Hipotermia Menghantui saat Pendakian? Ini Tips dari Pakar UNAIR

EduNews

educare.co.id, Surabaya – Pendakian gunung semakin diminati, terutama saat libur Lebaran yang menjadi momen bagi banyak orang untuk menjelajahi alam. Namun, pendaki perlu mewaspadai risiko di ketinggian ekstrem, salah satunya adalah hipotermia.

Dosen Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FIKKIA) Universitas Airlangga, dr. Rizki Amalia, SpJP, menjelaskan bahwa hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Kondisi ini dapat berdampak fatal pada organ tubuh, terutama jantung dan pembuluh darah. Penurunan suhu tubuh ekstrem menyebabkan perubahan konduktivitas listrik akibat perubahan pH dan PaO2 serta ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium dan kalsium.

“Bila hipotermia terus berlanjut, curah jantung bisa menurun hingga 45% pada suhu 25 derajat Celsius, yang berdampak pada penurunan aliran darah ke organ vital, termasuk otak,” ujarnya.

Pada tahap awal, tubuh akan merespons dengan meningkatkan denyut jantung dan menggigil sebagai mekanisme kompensasi. Namun, jika suhu tubuh turun di bawah 32 derajat Celsius, denyut jantung melambat dan dapat terjadi gangguan irama jantung. Pada suhu di bawah 28 derajat Celsius, risiko ventrikel fibrilasi meningkat, yang dapat menyebabkan henti jantung.

“Di ketinggian ekstrem, tubuh juga mengalami hipoksia atau kadar oksigen rendah dalam darah. Kombinasi hipoksia dan hipotermia dapat memicu gangguan irama jantung yang berbahaya dan berujung pada henti jantung,” jelasnya.

Penanganan Darurat Hipotermia
Pendaki harus memahami langkah pertolongan pertama, terutama di lokasi dengan fasilitas medis terbatas. Jika korban masih sadar, segera pindahkan dari paparan dingin, ganti pakaian basah dengan yang kering, dan hangatkan tubuh secara bertahap menggunakan sleeping bag atau selimut. Berikan minuman hangat dan makanan berkalori tinggi sebelum mengevakuasi korban ke fasilitas medis.

BACA JUGA:  Kasus Asusila Meningkat, Dosen FISIP UNAIR Soroti Krisis Moral dan Pentingnya Pendidikan Karakter

“Jika korban mengalami henti jantung, lakukan resusitasi jantung paru (RJP) dengan kompresi dada 100-120 kali per menit. Jika tersedia, gunakan automated external defibrillator untuk mengembalikan irama jantung normal. Lanjutkan RJP hingga bantuan medis tiba,” tambahnya.

Mendaki gunung setelah Lebaran membutuhkan persiapan matang. Pendaki disarankan menjalani skrining kesehatan, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki penyakit penyerta. Evaluasi medis penting untuk menentukan kelayakan fisik sebelum mendaki.

Selain itu, latihan ketahanan kardiovaskular dan kekuatan tubuh bagian bawah dapat membantu pendaki menghadapi tantangan fisik. Dari segi perlengkapan, pakaian berlapis, sarung tangan, sepatu tahan cuaca ekstrem, sleeping bag, peralatan navigasi, dan makanan berkalori tinggi menjadi perlengkapan wajib.

Aklimatisasi juga berperan penting dalam mengurangi risiko hipotermia dan komplikasi jantung di ketinggian. Proses ini membantu tubuh beradaptasi dengan kadar oksigen rendah melalui peningkatan produksi sel darah merah dan efisiensi pernapasan.

“Dengan persiapan yang baik dan pemahaman tentang hipotermia, pendakian dapat dilakukan dengan lebih aman, serta risiko kesehatan dapat diminimalkan,” pungkas dr. Rizki Amalia, SpJP, yang juga merupakan dokter spesialis jantung di RSUD Blambangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *