Berawal dari Keprihatinan Data Stroke Dunia, Mahasiswa UNAIR Raih Gold Medal Internasional

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Tim kolaborasi lintas disiplin dari Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) UNAIR berhasil meraih Gold Medal pada ajang World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), Malaysia.

Berdasarkan rilis Universitas Airlangga, tim tersebut memenangkan kategori Medicine and Public Health Technology melalui inovasi bertajuk Cerevia: Early Stroke Risk Monitoring Using Wearable IoT and LSTM Based Multimodal Physiological and Visual Analysis.

Inovasi itu menawarkan sistem pemantauan risiko stroke secara dini dengan memadukan teknologi wearable, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan berbasis Long Short-Term Memory (LSTM).

Berangkat dari Tingginya Angka Kematian Akibat Stroke

Perwakilan tim, De Farras King, menjelaskan bahwa ide pengembangan Cerevia muncul setelah tim mempelajari data dari World Stroke Organization (WSO).

Data tersebut menunjukkan bahwa angka kematian akibat stroke terus meningkat setiap tahun di berbagai negara.

Selain itu, banyak pasien belum mendapatkan p

 

eringatan dini sebelum stroke terjadi. Akibatnya, mereka sering kehilangan golden period, yaitu waktu penanganan medis yang sangat menentukan peluang pemulihan pasien.

“Kami melihat masih minim alat yang mampu membantu masyarakat mengenali risiko stroke sejak dini. Karena itu kami mencoba menghadirkan solusi yang lebih preventif dan mudah digunakan,” ujar Farras.

Gabungkan IoT dan AI untuk Deteksi Risiko Stroke

Cerevia bekerja dengan memanfaatkan perangkat wearable yang memantau kondisi fisiologis pengguna secara real-time.

Selanjutnya, sistem akan mengolah data tersebut menggunakan algoritma AI berbasis LSTM.

Teknologi tersebut memungkinkan sistem membaca pola tertentu ya

 

ng berkaitan dengan risiko stroke. Hasil analisis kemudian membantu pengguna mengenali kondisi kesehatannya lebih awal.

Tim juga mengombinasikan analisis fisiologis dan visual sehingga sistem mampu menghasilkan pemantauan yang lebih komprehensif.

Kolaborasi Kedokteran dan Teknologi

Tim pengembang Cerevia terdiri dari mahasiswa FK UNAIR dan FTMM UNAIR angkatan 2023.

Mahasiswa FK bertugas menyusun aspek medis, mulai dari pedoman stroke, parameter klinis, hingga klasifikasi risiko.

Sementara itu, mahasiswa FTMM menangani pengembangan teknologi, a

 

lgoritma, pemrograman, dan sistem aplikasi.

Kolaborasi tersebut menghasilkan inovasi yang menggabungkan kebutuhan medis dengan kemampuan teknologi secara seimbang.

Dibimbing Pakar Neurointervensi

Tim juga mendapatkan pendampingan dari dr. Yudhi Adrianto, Sp.N(K), FINR, FINA.

Sebagai dosen pembimbing, ia membantu tim dalam menyusun konsep awal, merancang algoritma sesuai pedoman medis, serta melakukan validasi klinis terhadap sistem yang dikembangkan.

Pendampingan tersebut membantu tim memastikan bahwa inovasi yang dibuat memiliki dasar ilmiah yang kuat sekaligus relevan untuk kebutuhan masyarakat.

 

Dukung Internasionalisasi Prestasi Mahasiswa

Keikutsertaan tim UNAIR dalam kompetisi internasional ini mendapat dukungan penuh dari fakultas dan Airlangga Global Engagement (AGE/OIA).

Dukungan tersebut mencakup kebutuhan transportasi, operasional, hingga akomodasi selama kompetisi berlangsung di Malaysia.

Menurut Farras, pengalaman mengikuti kompetisi internasional membuka wawasan baru mengenai pentingnya inovasi yang mampu menjawab masalah nyata di masyarakat.

“Gold Medal ini menunjuk

 

kan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing dengan peserta dari berbagai negara. Kami berharap semakin banyak mahasiswa berani mengembangkan ide dan membawa inovasi Indonesia ke tingkat global,” katanya.

Bukti Mahasiswa Indonesia Mampu Bersaing di Level Dunia

Prestasi yang diraih tim UNAIR menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan solusi inovatif untuk menjawab tantangan kesehatan global.

Melalui Cerevia, mahasiswa tidak hanya menciptakan teknologi baru, tetapi juga menghadirkan solusi yang berpotensi membantu masyarakat mengenali risiko stroke lebih cepat.

Keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mampu menghasilkan inovasi kesehatan berbasis teknologi dan kecerdasan buatan yang kompetitif di tingkat internasional.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article