6.238 mebelair;
- 3.956 papan tulis;
- 123.522 buku.
Bantuan tersebut akan disalurkan secara bertahap sesuai kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.
Kemendikdasmen juga terus mendampingi pemerintah daerah dalam menjalankan kebijakan pembelajaran darurat hingga 28 Agustus 2026.
Data Pendidikan Jadi Dasar Penyaluran Bantuan
Pemerintah juga memperbarui pendataan dampak gempa secara berkala. Sekolah dan pemerintah daerah menyampaikan informasi mengenai kerusakan serta kebutuhan pendidikan melalui formulir daring.
Data tersebut kemudian tampil melalui portal data BNPB. Mekanisme ini membantu pemerintah memantau kondisi satuan pendidikan sekaligus menentukan bentuk bantuan yang paling sesuai.
Dengan pembaruan data secara berkala, pemerintah dapat menyesuaikan distribusi bantuan berdasarkan kondisi terbaru di lapangan.
Kolaborasi Jadi Kunci Pemulihan Pendidikan Flores
Gempa Flores menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan membutuhkan kerja bersama. Kemendikdasmen, pemerintah daerah, sekolah, guru, mitra kemanusiaan, perguruan tinggi, dan masyarakat memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan pembelajaran.
Pemerintah terus mendorong percepatan distribusi bantuan, penyediaan ruang belajar darurat, pendampingan psikososial, serta dukungan bagi guru dan murid.
Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, keberlanjutan pembelajaran menjadi bagian penting dari pemulihan kehidupan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, murid di wilayah terdampak tetap memiliki ruang untuk belajar, beradaptasi, dan bangkit bersama.




