Mahasiswa UMM Bongkar Cara Jepang Kelola Hutan, Ternyata K3 Jadi Kunci Utama

Must read

EDUCARE.CO.ID – Program belajar di Jepang memberi pengalaman baru bagi mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Adib Minanur Rohman. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kehutanan, Adib terjun langsung mempelajari pengelolaan hutan di Fukuoka, Jepang.

Adib mengikuti program tersebut di Kyushu Bark Transport, Fukuoka, mulai 6 Agustus hingga 20 Desember 2026. Dua mahasiswa Kehutanan UMM lainnya, Ahmad Hafidh Ramadhan dan Muhammad Hafidz Alfanani, juga mengikuti program tersebut.

Selama menjalani kegiatan, Adib menemukan perbedaan menarik dalam praktik kehutanan Jepang. Ia melihat pekerja menempatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai bagian utama dalam setiap aktivitas.

Bagi Adib, K3 di Jepang bukan sekadar aturan penggunaan alat pelindung diri (APD). Standar keselamatan juga menentukan apakah pekerja dapat memulai aktivitas atau harus menghentikannya.

K3 Menjadi Standar Utama di Area Hutan

Adib menyaksikan langsung penerapan K3 sebelum pekerja memasuki area hutan. Setiap pekerja harus memastikan seluruh perlengkapan keselamatan sudah lengkap.

“Di Jepang, K3 bukan sekadar formalitas. Jika standar keselamatan tidak terpenuhi, pekerjaan bisa dihentikan,” ujar Adib, dikutip dari situs resmi UMM, Rabu (2/9/2026).

Sebelum menggunakan gergaji mesin, pekerja mengecek berbagai perlengkapan keselamatan. Mereka mengenakan helm, pelindung pendengaran, pelindung wajah, hingga celana khusus tahan gergaji atau cut-resistant pants.

Kebiasaan tersebut menunjukkan bagaimana pekerja Jepang menempatkan keselamatan sebagai bagian dari budaya kerja. Mereka tidak hanya mengikuti aturan, tetapi juga melakukan pengecekan sebelum memulai pekerjaan.

Pekerja Analisis Potensi Bahaya Setiap Pagi

Selama mengikuti program CoE, Adib tidak hanya mempelajari cara mengoperasikan dan merawat gergaji mesin. Ia juga mengenal KYK, yaitu analisis prediksi potensi bahaya sebelum bekerja.

Pekerja menjalankan KYK setiap pagi. Mereka memetakan berbagai risiko yang mungkin muncul selama aktivitas di area hutan.

Menurut Adib, kebiasaan tersebut membuat pekerja lebih siap menghadapi kondisi di lapangan. Mereka menjadikan keselamatan sebagai bagian dari rutinitas, bukan sekadar kelengkapan administrasi.

Adib juga mempelajari konsep dandori. Konsep ini menekankan persiapan pekerjaan secara matang sebelum pekerja menjalankan tugas.

Dalam tahap tersebut, pekerja menentukan alur kerja, posisi evakuasi, serta pembagian tugas. Perencanaan yang detail membantu mereka bekerja secara lebih aman dan efisien.

Ikut Merawat Bibit Sugi dan Hinoki

Pengalaman Adib juga mencakup kegiatan pemeliharaan tanaman. Ia terlibat dalam shitagari, yaitu kegiatan membersihkan gulma dan semak yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Dalam kegiatan tersebut, Adib membantu merawat bibit Sugi dan Hinoki di area penanaman kembali. Ia membersihkan tumbuhan pengganggu agar bibit memperoleh sinar matahari yang cukup.

Adib juga harus memastikan proses pembersihan tidak merusak batang utama tanaman. Aktivitas ini memberinya pengalaman langsung mengenai pemeliharaan kawasan hutan setelah proses penanaman kembali.

Pengalaman Lapangan Tingkatkan Kemampuan Praktis

Program CoE memperluas pemahaman Adib mengenai pengelolaan hutan produksi. Selama kuliah, ia lebih banyak mempelajari pengelolaan hutan dan pengoperasian alat melalui teori.

Kini, ia mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuan tersebut secara langsung di lapangan.

“Dulu saya lebih banyak memahami pengelolaan hutan dan pengoperasian alat dari teori perkuliahan. Setelah CoE, kemampuan hands-on saya meningkat, terutama dalam pengoperasian mesin kehutanan, refleks terhadap keselamatan kerja, dan pemahaman mengenai rantai pasok kayu dari hutan hingga pabrik pengolahan,” kata Adib.

Pengalaman tersebut juga memperkenalkan Adib pada rantai pasok kayu secara lebih menyeluruh. Ia melihat bagaimana hasil hutan bergerak dari kawasan hutan hingga menuju fasilitas pengolahan.

Jepang Terapkan Clear-Cutting secara Terencana

Adib juga menyaksikan praktik clear-cutting dalam pengelolaan hutan produksi. Pekerja menjalankan proses tersebut secara terencana, kemudian membersihkan lahan dan melakukan penanaman kembali dalam waktu relatif cepat.

Menurut pengalaman Adib, penanaman kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama membantu mengurangi risiko erosi. Hal ini menjadi perhatian khusus pada kawasan dengan tingkat kemiringan tinggi.

Pengelola hutan juga memanfaatkan rindou atau jalan hutan. Jalur tersebut membantu pekerja mencapai area pengelolaan sekaligus mempermudah pergerakan alat dan pengangkutan hasil hutan.

Bukan Cuma Teknologi, tapi Konsistensi

Pengalaman di Jepang membuat Adib melihat bahwa teknologi bukan satu-satunya faktor yang membedakan pengelolaan hutan di kedua negara.

Ia justru menyoroti konsistensi penerapan standar kerja. Pekerja menjalankan prosedur keselamatan, perencanaan, dan pengelolaan lahan secara disiplin.

Dari pengalaman tersebut, Adib memahami bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan membutuhkan banyak aspek sekaligus. Kemampuan teknis harus berjalan bersama keselamatan kerja, disiplin, perencanaan, teknologi, aksesibilitas, dan ketepatan pengelolaan lahan.

Setiap aspek memiliki peran dalam menjaga efisiensi sekaligus keamanan pekerjaan di kawasan hutan.

APD Khusus Masih Jadi Tantangan di Indonesia

Pengalaman di Jepang juga membuat Adib melihat sejumlah tantangan dalam praktik kehutanan di Indonesia. Salah satunya berkaitan dengan ketersediaan APD khusus bagi pekerja lapangan.

Selain itu, penerapan prosedur keselamatan secara konsisten juga masih membutuhkan perhatian. Menurut Adib, pengalaman selama mengikuti CoE dapat menjadi pembelajaran untuk melihat pentingnya standar keselamatan dalam pekerjaan kehutanan.

Program tersebut akhirnya tidak hanya memperkuat kemampuan teknis Adib. Ia juga mendapatkan perspektif baru mengenai budaya keselamatan, perencanaan pekerjaan, efisiensi, dan pengelolaan hutan berkelanjutan.

Pengalaman di Jepang menjadi bekal bagi Adib untuk memahami bahwa pengelolaan hutan membutuhkan keseimbangan antara kemampuan manusia, teknologi, keselamatan, dan ketepatan dalam mengelola kawasan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article