EDUCARE.CO.ID – Limbah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang. Dengan pendekatan bioteknologi, sisa produksi kopi, tanaman mangrove, hingga mikroorganisme dapat membuka peluang baru untuk pangan, pakan, kesehatan, dan industri.
Gagasan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam 7th International Conference on Biotechnology and Food Science (INCOBIFS) 2026. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) menggelar konferensi internasional itu di Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Berdasarkan sumber rilis Universitas Airlangga (UNAIR), forum tersebut mempertemukan peneliti dari berbagai bidang untuk membahas peran bioteknologi dalam menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan.
Para pembicara membawa sudut pandang berbeda. Prof. Albert Linton Charles dari National Pingtung University of Science and Technology, Taiwan, membahas pengaruh proses pascapanen terhadap senyawa bioaktif tanaman.
Sementara itu, Associate Prof. Thanongsak Chaiyaso dari Chiang Mai University mengangkat konsep coffee biorefinery. Ia menunjukkan peluang pemanfaatan residu industri kopi menjadi produk bernilai tambah.
Dari UNAIR, Heru Pramono, Ph.D. dari Departemen Kelautan FPK UNAIR membahas peran mikroba dalam pengolahan hasil perikanan. Menariknya, ia mengajak peserta melihat mikroorganisme dari sudut pandang yang berbeda.
Pengeringan Tanaman Ikut Menentukan Senyawa Bioaktif

Prof. Albert dalam Keynote Address bertajuk “From Post-Harvest Processing to Phytochemical Delivery: Mechanistic Insights into Drying and Extraction of Bioactive Constituents in Mangrove and Medicinal Plant Systems” menjelaskan pentingnya proses setelah tanaman dipanen.
Menurutnya, proses pengeringan dan ekstraksi dapat memengaruhi senyawa bioaktif yang akhirnya tersedia untuk pemanfaatan lebih lanjut.
Salah satu contoh datang dari Rhizophora mucronata. Penelitian yang ia paparkan menunjukkan perlakuan pengeringan pada suhu 60°C selama 120 menit memberikan hasil paling optimal dibandingkan perlakuan dengan suhu dan waktu yang lebih tinggi.
Pada kondisi tersebut, kadar air mencapai 7,10 persen dengan rendemen 26,83 persen. Selain itu, sampel juga menunjukkan hasil terbaik untuk kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengeringan tidak sekadar mengurangi kadar air. Sebaliknya, peneliti perlu mencari kondisi yang mampu membantu pelepasan senyawa aktif sekaligus menjaga struktur kimianya.
Karena itu, teknologi pascapanen memiliki peran penting dalam menentukan kualitas bahan sebelum masuk ke tahap pemanfaatan berikutnya.
Kandungan Antioksidan Tidak Otomatis Membuktikan Khasiat
Prof. Albert juga mengingatkan peserta agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari hasil penelitian bahan alam.
Aktivitas antioksidan yang tinggi dalam pengujian kimia tidak otomatis membuktikan manfaat klinis bagi manusia.
Ia menunjukkan perbandingan rosemary dan danshen dalam presentasinya. Hasil pengujian kimia pada kedua bahan tersebut dapat menunjukkan pola yang berbeda dengan respons pada tingkat sel.
Oleh sebab itu, peneliti perlu melanjutkan kajian melalui berbagai tahapan. Pengujian seluler, bioaksesibilitas, bioavailabilitas, hingga uji klinis dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai manfaat suatu bahan.
Catatan tersebut semakin relevan ketika produk berbasis bahan alam semakin banyak hadir di masyarakat. Klaim kesehatan harus mengikuti kekuatan bukti yang tersedia.
Dengan demikian, hasil penelitian tidak boleh langsung berubah menjadi klaim khasiat tanpa dukungan bukti yang memadai.
Limbah Kopi Punya Peluang Jadi Banyak Produk
Konsep coffee biorefinery yang dibahas Associate Prof. Thanongsak Chaiyaso menawarkan pendekatan lain dalam memanfaatkan residu produksi.
Industri kopi menghasilkan sejumlah material sisa, termasuk coffee cherry pulp (CCP) dan coffee silverskin (CS). CCP dapat mencapai sekitar 37–43 persen dari berat buah kopi segar, sedangkan CS berada di kisaran 4–6 persen dari berat biji kopi hijau.
Alih-alih membiarkan material tersebut menjadi limbah, teknologi bioproses dapat mengolahnya kembali.
Melalui fermentasi dan ekstraksi, CCP berpotensi menjadi bahan untuk minuman fungsional. Proses tersebut dapat menghasilkan produk dengan peningkatan total fenolik dan aktivitas antioksidan.
Selain itu, material yang sama dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan unggas fungsional.
Kulit ari kopi juga menyimpan peluang lain. Material tersebut dapat menjadi sumber senyawa fenolik, peptida bioaktif, hingga xylooligosakarida (XOS) yang berpotensi mendukung pertumbuhan bakteri baik.
Pendekatan biorefinery kemudian mengubah cara melihat residu produksi. Satu sumber daya tidak harus menghasilkan satu produk saja.
Sebaliknya, berbagai komponen dari satu bahan dapat masuk kembali ke rantai produksi dan menciptakan nilai tambah.
