EDUCARE.CO.ID – Keuskupan Labuan Bajo kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk calon imam yang matang secara manusiawi, spiritual, dan pastoral. Komitmen itu diwujudkan melalui Kegiatan Psikoedukasi bagi Para Frater Projo yang berlangsung pada 27–28 Juli 2026 di Rumah Spiritualitas UNIO Keuskupan Labuan Bajo.
Sebanyak 51 frater tingkat I hingga V mengikuti kegiatan ini sebagai bagian dari proses formasi menuju imamat. Berdasarkan sumber rilis Keuskupan Labuan Bajo, kegiatan tersebut mengusung tema “Mengenal Diri, Mengelola Hati, dan Menghidupi Panggilan.”
Melalui tema itu, para frater diajak mengenali diri secara lebih mendalam, membangun kematangan afeksi, mengembangkan relasi yang sehat, serta menyiapkan diri menjadi pelayan Gereja yang berintegritas.
Formasi Imam Tidak Cukup Hanya Teologi
Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Rikard Manggu, membuka kegiatan tersebut dengan menekankan pentingnya pembentukan pribadi dalam perjalanan panggilan seorang imam.
Menurutnya, calon imam perlu mengolah diri agar tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan mampu membangun relasi yang sehat. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam menggunakan media digital sebagai sarana komunikasi.
“Para frater mesti mampu mengolah diri agar menjadi pribadi yang matang dan dewasa. Seorang pelayan Gereja juga perlu memahami serta menghidupi budaya safeguarding sebagai tanggung jawab melindungi anak dan orang dewasa rentan,” ujar Rm. Rikard.
Dengan demikian, formasi imam tidak hanya menekankan aspek spiritual, tetapi juga mencakup kedewasaan emosional dan tanggung jawab sosial.
Budaya Safeguarding Jadi Bagian Penting Pelayanan Gereja
Pada kesempatan yang sama, Sr. Rita Hana, SSpS memaparkan Kebijakan Perlindungan (Safeguarding) Keuskupan Labuan Bajo yang diluncurkan pada 6 Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh pelayan pastoral yang berkarya atas nama Keuskupan Labuan Bajo.
Lebih lanjut, Sr. Rita menegaskan bahwa safeguarding bertujuan membangun budaya pelayanan yang aman, bermartabat, dan bebas dari penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan, maupun eksploitasi.
Sementara itu, Rm. Frans Nala, Sekretaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo sekaligus Ketua Panitia Perlindungan, menjelaskan bahwa keuskupan telah membentuk Safeguarding Committee untuk memastikan kebijakan tersebut berjalan konsisten hingga tingkat komunitas basis gerejawi.
Ia berharap setiap paroki, lembaga pendidikan, dan karya pastoral menjadi ruang yang aman serta menghormati martabat setiap pribadi.
Psikoedukasi Sentuh Emosi, Relasi, dan Kehidupan Digital
Tim Psikologi Ruang yang berafiliasi dengan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng membawakan materi utama psikoedukasi. Melalui pendekatan psikologi yang aplikatif dan reflektif, para peserta diajak memahami dinamika emosi, pengalaman hidup, serta pola relasi mereka.
Psikolog Tira Bilo menyampaikan sejumlah tema penting, antara lain:
- Siapakah Aku? Mengenal Diri sebelum Menghidupi Panggilan,
- Mengelola Hati: Regulasi Emosi dan Kedewasaan Afeksi,
- Luka Batin dan Pola Relasi,
- Menjadi Pribadi Utuh di Era Digital,
- Relasi Psiko-Afektif, dan
- Pribadi Terintegrasi: Manusia Dewasa, Relasional, dan Siap Melayani.
Melalui materi tersebut, para frater belajar mengintegrasikan aspek manusiawi dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Siapkan Imam yang Berintegritas dan Siap Melayani
Keuskupan Labuan Bajo memandang formasi imam sebagai proses pembinaan yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia. Karena itu, pembinaan mencakup aspek spiritual, intelektual, psikologis, afektif, relasional, moral, dan psikoseksual.
Pendekatan ini sejalan dengan ajaran Pastores Dabo Vobis dan Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis: The Gift of the Priestly Vocation (2016) yang menempatkan formasi manusiawi sebagai fondasi seluruh proses pembinaan imam.
Pada akhirnya, Keuskupan Labuan Bajo berharap para frater bertumbuh menjadi pribadi yang matang secara manusiawi, kokoh secara rohani, sehat secara psikologis, serta siap menghadirkan wajah Gereja yang aman, penuh belas kasih, dan berintegritas.
Dengan demikian, mereka diharapkan mampu mewartakan Injil tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui kualitas hidup yang mencerminkan kasih, kedewasaan, dan tanggung jawab dalam pelayanan kepada umat.




