EDUCARE.CO.ID – Ampas kacang tanah biasanya berakhir sebagai limbah setelah proses ekstraksi. Namun, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melihat bahan tersebut sebagai peluang untuk menciptakan produk pangan baru.
Melalui inovasi yang dikembangkan di Vietnam, Zahrah Nabila Ariq mengolah ampas kacang tanah menjadi snack bar. Produk tersebut menjadi bagian dari kegiatan International Community Development Thematic SDGs dalam program Mahasiswa Membangun Desa–Doktor Mengabdi (MMD-DM) UB 2026.
Berdasarkan sumber Universitas Brawijaya pada 18 Agustus 2026, Zahrah mengembangkan produk tersebut di bawah bimbingan Dr. nat. techn. Sudarma Dita Wijayanti, STP, MSc, MP.
Tim pengabdian masyarakat yang dipimpin Sudarma juga berkolaborasi dengan University of Science and Education–The University of Da Nang (UED-UD), Vietnam).
Ampas Kacang Tanah Jadi Bahan Snack Bar
Inovasi ini memanfaatkan bagian padat yang tersisa setelah proses ekstraksi kacang tanah. Alih-alih membuangnya, Zahrah mengeringkan ampas tersebut dan mengolahnya sebagai bahan dasar snack bar.
Pendekatan tersebut menerapkan konsep zero waste dalam pengolahan pangan. Dengan cara ini, sisa produksi dapat kembali masuk ke rantai pemanfaatan dan menghasilkan produk dengan nilai tambah.
Inovasi tersebut juga menawarkan alternatif diversifikasi pangan berbasis kacang tanah. Bahan lokal yang sebelumnya memiliki pemanfaatan terbatas kini dapat hadir dalam bentuk camilan yang lebih praktis.
Zahrah Lakukan Uji Coba Selama Tiga Bulan
Pengembangan produk berlangsung melalui serangkaian percobaan sejak Mei hingga Juli 2026. Zahrah menyesuaikan komposisi bahan untuk mendapatkan formulasi dengan karakteristik yang sesuai.
Ia juga menambahkan bahan pendukung, seperti oat dan buah kering. Selain itu, Zahrah mengatur suhu serta waktu pemanggangan untuk mendapatkan tekstur dan cita rasa yang diinginkan.
Hasil akhirnya menghadirkan snack bar dengan tekstur renyah sekaligus chewy. Cita rasa kacang tanah juga tetap menjadi karakter utama produk.
“Hasil pengembangan menghasilkan snack bar kacang tanah dengan karakteristik tekstur yang renyah dan chewy serta cita rasa kacang yang khas. Untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen, dilakukan pula uji hedonik terhadap 34 panelis tidak terlatih,” jelas Zahrah dalam keterangan tertulis UB.
34 Panelis Uji Penerimaan Produk
Zahrah tidak berhenti pada tahap pembuatan produk. Tim juga melakukan uji hedonik untuk melihat tingkat penerimaan konsumen.
Sebanyak 34 panelis tidak terlatih mengikuti pengujian tersebut. Mereka menilai sejumlah atribut produk, mulai dari warna, aroma, rasa, tekstur, hingga penampilan.
Hasil pengujian menunjukkan penerimaan yang baik pada seluruh atribut tersebut. Penilaian juga mencakup penerimaan produk secara keseluruhan.
“Hasil pengujian menunjukkan bahwa produk memperoleh penerimaan yang baik pada atribut warna, aroma, rasa, tekstur, penampilan, dan penerimaan keseluruhan,” kata Zahrah.
Temuan ini menjadi modal awal bagi pengembangan snack bar berbahan ampas kacang tanah sebagai produk pangan alternatif.
Berangkat dari Persoalan Limbah Pangan di Da Nang
Pengembangan produk tersebut tidak muncul tanpa alasan. Tim UB melihat sejumlah persoalan yang berkembang di Da Nang, Vietnam.
Salah satunya berkaitan dengan peningkatan timbulan limbah pangan. Data yang menjadi latar belakang program menunjukkan jumlah limbah pangan meningkat dari 0,39 kilogram menjadi 0,52 kilogram per orang per hari.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan baru dalam mengelola sisa bahan pangan. Pemanfaatan ampas kacang tanah menjadi snack bar menjadi salah satu contoh bagaimana limbah dapat kembali memiliki nilai guna.
Kacang Tanah Melimpah, Nilai Tambah Masih Bisa Ditingkatkan
Vietnam tengah memiliki komoditas kacang tanah dalam jumlah melimpah. Namun, masyarakat setempat masih banyak mengolahnya dengan cara sederhana.
Beberapa metode yang umum digunakan antara lain merebus, menggoreng, dan menyangrai kacang tanah. Pola konsumsi tersebut menunjukkan masih terbuka peluang untuk mengembangkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Melalui inovasi snack bar, mahasiswa UB mencoba memperluas pemanfaatan kacang tanah sekaligus mengolah bagian sisanya.
Snack Bar Nabati Jawab Kebutuhan Camilan Praktis
Tim juga mempertimbangkan persoalan gizi yang muncul di Vietnam. Negara tersebut menghadapi triple burden of malnutrition, yaitu tantangan gizi yang mencakup berbagai bentuk masalah malnutrisi.
Di sisi lain, kebutuhan terhadap camilan berbasis nabati atau plant-based terus berkembang. Konsumen membutuhkan makanan yang praktis, ekonomis, sekaligus memiliki nilai gizi.
Snack bar berbahan dasar ampas kacang tanah kemudian hadir sebagai salah satu alternatif yang dapat menjawab kebutuhan tersebut.
Dari Limbah Pangan Menjadi Produk Bernilai
Inovasi Zahrah memperlihatkan bahwa sisa proses pengolahan pangan tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengolahan yang tepat, bahan tersebut dapat kembali menjadi bagian dari produk pangan.
Program MMD-DM UB 2026 di Vietnam juga mempertemukan inovasi mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat. Kolaborasi UB dan UED-UD membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan solusi yang relevan dengan isu lingkungan, pangan, dan gizi.
Pengembangan snack bar ampas kacang tanah menjadi salah satu contoh bagaimana konsep zero waste, diversifikasi pangan, dan inovasi berbasis bahan lokal dapat berjalan secara bersamaan.


