EDUCARE.CO.ID – Memiliki kewarganegaraan Indonesia dan Amerika Serikat tidak membuat Silas Sims ragu menentukan pilihan di arena olahraga. Atlet jiu-jitsu berusia 11 tahun itu memilih membawa nama Indonesia dalam kompetisi internasional.
Pilihan tersebut terasa semakin istimewa setelah Silas meraih gelar juara dunia ADCC Youth World Championship 2026. Prestasi itu juga mencatatkan namanya sebagai anak Indonesia pertama sekaligus orang Indonesia pertama yang meraih gelar tersebut.
Berdasarkan wawancara tertulis keluarga Silas dengan Kompas.com, pilihan untuk mewakili Indonesia sepenuhnya datang dari Silas. Ibunya, Rie Sims, menjelaskan bahwa Silas memiliki dua kewarganegaraan karena sang ayah merupakan warga negara Amerika Serikat.

Silas Pilih Merah Putih
Meski memiliki paspor Indonesia dan Amerika Serikat, Silas justru memilih Indonesia sebagai negara yang ingin ia wakili dalam kompetisi jiu-jitsu.
Ia bahkan menggunakan nama panggung “Silas Sang Pejuang” dengan logo Garuda Indonesia sebagai simbol kecintaannya terhadap Tanah Air.
Menurut Rie, Silas memandang kesempatan mengenakan Merah Putih sebagai sebuah kehormatan.
“Bagi Silas, mengenakan Merah Putih di dadanya adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan yang tidak bisa diukur dengan apa pun,” ujar Rie.
Kini, pilihan tersebut mendapat hasil membanggakan. Silas berhasil mengibarkan nama Indonesia di panggung jiu-jitsu dunia.
Sudah Koleksi Tiga Gelar Juara Dunia
Gelar ADCC Youth World Championship 2026 bukan menjadi satu-satunya pencapaian Silas.
Sebelumnya, ia telah mengoleksi dua gelar juara dunia dari International Brazilian Jiu-Jitsu Federation (IBJJF).
Pada 2024, Silas meraih medali emas PAN Kids IBJJF No-Gi World Championship dan menyandang status juara dunia No-Gi. Setahun kemudian, ia kembali meraih emas dalam PAN Kids IBJJF Gi World Championship dan menjadi juara dunia Gi.
Dengan tambahan gelar ADCC Youth World Championship 2026, Silas kini memiliki tiga gelar juara dunia dari ajang berbeda.
Mulai Berlatih Jiu-Jitsu sejak Usia 6 Tahun
Perjalanan Silas di dunia jiu-jitsu bermula pada November 2021. Saat itu, ia baru berusia enam tahun dan mulai berlatih bersama sang adik, Hunter, yang ketika itu berusia lima tahun.
Keduanya kemudian mengikuti latihan di gym lokal dan berlatih bersama sejumlah pelatih berpengalaman.
Namun, keluarga tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas.
Rie mengatakan seluruh latihan Silas berlangsung setelah jam sekolah. Bahkan, Silas dikenal memiliki prestasi akademik yang baik dan konsisten berada di peringkat pertama kelas.
Sekolah kemudian mendukung aktivitas kompetisinya melalui sistem pembelajaran hybrid. Dengan sistem tersebut, Silas tetap dapat mengikuti pelajaran ketika harus bertanding di luar kota maupun luar negeri.
Menurut Rie, Silas memahami bahwa kedisiplinan dalam belajar sama pentingnya dengan kedisiplinan dalam berlatih.
Jiu-Jitsu Mengajarkan Silas Berpikir Cepat
Bagi Silas, jiu-jitsu bukan sekadar olahraga bela diri. Ia melihat olahraga tersebut seperti permainan catur karena membutuhkan strategi dan pengambilan keputusan secara cepat.
Saat menghadapi lawan, Silas perlu membaca situasi, menentukan teknik, lalu mencari solusi yang tepat.
Proses tersebut juga membantu membentuk karakternya. Ia belajar disiplin, menghormati lawan, menjaga ketenangan, serta menerima kemenangan dan kekalahan.
“Silas sendiri sangat menikmati proses belajar Jiu-Jitsu karena menurutnya olahraga ini seperti bermain catur,” kata Rie.
Dengan demikian, kompetisi tidak hanya menjadi tempat Silas mengejar medali. Setiap pertandingan juga menjadi ruang untuk belajar dan mengembangkan diri.
Debut dengan Medali Perak
Silas memulai perjalanan kompetisinya hanya tiga bulan setelah menjalani latihan.
Dalam kejuaraan pertamanya di Kota San Diego, California, ia langsung membawa pulang medali perak.
