Lemak Sisa Produksi Keju Disulap Jadi Pelapis Pangan, Mahasiswa UB Temukan WHEACOAT

Must read

EDUCARE.CO.ID – Limbah dari proses produksi keju ternyata masih menyimpan potensi untuk dimanfaatkan. Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan WHEACOAT, pelapis pangan alami berbasis kitosan yang memanfaatkan fraksi lemak dari whey, cairan sisa produksi keju mozzarella.

Inovasi tersebut berangkat dari persoalan whey yang mengandung bahan organik tinggi. Jika pengelola tidak menangani limbah tersebut dengan baik, whey dapat mencemari lingkungan.

Di sisi lain, cairan sisa produksi keju masih membawa kandungan lemak susu. Kondisi itu membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengolahnya menjadi bahan yang memiliki fungsi baru.

Melalui Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), Nazwa Aulia dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB memanfaatkan fraksi lemak whey sebagai agen hidrofobik dalam formula pelapis pangan.

WHEACOAT Manfaatkan Lemak dari Whey

WHEACOAT menggabungkan kitosan dan lemak whey untuk membentuk lapisan tipis pada permukaan bahan pangan. Formula tersebut kemudian dikemas dalam botol semprot agar masyarakat dapat mengaplikasikannya dengan lebih praktis.

Dalam formula ini, kitosan berperan sebagai pembentuk lapisan. Sementara itu, lemak whey membantu memberikan sifat hidrofobik pada permukaan bahan pangan.

Sifat tersebut membantu mengurangi penguapan air dari permukaan bahan. Dengan demikian, pelapis berpotensi membantu mempertahankan kondisi bahan pangan selama penyimpanan.

Pendekatan ini sekaligus menawarkan pemanfaatan baru terhadap sisa produksi keju yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.

Uji Awal pada Kentang Selama 14 Hari

Tim mahasiswa UB melakukan uji awal WHEACOAT pada kentang selama 14 hari. Hasil pengujian menunjukkan formula dengan 1,5 persen lemak whey mencatat susut bobot paling rendah.

Kentang yang mendapat formula tersebut mengalami susut bobot sebesar 1,81 persen. Sebagai pembanding, pelapis kitosan tanpa tambahan lemak menghasilkan susut bobot sebesar 1,96 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan adanya potensi pemanfaatan lemak whey dalam formula pelapis pangan. Namun, tim masih perlu melakukan pengujian berulang untuk melihat konsistensi hasil.

Karena itu, hasil uji awal tersebut belum cukup untuk menyimpulkan efektivitas WHEACOAT secara menyeluruh. Penelitian lanjutan tetap diperlukan sebelum teknologi dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas.

WHEACOAT Diperkenalkan kepada Masyarakat Batu

Setelah menjalankan kegiatan PMM, tim menyerahkan WHEACOAT kepada Koperasi Margo Makmur Mandiri di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kota Batu.

Penyerahan berlangsung pada penutupan kegiatan PMM, 17 Agustus 2026. Tim juga melengkapi produk dengan poster panduan penggunaan.

Materi tersebut membantu masyarakat memahami cara menggunakan WHEACOAT sekaligus mengenal konsep pemanfaatan kembali sisa produksi.

Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan pengabdian masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mengembangkan formula, tetapi juga mengenalkan hasil inovasi kepada calon pengguna.

Dari Sisa Produksi Menjadi Produk Bernilai Guna

WHEACOAT memperlihatkan peluang pemanfaatan limbah pangan melalui pendekatan sederhana. Fraksi lemak dari whey yang masih memiliki nilai guna dapat masuk kembali ke dalam proses pengembangan produk.

Inovasi tersebut juga mempertemukan beberapa kepentingan sekaligus. Pengolahan whey dapat membantu mengurangi potensi persoalan lingkungan, sementara pemanfaatan kandungan lemaknya membuka peluang untuk menghasilkan bahan pelapis pangan.

Bagi mahasiswa, proses ini menjadi ruang untuk menerapkan ilmu sekaligus menjawab persoalan yang muncul di masyarakat.

Meski masih membutuhkan pengujian lanjutan, WHEACOAT menunjukkan bahwa sisa produksi tidak selalu berakhir sebagai limbah. Dengan riset dan pengolahan yang tepat, bahan tersebut dapat membuka peluang pemanfaatan baru yang lebih berkelanjutan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article