EDUCARE.CO.ID – Siswa madrasah tidak hanya belajar teori di ruang kelas. Dua kelompok siswa di Banten dan Jawa Barat justru mengembangkan teknologi untuk membantu masyarakat menghadapi ancaman bencana.
Mereka menciptakan perangkat yang mampu mendeteksi tanda awal kebakaran dan banjir. Teknologi tersebut memanfaatkan sensor, mikrokontroler, panel surya, serta sistem peringatan untuk memberi informasi kepada warga ketika kondisi mulai berbahaya.
Dua inovasi tersebut hadir dari siswa MAN 2 Lebak, Banten, dan MA Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat. Keduanya mengembangkan teknologi berdasarkan persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar.
Siswa MAN 2 Lebak Buat Alat Deteksi Kebakaran
Siswa kelas 12 IPA MAN 2 Lebak, Alya Nurul dan Nabil Lutfianyah, mengembangkan alat bernama Solar Fire Guard Sentinel.
Mereka membuat perangkat tersebut setelah melihat kasus kebakaran di sekitar tempat tinggal dan sekolah. Salah satu peristiwa bahkan terjadi di area belakang sekolah mereka.
Menurut Alya, masalah kebakaran tidak hanya muncul ketika api sudah membesar. Keterlambatan mengetahui titik api juga dapat memperparah situasi.
“Sebenarnya masalah utamanya itu bukan hanya api yang membesar, melainkan kebakaran yang terlambat kita ketahui. Makanya kita membuat robot yang di mana dia dapat memberitahukan kepada pengguna agar kita bisa meminimalisir kebakaran itu apinya cepat membesar,” tutur Alya, Selasa (1/9/2026).
Karena itu, Alya dan Nabil merancang Solar Fire Guard Sentinel untuk mengenali tanda awal kebakaran dan memberikan peringatan kepada pengguna.
Gabungkan Sensor Asap, Suhu, dan Api
Solar Fire Guard Sentinel menggabungkan beberapa sensor dalam satu sistem.
Perangkat tersebut menggunakan sensor gas dan asap MQ-2, sensor suhu DHT22, serta sensor flame. Mikrokontroler ESP32 kemudian mengolah data dari sensor tersebut.
Sistem akan memberikan peringatan ketika suhu melewati 35 derajat Celsius dan sensor menemukan indikasi asap atau api.
Setelah kondisi tersebut terdeteksi, perangkat mengirimkan notifikasi ke aplikasi pada ponsel pengguna. Dengan begitu, pengguna dapat mengetahui potensi kebakaran tanpa harus terus berada di lokasi.
Panel Surya Bikin Robot Lebih Mandiri
Para siswa juga memperhitungkan kondisi lokasi yang tidak selalu memiliki akses listrik.
Karena itu, Solar Fire Guard Sentinel menggunakan panel surya sebagai sumber energi. Fitur ini memungkinkan perangkat bekerja di lokasi yang jauh dari jaringan listrik, termasuk kawasan hutan.
Penggunaan energi surya juga membuat perangkat lebih fleksibel untuk kebutuhan pemantauan di lapangan.
Namun, pengembangan alat tersebut masih menghadapi tantangan teknis. Salah satunya muncul ketika Alya dan Nabil mencoba menghubungkan sistem dengan dashboard untuk memantau data.
Nabil mengaku belum terlalu memahami coding ketika mengembangkan sistem tersebut. Ia kemudian memanfaatkan bantuan teknologi AI untuk mencari kesalahan dan memperbaiki kode.
“Dalam kesulitan saat monitoring dari ngambil data ke dashboard-nya, karena saya juga sebenarnya belum paham coding, jadi saya memakai bantuan tools AI untuk mengoreksi sampai berhasil,” ungkap Nabil.
Siswa Siapkan Pengembangan AI untuk Kamera
Alya dan Nabil tidak berhenti pada prototipe yang ada saat ini. Mereka berencana mengembangkan Solar Fire Guard Sentinel dengan menambahkan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Mereka ingin mengintegrasikan AI pada sistem kamera. Teknologi tersebut nantinya dapat membantu perangkat mengenali tanda kebakaran dengan tingkat akurasi yang lebih baik.
