EDUCARE.CO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengajak generasi muda menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan sikap kritis, terbuka, dan siap belajar.
Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Stella menegaskan bahwa kemajuan AI tidak mengurangi pentingnya perguruan tinggi. Sebaliknya, teknologi tersebut semakin menegaskan peran kampus sebagai pusat lahirnya pengetahuan dan inovasi.
Stella menyampaikan pandangan itu saat menjadi pembicara utama dalam Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 bertema Learn & Lead: Rooted in Purpose, Growing for Impact.
AI Menuntut Kemampuan Berpikir Kritis
Dalam sesi bertajuk Bagaimana Keberlanjutan di Era Artificial Intelligence?, Stella mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menikmati kemudahan AI. Menurutnya, teknologi ini juga membawa tantangan baru yang menuntut kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri menilai hasil keluaran AI secara mandiri. Mereka harus mampu memeriksa akurasi informasi, memahami konteks, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.
Stella Christie mengatakan bahwa para peserta forum menyepakati pengajaran AI bagi anak-anak, penguatan etika penggunaan AI, serta pengembangan gagasan beyond AI.
Ia menilai etika penggunaan AI sama pentingnya dengan kemampuan teknis mengoperasikan teknologi tersebut.
Tiga Peran Strategis Perguruan Tinggi
Stella kemudian menjelaskan tiga peran strategis perguruan tinggi di era AI.
Pertama, kampus harus menciptakan pengetahuan baru melalui riset dan inovasi.
Kedua, kampus perlu mentransmisikan pengetahuan secara bermakna kepada mahasiswa dan masyarakat.
Ketiga, kampus harus mengkurasi informasi agar berubah menjadi pengetahuan yang bernilai dan bermanfaat.
Menurut Stella, ketiga peran tersebut akan menjaga relevansi pendidikan tinggi di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Stella menegaskan bahwa universitas harus terus menciptakan pengetahuan baru dan mendorong inovasi, sehingga kampus perlu memperkuat ketiga fungsi utamanya.
AI dan Koding Jadi Bagian Transformasi Pendidikan
Selain berbicara tentang perguruan tinggi, Stella juga menyoroti pentingnya penguatan literasi digital sejak usia sekolah. Pemerintah mulai menghadirkan pembelajaran AI dan koding sebagai bagian dari transformasi pendidikan nasional.
Melalui langkah tersebut, pemerintah mendorong peserta didik agar tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara kerjanya secara bertanggung jawab.
Stella menegaskan bahwa manusia tetap memegang kendali utama dalam proses berpikir, menilai, dan menciptakan solusi.
“Jika manusia mampu menciptakan pengetahuan, mentransmisikan pengetahuan, dan mengkurasi pengetahuan, maka manusia tidak akan tergantikan oleh AI,” katanya.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa terus mengembangkan kreativitas, kepemimpinan, empati, dan kemampuan analitis.
Kemdiktisaintek Bangun Ekosistem Pendidikan Tinggi Adaptif
Di sisi lain, Kemdiktisaintek terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra pendidikan, industri, dan komunitas riset. Kolaborasi tersebut bertujuan membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Langkah ini sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak untuk melahirkan talenta unggul, memperkuat inovasi, dan menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Melalui penguatan peran kampus, pemerintah berharap perguruan tinggi mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan pengetahuan baru yang memberi manfaat bagi Indonesia.
Selain itu, pemerintah mendorong generasi muda untuk menghadirkan inovasi digital yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan dukungan kolaborasi antarlembaga dan antarnegara, Indonesia juga berpeluang mempercepat terbentuknya ekosistem pendidikan digital yang berdaya saing global.



