Guru Besar FEB UNAIR Bagikan Strategi Kelola Keuangan Jelang Lebaran
educare.co.id, Surabaya – Menjelang Hari Raya Idulfitri, perilaku konsumtif masyarakat cenderung meningkat sebagai bagian dari konsekuensi sosial dan budaya. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Tika Widiastuti, S.E., M.Si., mengungkapkan pentingnya pengelolaan keuangan yang baik di tengah kondisi daya beli yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
“Daya beli masyarakat secara umum lebih rendah daripada hari raya sebelumnya,” ujarnya. Menurutnya, kondisi ekonomi makro saat ini sedang mengalami tekanan, salah satunya akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Strategi Mengelola Keuangan
Setiap hari raya keagamaan umumnya membawa pengeluaran ekstra. Prinsip utama agar keuangan tetap stabil adalah memastikan bahwa pengeluaran tambahan tidak melebihi pendapatan ekstra yang diperoleh. Oleh karena itu, penyesuaian antara pengeluaran dan pendapatan menjadi kunci utama.
“Kita harus mengubah mindset bahwa konsumtif itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Jadi, secukupnya saja, tidak berlebihan,” ungkap Prof. Tika. Ia juga menekankan pentingnya menabung sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi pasca-Lebaran.
Salah satu faktor yang mendorong perilaku konsumtif adalah tren media sosial. Kebutuhan akan eksistensi dan gaya hidup sering kali membuat masyarakat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan, yang akhirnya memicu pengeluaran yang tidak terkendali.
Prof. Tika menyoroti pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda. “Saya belum melihat adanya gerakan yang masif untuk memberikan literasi keuangan bagi generasi sekarang,” katanya. Menurutnya, kebijakan edukasi keuangan yang disesuaikan dengan segmen usia sangat diperlukan. Misalnya, bagi generasi milenial dan Z, pemerintah dapat menggandeng influencer untuk menyampaikan edukasi keuangan melalui media sosial.
Selain itu, edukasi finansial juga bisa dilakukan melalui kajian keagamaan, khususnya di bulan Ramadan, dengan membahas aspek muamalah. Pemerintah juga didorong untuk menghadirkan fasilitas atau produk keuangan yang dapat meningkatkan produktivitas masyarakat.
“Jangan menggampangkan kondisi keuangan hari ini. Situasi ekonomi sedang tidak sebaik sebelumnya. Kita bisa lihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami penurunan signifikan. Ini adalah sinyal bahwa kita harus lebih waspada dalam mengelola dana yang kita miliki,” pungkasnya