Pengembangan ini menunjukkan bagaimana siswa dapat memanfaatkan teknologi digital untuk menjawab persoalan nyata di lingkungan sekitar.
Siswa Kuningan Ciptakan Robot Pemantau Banjir
Sementara itu, inovasi lain datang dari siswa MA Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat.
Bio Royan dan Naufal Imam Fahmi mengembangkan robot bernama Arsa Ban. Perangkat tersebut mereka rancang untuk memantau potensi banjir di sekitar sungai kecil dan saluran drainase.
Ide tersebut muncul setelah Bio melihat kondisi kawasan Ciliwung yang beberapa kali mengalami luapan air. Ketinggian air bahkan dapat mencapai sekitar dua meter.
Pengalaman tersebut mendorong keduanya mencari cara agar warga yang tinggal di sekitar sungai kecil dan drainase dapat memperoleh peringatan lebih cepat.
“Kami membuat robot ini agar memudahkan dan juga membuat warga-warga sekitar yang tinggal di dekat sungai kecil maupun drainase yang belum memiliki sistem pemantauan, agar mereka dapat melakukan evakuasi dengan lebih cepat,” ujar Naufal.
Arsa Ban Pantau Ketinggian Air
Arsa Ban menggunakan Arduino Uno R3 sebagai mikrokontroler utama. Perangkat tersebut terhubung dengan sensor ultrasonik JSN-SR04T dan float switch untuk memantau kondisi air.
Robot kemudian memberikan informasi kondisi melalui indikator lampu tiga warna.
- Hijau menunjukkan kondisi aman.
- Kuning menandakan kondisi waspada.
- Merah menunjukkan kondisi bahaya.
Ketika sistem mendeteksi kondisi bahaya, Arsa Ban dapat mengirimkan SMS ke ponsel warga.
Perangkat tersebut mampu menyimpan hingga 500 nomor telepon. Dengan kapasitas tersebut, sistem dapat mengirim peringatan kepada banyak warga secara bersamaan.
Pilih SMS agar Peringatan Lebih Mudah Diterima
Bio mengatakan tim memilih SMS karena layanan tersebut lebih mudah menjangkau masyarakat.
Mereka tidak ingin sistem bergantung pada aplikasi tertentu. Sebab, tidak semua warga memiliki atau menggunakan aplikasi komunikasi yang sama.
“Kami memilih SMS karena jauh lebih mudah untuk menjangkau masyarakat secara luas. Karena jika menggunakan Telegram, tidak semua orang memiliki Telegram. Jadi biar lebih simpel,” kata Bio.
Pilihan tersebut membuat sistem peringatan lebih sederhana. Warga cukup memiliki ponsel untuk menerima informasi ketika kondisi air mencapai level bahaya.
Arsa Ban Raih Penghargaan di KOSMI
Arsa Ban juga membawa prestasi bagi para pengembangnya. Inovasi tersebut meraih Honorable Mention dan menempati peringkat kedelapan pada final Kompetisi Sains Muslim Indonesia (KOSMI).
Selain mengembangkan teknologi, proyek tersebut menunjukkan kemampuan siswa dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Teknologi Siswa Jadi Solusi Mitigasi Bencana
Solar Fire Guard Sentinel dan Arsa Ban menunjukkan cara siswa madrasah memanfaatkan teknologi untuk menjawab persoalan di sekitar mereka.
Alya dan Nabil fokus pada deteksi dini kebakaran dengan sensor dan ESP32. Sementara itu, Bio dan Naufal mengembangkan sistem pemantauan banjir dengan sensor ketinggian air dan peringatan melalui SMS.
Keduanya juga memanfaatkan panel surya agar perangkat dapat bekerja di lokasi dengan keterbatasan listrik.
Inovasi tersebut menjadi contoh bahwa pembelajaran sains dan teknologi di madrasah dapat berkembang menjadi proyek yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Lebih dari sekadar membuat robot, para siswa belajar mencari masalah, merancang solusi, menguji teknologi, hingga menghadapi tantangan teknis selama proses pengembangan.