Mikroba Tidak Selalu Jadi Penyebab Kerusakan

Heru Pramono, Ph.D. membawa perspektif dari sektor perikanan melalui materi “From Spoilage to System Biology: Microbial Biotechnology in Fisheries Post-Harvest”.
Produk perikanan memiliki kandungan air dan nutrisi yang tinggi. Kondisi tersebut mendukung pertumbuhan mikroorganisme dan membuat ikan lebih mudah mengalami kerusakan jika penanganannya tidak tepat.
Selama ini, masyarakat sering melihat mikroba sebagai penyebab utama pembusukan. Namun, Heru mengajak peserta mengubah cara pandang tersebut.
“Beberapa mikroba mungkin bisa menjadi solusi,” ujar Heru.
Menurutnya, sebagian mikroorganisme justru dapat membantu menghasilkan enzim dan metabolit yang berguna. Peneliti juga dapat memanfaatkannya dalam berbagai proses bioteknologi.
Dari sini, pertanyaan penelitian ikut berkembang. Bukan hanya soal bagaimana menghentikan mikroba, tetapi juga bagaimana memahami ekosistem mikroba agar manusia dapat mengarahkannya untuk menghasilkan manfaat.
Pendekatan tersebut membuka peluang bagi pengembangan bakteriofag, postbiotik, fermentasi presisi, rekayasa mikrobioma, dan pemanfaatan data genomik.
Pada sektor pangan, pendekatan ini dapat mendukung upaya menjaga mutu serta ketersediaan hasil perikanan. Karena itu, pembahasannya juga berkaitan dengan SDG 2 atau Zero Hunger.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi pascapanen dapat membantu meningkatkan nilai hasil perikanan tanpa selalu menambah tekanan terhadap sumber daya laut. Aspek tersebut sejalan dengan SDG 14 atau Life Below Water.
Bioteknologi Dorong Ekonomi Sirkular
Jika ketiga pembahasan tersebut ditarik ke satu garis besar, INCOBIFS 2026 membawa pesan tentang perubahan cara manusia melihat sumber daya biologis.
Mangrove tidak hanya menyediakan fungsi ekologis. Kopi tidak hanya menghasilkan minuman. Mikroba juga tidak hanya menyebabkan pembusukan.
Dengan ilmu pengetahuan, peneliti dapat mempelajari komponen biologis tersebut, mengolahnya, lalu mencari pemanfaatan yang tepat.
Pendekatan itu sejalan dengan gagasan ekonomi sirkular. Material yang sebelumnya dianggap sebagai residu dapat kembali masuk ke rantai produksi melalui teknologi yang tepat.
Konsep tersebut juga mendukung SDG 9 melalui inovasi industri, SDG 12 melalui konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab, serta SDG 13 melalui upaya meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya dan mengurangi limbah.
Namun, inovasi tidak berhenti pada penemuan teknologi.
Penta-Helix Jadi Kunci Hilirisasi
Tantangan berikutnya muncul ketika peneliti ingin membawa hasil riset keluar dari laboratorium.
Pada tahap ini, akademisi tidak dapat berjalan sendiri. Hilirisasi bioteknologi membutuhkan kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media atau model Penta-Helix.
Akademisi menghasilkan pengetahuan, data, dan teknologi berbasis bukti. Selanjutnya, industri dapat mengembangkan temuan tersebut menjadi produk atau proses yang memiliki nilai ekonomi.
Pemerintah kemudian memiliki peran dalam membangun regulasi, insentif, infrastruktur, serta ekosistem investasi. Sementara itu, masyarakat perlu ikut terlibat sebagai pengguna sekaligus bagian dari rantai nilai.
Media juga memegang peran penting. Media dapat menerjemahkan temuan ilmiah menjadi informasi yang mudah dipahami publik.
Lebih jauh, media perlu menjaga agar komunikasi mengenai pangan, herbal, dan bioteknologi tidak berubah menjadi klaim berlebihan.
Setiap informasi mengenai manfaat produk harus sesuai dengan tingkat bukti ilmiahnya. Dengan cara itu, komunikasi sains dapat membantu masyarakat memahami inovasi tanpa menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis.
Dari Riset Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Rangkaian pembahasan dalam INCOBIFS 2026 memperlihatkan luasnya ruang yang dapat dijangkau bioteknologi.
Mulai dari pengolahan tanaman, pangan fungsional, pemanfaatan residu kopi, teknologi hasil perikanan, hingga pengelolaan sumber daya biologis, semuanya memiliki hubungan dengan agenda keberlanjutan.
Namun, teknologi hanya menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.
Tanpa kolaborasi, hasil riset dapat berhenti sebagai publikasi. Tanpa komunikasi sains yang bertanggung jawab, temuan penelitian dapat menimbulkan klaim yang melampaui bukti.
Karena itu, INCOBIFS 2026 tidak hanya membahas apa yang dapat dihasilkan dari mangrove, kopi, atau mikroba. Forum tersebut juga menunjukkan pentingnya mengelola potensi biologis secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, bioteknologi memiliki peluang besar untuk mempertemukan inovasi, pangan, lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Agar peluang tersebut benar-benar memberi dampak, perguruan tinggi, industri, pemerintah, masyarakat, dan media perlu bergerak dalam arah yang sama.


