Mahasiswa ITB Rancang Inovasi Budidaya Rumput Laut Otomatis, Sabet Juara Nasional dan Gaet Perhatian KKP
educare.co.id, Jakarta – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengukir prestasi membanggakan di ajang nasional melalui inovasi yang menjawab langsung persoalan sektor kelautan. Tim Velocity Rumpita yang beranggotakan Delvia Marsinta Br Surbakti dan Muhamad Farhan (Teknik Sipil 2024), serta Madriena Nazaha Arief (Teknik Lingkungan 2024), sukses meraih posisi kedua dalam Undergraduate Business Plan Competition Makarapreneur 2025 yang digelar oleh HIPMI Perguruan Tinggi Universitas Indonesia (UI). Penghargaan diserahkan secara resmi di Makara Art Center, UI, Sabtu (17/5/2025).
Berawal dari keinginan untuk menjajal tantangan baru, tim ini mengikuti kompetisi dengan semangat belajar yang tinggi dan konsistensi dalam setiap tahap seleksi. Mereka melewati tiga fase utama: mulai dari penyusunan Business Model Canvas (BMC), pengembangan proposal bisnis yang komprehensif, hingga sesi presentasi (pitch deck) di hadapan dewan juri.
Menjawab Masalah Petani Rumput Laut Lewat Teknologi
Gagasan bisnis yang mereka ajukan tidak lahir dari ruang kelas semata, tetapi dari kenyataan di lapangan. Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi besar dalam budidaya rumput laut, namun produktivitasnya masih rendah akibat keterbatasan teknologi yang mendukung. Salah satu inspirasi datang dari cerita Pak Harry, seorang petani rumput laut di Lombok, yang masih mengandalkan cara manual dalam proses tanam dan panen, serta kerap mengalami kegagalan panen saat musim hujan karena perubahan salinitas laut.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, Tim Velocity Rumpita merancang sistem budidaya berbasis otomatisasi yang terdiri dari dua perangkat utama: Plant Harvest Machine dan Automatic Mechanical Line.
Mesin Plant Harvest dirancang untuk menanam dan memanen rumput laut secara otomatis dengan hanya satu operator, sedangkan Automatic Mechanical Line berfungsi mengatur kedalaman tali rumput laut secara otomatis agar dapat beradaptasi terhadap perubahan salinitas yang berisiko saat musim hujan.
Teknologi ini dilengkapi dengan panel surya dan sensor yang memantau suhu, intensitas cahaya, kedalaman air, serta kecepatan ombak. Semua data dipantau secara real-time melalui Rumpita App, sebuah aplikasi berbasis jaringan LoRa yang user-friendly dan membantu petani mengambil keputusan secara tepat waktu.
Sambutan Positif dari KKP
Inovasi ini tak hanya menarik perhatian publik, tapi juga mengundang respon positif dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Tim diundang secara khusus untuk mempresentasikan hasil rancangan mereka di Gedung Mina Bahari IV, Jakarta Pusat, Rabu (7/5/2025). Dalam pertemuan tersebut, tim mendapat sejumlah masukan teknis, termasuk ide penambahan sistem penggetar untuk meningkatkan efektivitas panen.
Peran UKM dan Mentor
Dukungan dari lingkungan kampus juga menjadi kunci penting dalam kesuksesan tim ini. Delvia dan Farhan tergabung dalam Techno Entrepreneur Club (TEC) ITB, yang melalui program Tech Companion, mempertemukan mereka dengan mentor bisnis Pieter Jose Santoso, S.Bns.—alumnus Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB. Bimbingan dari Pieter memberi banyak wawasan, khususnya dalam aspek pengembangan ide dan disiplin kerja.
Di balik capaian mereka, tak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari membaca literatur yang tidak familiar, mencari ide yang relevan, hingga mengatur waktu di tengah padatnya aktivitas akademik. Namun dengan kekompakan tim, semua dapat dilalui.
“Tantangan yang dihadapi saat itu adalah harus mengatur waktu antara jadwal akademik dengan pengejaan lomba ini, sehingga kami harus pintar-pintar membagi prioritas dan saling membantu satu sama lain,” ujar Farhan, dalam siaran tertulis ITB (25/6).
Lebih dari sekadar lomba, bagi mereka, kompetisi ini menjadi wadah kontribusi nyata dalam menjawab permasalahan masyarakat melalui solusi berbasis teknologi.
“Maksimalkan kuliah, bangun relasi, dan jangan takut untuk memulai. Manfaatkan semua peluang yang ada dan tentukan tujuan dengan jelas,” ujar Madriena.
Tim berharap inovasi ini bisa terus dikembangkan dan diterapkan secara luas untuk membantu petani sekaligus mendukung peningkatan produktivitas sektor kelautan nasional.
“Kalau bisa direalisasikan di masa depan dan punya resource yang cukup, kami akan sangat bangga dan senang jika ini bisa direalisasikan, karena tentunya mesin ini akan memudahkan petani sehingga dapat mendorong pemanfaatan potensi laut di Indonesia secara lebih optimal,” ujar Delvia.
Velocity Rumpita tak sekadar menjadi proyek kompetisi, tetapi juga menjadi gambaran nyata bahwa empati sosial, kolaborasi lintas ilmu, dan penerapan teknologi bisa melahirkan solusi yang relevan serta berdampak langsung pada masyarakat.
