Tim PKM Psikologi UNAIR Gunakan Wayang Kartun untuk Cegah Agresi Anak
educare.co.id, Surabaya — Sekelompok mahasiswa dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas pendekatan kreatif untuk menangani perilaku agresif pada anak-anak melalui media budaya lokal. Mengangkat nilai-nilai ajaran Jawa yang dikemas dalam bentuk wayang kartun, program ini bertujuan menanamkan pendidikan karakter sejak dini.
Program bertajuk Roleplay Wayang Kartun Berbasis Nilai Ajaran Tri Ajining sebagai Upaya Mengatasi Agresi Anak ini dijalankan di Rumah Belajar Surga, sebuah pusat kegiatan belajar yang terletak di kawasan rel kereta api Sukomanunggal, Surabaya. Inisiatif ini berhasil meraih pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM).
Ketua tim, Famella Predina Nugrahanty, bersama tiga anggota lainnya — Tiara Ramadhani Faadihillah, Faradina Rizkia Ramadhani, dan Tanaya Sufi Ahnaf — merancang program ini berdasarkan hasil observasi lapangan. Mereka juga dibimbing oleh dosen Bani Bacan Hacantya Yudanagara, S.Psi., M.Si.
Budaya sebagai Alat Pendidikan Karakter
Dalam pengamatannya, Famella menemukan bahwa anak-anak di lingkungan tersebut kerap meniru pola interaksi yang keras dari sekitar mereka. Hal ini kemudian mendorong perilaku agresif dalam keseharian mereka, termasuk saat proses belajar berlangsung.
“Kami menemukan bahwa banyak anak menunjukkan perilaku agresif seperti memukul, berteriak, atau berkata kasar, bahkan saat proses belajar berlangsung. Mereka terbiasa meniru lingkungan sekitar dan kurang memiliki kemampuan regulasi emosi. Jika dibiarkan, hal ini berpotensi menjadi bibit perilaku kekerasan di masa depan,” jelas Famella, dalam siaran tertulis unair (18/7).
Berdasarkan temuan tersebut, tim menyusun program berbasis nilai budaya Jawa yang dikenal sebagai Tri Ajining. Tiga nilai utama yang diajarkan meliputi: Ajining Diri Ana ing Lathi (harga diri terletak pada ucapan), Ajining Raga Saka Busana (harga tubuh tampak dari cara berpakaian), dan Ajining Awak Ana ing Tumindhak (harga diri dari perilaku).
Nilai-nilai tersebut diterapkan dalam berbagai aktivitas interaktif, seperti mendengarkan cerita, mewarnai karakter wayang, dan bermain peran melalui pertunjukan seni.
Mengukur Dampak Program
Tak hanya inovatif secara pendekatan, program ini juga disusun dengan dasar ilmiah. Tim mengadopsi teori agresi dari Buss dan Perry (1992), serta menerapkan metode student-centered learning dengan pendekatan roleplay. Anak-anak diajak belajar menghadapi situasi nyata secara kreatif sambil membangun empati.
“Kami ingin anak-anak belajar cara meregulasi emosi dan memahami perasaan orang lain melalui kegiatan yang menyenangkan dan sesuai dengan usia mereka,” terang Famella.
Untuk menilai efektivitas intervensi, tim menggunakan instrumen pre-test dan post-test yang dirancang untuk mengukur pemahaman emosi anak. Selain itu, observasi langsung juga dilakukan guna melihat perubahan perilaku selama proses berlangsung.
Tak berhenti pada anak-anak, pelatihan juga diberikan kepada para pengajar Rumah Belajar Surga serta orang tua agar pendekatan ini dapat berkelanjutan. Tim berharap metode ini bisa menjadi alternatif edukatif yang bisa diterapkan dalam jangka panjang.
“Kami berharap bahwa dengan adanya intervensi ini, agresi pada anak tidak dianggap sepele. Diperlukan kesadaran bagi orang tua serta lingkungan sekitar untuk saling menjaga satu sama lain dengan mengatasi perilaku yang tidak diinginkan lewat cara-cara yang baik,” pungkas Famella.
