Transformasi Pendidikan Tinggi Jadi Kunci Ketahanan ASEAN di Tengah Disrupsi Global
educare.co.id, Langkawi — Transformasi pendidikan tinggi menjadi fondasi utama bagi ketahanan dan kemajuan kawasan Asia Tenggara di tengah tantangan disrupsi global yang kian kompleks. Dalam menghadapi dinamika global yang berubah cepat, sistem pendidikan tinggi dituntut untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga mampu mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan.
Data terbaru dari UNESCO tahun 2024 menunjukkan ketimpangan akses pendidikan tinggi masih menjadi persoalan serius di kawasan ASEAN. Di Indonesia sendiri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi tahun 2024 baru mencapai 32%, menandakan masih terbukanya ruang luas untuk peningkatan akses dan pemerataan pendidikan tinggi nasional.
Isu ini menjadi pembahasan utama dalam forum “ASEAN Higher Education Ministers Roundtable: Envisioning the Next Decade and Beyond” yang digelar di Langkawi, Malaysia. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mewakili Indonesia dalam pertemuan penting ini.
“Pendidikan tinggi harus melampaui pencapaian akademik dan berperan sebagai kekuatan penggerak bagi ketahanan kawasan, kemajuan inklusif, dan inovasi,” tegas Wamen Fauzan, dalam siaran tertulis Diktisaintek (23/6).
Forum tersebut juga menghasilkan ASEAN Leader Declaration on Higher Education, yang akan dibawa ke pertemuan tingkat kepala negara ASEAN. Deklarasi ini merupakan penyegaran dari Deklarasi Kuala Lumpur 2015, sekaligus penanda arah baru pendidikan tinggi ASEAN dalam menghadapi tantangan dekade mendatang.
“Indonesia mendukung penuh inisiatif mengembangkan Deklarasi ASEAN yang baru di bidang pendidikan tinggi yang spesifik dan searah dengan perubahan dinamika yang berakar dari teknologi, perubahan iklim, dan ketidakpastian global. Kami percaya bahwa deklarasi ini dapat memberi arah strategis dalam lanskap pendidikan,” ujar Wamen Fauzan.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Fauzan juga memperkenalkan inisiatif nasional bertajuk “Diktisaintek Berdampak”. Program ini mengedepankan sinergi antara kampus, industri, dan masyarakat melalui penguatan keterampilan digital, pengembangan riset terapan, serta penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan masa depan.
Inisiatif ini juga sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia dalam Asta Cita, yang menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia dan pemerataan pendidikan sebagai prioritas utama. Sebagai bagian dari target jangka menengah, Kemdiktisaintek menargetkan peningkatan APK perguruan tinggi nasional menjadi 38,04% pada tahun 2029.
Dalam penutupan diskusi, Wamen Fauzan mengajak seluruh negara ASEAN untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan tinggi guna menjawab tantangan zaman secara kolektif.
“Melalui visi bersama dan aksi kolaboratif, kita dapat membangun ekosistem pendidikan tinggi ASEAN yang inklusif, inovatif, dan berdampak,” harap Wamen Fauzan.
Di sela kegiatan, Wamen Fauzan juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pendidikan Tinggi Malaysia, YB Dato’ Seri Diraja Dr. Zambry Abdul Kadir. Dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah isu strategis untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi, termasuk finalisasi naskah kerja sama yang akan menjadi landasan pelaksanaan program bersama antara kedua negara.
Dengan semangat kolaborasi dan keberagaman, pendidikan tinggi di kawasan ASEAN diharapkan mampu menjadi motor penggerak masa depan yang inklusif, demokratis, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dan berkembang di tengah era global yang dinamis.
