Mahasiswa Untag Semarang Sulap Limbah Sungai Jadi Material Bangunan, Solusi Banjir dan Ekonomi Warga

Must read

EDUCARE.CO.ID-Tim Program Mahasiswa Berdampak Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang menghadirkan inovasi konstruksi hijau yang menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu risiko banjir dan pemanfaatan limbah lingkungan.

Tim menjalankan program tersebut di Kelurahan Penggaron Kidul, Kota Semarang. Wilayah ini memiliki potensi material lokal yang cukup besar, mulai dari sedimen Sungai Babon, abu sekam padi, hingga limbah batu bata.

Tim memaparkan hasil inovasi tersebut dalam Seminar Dampak Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025 yang diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Dorong Ekonomi Hijau Berbasis Potensi Lokal

Dosen Untag Semarang sekaligus anggota tim pelaksana program, Agustinus Sungsang Nana Patria, menjelaskan bahwa Penggaron Kidul memiliki sumber daya yang mendukung pengembangan ekonomi hijau.

Selain memiliki material ramah lingkungan yang melimpah, kawasan tersebut juga memiliki lebih dari 100 tukang bangunan dan pengrajin batu bata.

Potensi itu mendorong tim untuk mengembangkan program berbasis konstruksi berkelanjutan.

“Kami melihat potensi material lokal yang sangat besar. Karena itu kami mengembangkan konstruksi hijau yang dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Agustinus.

Beton Porous Bantu Kurangi Genangan Air

Tim mengembangkan beton porous sebagai salah satu produk unggulan program.

Beton ini memiliki pori-pori yang memungkinkan air meresap langsung ke dalam tanah. Tim merancang material tersebut untuk kebutuhan paving block dan area terbuka.

Melalui teknologi ini, air hujan tidak langsung mengalir ke saluran drainase atau sungai.

Kondisi tersebut membantu mengurangi genangan sekaligus menekan risiko banjir di kawasan sekitar Sungai Babon.

Selain mengembangkan beton porous, tim juga menciptakan alat uji beton berbentuk corong. Alat tersebut membantu pengguna mengukur kekentalan campuran, aliran material, dan tingkat keroposan beton secara lebih akurat.

Sedimen Sungai Berubah Menjadi Batu Bata Ramah Lingkungan

Tim juga memanfaatkan sedimen Sungai Babon sebagai bahan utama pembuatan batu bata.

Langkah ini memberikan dua manfaat sekaligus. Masyarakat dapat mengurangi penumpukan sedimen di sungai sekaligus menghasilkan produk konstruksi bernilai ekonomi.

Tim menambahkan serat sekam padi dalam proses produksi. Campuran tersebut meningkatkan kekuatan ikatan antarpartikel sehingga menghasilkan batu bata yang lebih kokoh.

“Pemanfaatan sedimen sungai membantu mengurangi pendangkalan. Di sisi lain, masyarakat memperoleh bahan baku alternatif dengan biaya yang lebih rendah,” jelas Agustinus.

Warga Ikut Merasakan Dampak Program

Program ini tidak hanya menghasilkan inovasi teknologi.

Tim juga melatih para tukang bangunan agar memahami prinsip konstruksi hijau dan penggunaan material ramah lingkungan.

Setelah mengikuti pelatihan, sejumlah peserta mulai mengerjakan berbagai proyek pembangunan di Kota Semarang.

Masyarakat juga mulai memasarkan batu bata hasil inovasi tersebut. Konsumen memanfaatkan produk itu untuk pembangunan rumah satu hingga dua lantai.

Gandeng 19 Mitra untuk Perluas Pasar

Tim memperkuat keberlanjutan program melalui kerja sama dengan 19 mitra eksternal.

Mitra tersebut berasal dari instansi pemerintah, perusahaan konstruksi, serta organisasi profesi seperti Inkindo, Gapensi, dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Kolaborasi ini membuka peluang hilirisasi produk sekaligus memperluas akses pasar bagi masyarakat.

Kampus Hadirkan Solusi Nyata untuk Lingkungan

Agustinus berharap praktik konstruksi hijau dapat berkembang lebih luas di Indonesia.

Ia juga mendorong tenaga kerja konstruksi untuk meningkatkan kompetensi dan memahami prinsip pembangunan berkelanjutan.

“Kami berharap masyarakat semakin mengenal konstruksi hijau. Kami juga ingin produk yang lahir dari program ini memiliki daya saing dan mendapat pengakuan yang lebih luas,” katanya.

Program Mahasiswa Berdampak menunjukkan bahwa inovasi kampus dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui kolaborasi yang kuat, perguruan tinggi mampu menghadirkan solusi untuk lingkungan, ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article