Antisipasi Keracunan MBG, FTP UGM Ungkap Rahasia Aman Olahan Makanan Anak dan Latih Relawan SPPG!
EDUCARE.CO.ID, Meningkatnya kasus keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) di berbagai daerah membuat masyarakat cemas akan keamanan pangan anak. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) per September 2025, tercatat 4.711 kasus keracunan tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebagai langkah nyata, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) bekerja sama dengan Yayasan Mitra Karya Maporina, mitra BGN, menggelar pelatihan dan pendampingan food safety, hygiene, dan sanitasi bagi relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Aula Sentra Kitchen Al Kautsar, Sinduadi.
Penyebab Utama Keracunan MBG
Menurut Dr. Rachma Wikandari, S.T.P., M.Biotech., Ph.D, dosen FTP UGM, penyebab dominan keracunan MBGberasal dari makanan yang terkontaminasi bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella.
“Penerapan SOP harus dilakukan dalam setiap tahap pengolahan makanan — mulai dari persiapan bahan hingga penyajian kepada anak-anak,” tegasnya.
Ia menambahkan, penggunaan masker, sarung tangan, dan alat pelindung merupakan syarat wajib untuk mencegah penyebaran mikroba. Selain itu, pengawasan suhu penyajian dan durasi makanan yang tidak lebih dari enam jam juga menjadi kunci keamanan pangan.
“Banyak kasus keracunan bukan karena bahan buruk, tapi karena makanan disajikan terlalu lama tanpa kontrol suhu,” jelas Wikan.
Higienitas dan Sanitasi Dapur Jadi Kunci
Dosen FTP lainnya, Dian Anggraini Suroto, S.T.P., M.P., M.Eng, menekankan pentingnya kondisi bangunan dan area produksi makanan.
“Area pengolahan harus jauh dari sumber pencemaran seperti toilet, saluran air kotor, dan tempat sampah. Debu dan kotoran bisa mencemari makanan bahkan lewat udara,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan relawan agar memperhatikan tata letak dapur dan pemisahan alat masak untuk bahan mentah dan matang guna mencegah kontaminasi silang.
Evaluasi dan Komitmen Relawan SPPG
Perwakilan Yayasan Mitra Karya Maporina, Makbul Hajad, menegaskan bahwa program MBG tetap berfokus pada ketahanan pangan dan pemenuhan gizi anak.

“Evaluasi rutin terus kami lakukan agar kualitas pelayanan dan keamanan makanan semakin baik,” jelasnya.
Sementara itu, Rochan Bedu Suja, Kepala SPPG Sinduadi, menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
“Pelatihan ini jadi bekal penting agar relawan bisa menyajikan makanan sehat dan aman bagi anak-anak,” ujarnya.
Langkah UGM untuk Ketahanan Pangan Aman
Melalui kegiatan ini, FTP UGM menegaskan komitmennya untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keamanan pangan anak. Pendekatan ilmiah dan edukatif diharapkan mampu meminimalkan risiko keracunan MBGserta membangun sistem penyediaan makanan yang sehat, higienis, dan berkelanjutan. ( SCP )