Hasil tersebut membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Ia kemudian semakin aktif mengikuti berbagai kompetisi.
Untuk mencapai ADCC Youth World Championship, Silas harus melalui proses kualifikasi yang panjang. Ia mengumpulkan poin melalui berbagai seri ADCC Open yang berlangsung di sejumlah kota dan negara.
Hanya 20 atlet terbaik pada setiap kategori usia dan berat badan yang memperoleh tiket ke kejuaraan dunia.
Silas akhirnya mengamankan tempat tersebut setelah konsisten meraih kemenangan dan medali emas dalam sejumlah seri ADCC Open.
Perjalanan panjang itu kemudian berakhir dengan gelar juara dunia ADCC Youth World Championship 2026.
Orang Tua Tidak Memaksakan Pilihan
Di balik perjalanan Silas, keluarga memiliki prinsip untuk tidak menentukan masa depan anak secara sepihak.
Rie mengatakan Silas dan Hunter sejak kecil mendapat kesempatan mencoba berbagai aktivitas. Tujuannya agar keduanya dapat menemukan sendiri bidang yang mereka sukai.
“Kami percaya bahwa tugas orang tua bukan menentukan impian anak, melainkan membantu mereka menemukan passion mereka sendiri,” ujar Rie.
Sebelum serius menekuni jiu-jitsu, Silas sempat mencoba berbagai olahraga di sekolah. Ia juga menyukai aktivitas yang berhubungan dengan air dan kemudian tertarik pada surfing.
Sang ayah sendiri memiliki latar belakang sebagai peselancar serta pernah berlatih berbagai olahraga bela diri.
Empat Tahun Bertanding Tanpa Sponsor
Prestasi Silas juga lahir dari dukungan besar keluarganya. Selama sekitar empat tahun, keluarga menanggung sendiri berbagai kebutuhan kompetisinya.
Biaya tersebut mencakup tiket pesawat, hotel, pendaftaran pertandingan, perlengkapan, hingga pelatih.
Menurut Rie, keluarga hampir tidak pernah memperoleh sponsor. Mereka justru memilih menjaga agar aktivitas olahraga Silas tidak berubah menjadi tekanan profesional.
“Kami tidak ingin masa kecil anak-anak kami berubah menjadi beban pekerjaan profesional,” kata Rie.
Bagi keluarga, pengalaman yang Silas dapatkan dari setiap kompetisi memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar jumlah medali.
Kompetisi internasional juga mempertemukan Silas dengan anak-anak dari berbagai negara. Mereka tidak hanya bertanding, tetapi juga bermain, mengenal budaya lain, dan membangun persahabatan melalui olahraga.
Juara Dunia, tetapi Tetap Ingin Jadi Pilot
Meski telah meraih berbagai gelar dunia, Silas masih memiliki cita-cita lain.
Sejak kecil, ia ingin menjadi pilot pesawat jet. Menurut Rie, cita-cita tersebut tidak berubah hingga sekarang.
Prestasi olahraga yang diraih Silas diharapkan dapat membuka peluang pendidikan, termasuk kesempatan mendapatkan beasiswa pada masa mendatang.
Di sisi lain, Silas tetap ingin melanjutkan perjalanan di dunia jiu-jitsu. Ia bahkan membayangkan suatu hari dapat menjadi pelatih dan membantu melahirkan generasi atlet berikutnya.
Baginya, jiu-jitsu bukan hanya soal memenangkan pertandingan. Olahraga tersebut menjadi sarana untuk membangun disiplin, kepemimpinan, karakter, sekaligus membuka kesempatan baru.
Bawa Nama Indonesia di Podium Dunia
Setelah memenangkan gelar dunia, Silas mengaku bangga dan terharu. Ia menyadari pencapaian tersebut lahir dari latihan, pengorbanan, doa, serta dukungan keluarga dan pelatih.
Namun, ada satu momen yang memiliki arti khusus baginya: berdiri di podium sambil membawa nama Indonesia.
Logo Garuda dan Merah Putih yang ia kenakan menjadi simbol pilihan Silas untuk mewakili Indonesia di arena internasional.
Keluarga Silas berencana kembali ke Indonesia pada November 2026. Mereka juga tengah menyiapkan seminar bersama sejumlah gym jiu-jitsu di Jakarta agar Silas dapat bertemu dengan anak-anak Indonesia yang memiliki ketertarikan terhadap olahraga tersebut.
Rie berharap perjalanan putranya dapat memberikan inspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk berani mengejar mimpi.
“Harapan kami sederhana, semoga perjalanan Silas dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi besar,” ujar Rie.


