EDUCARE.CO.ID – Mata ikan tuna ternyata menyimpan potensi untuk menjadi bahan pangan bernilai tambah. Inovator IPB University mengolah bagian tersebut menjadi minyak kaya omega-3.
Hasil pengembangan itu kemudian hadir dalam bentuk Helbygoom, camilan fungsional dengan konsep pangan laut yang unik.
IPB University memperkenalkan Helbygoom dalam Food Ingredients Asia (FI Asia) 2026. Ajang tersebut berlangsung pada 16–18 September 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta.
Berdasarkan sumber laman resmi IPB University, Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB membawa Helbygoom bersama 19 produk inovasi pangan dan nutraceutical lainnya.
Kehadiran IPB di FI Asia 2026 juga membuka peluang bagi para inovator untuk bertemu pelaku industri. Mereka dapat memperluas jejaring sekaligus memperkenalkan hasil riset kepada pasar yang lebih luas.
IPB Manfaatkan Potensi Mata Tuna
Guru Besar IPB University sekaligus inovator Helbygoom, Prof. Wini Trilaksani, melihat potensi besar pada mata ikan tuna.
Bagian tersebut mengandung DHA yang dapat menjadi sumber omega-3. Tim kemudian mencari cara untuk mengambil minyak dari mata tuna secara efektif.
Tim menggunakan metode cold centrifugation dalam proses ekstraksi.
Mereka lebih dulu membersihkan dan melumatkan mata tuna. Setelah itu, mereka memasukkan bahan tersebut ke dalam proses sentrifugasi pada suhu rendah.
Tim menjalankan proses pada suhu 4°C dengan kecepatan 10.000 rpm selama 30 menit.
Proses tersebut menghasilkan lapisan minyak pada bagian atas. Tim kemudian mengambil minyak itu untuk menjalani analisis profil asam lemak.
Hasil analisis menunjukkan kandungan DHA mencapai 33,44 persen. Total omega-3 dalam profil asam lemak minyak juga mencapai 40,10 persen.
Minyak Tuna Diolah Menjadi Camilan
Tim IPB tidak berhenti pada proses ekstraksi minyak. Mereka mengembangkan bahan tersebut menjadi produk pangan yang lebih mudah dikonsumsi.
Helbygoom mengusung konsep camilan laut yang terinspirasi dari Turkish delight.
Tim memadukan minyak ikan mata tuna dengan serat dari sumber daya akuatik. Mereka juga menambahkan buah tropis, rempah, dan bunga untuk menghasilkan karakter rasa yang berbeda.
Pengembangan produk juga mengurangi penggunaan gula pasir.
Sebelum membawa Helbygoom ke FI Asia 2026, tim melakukan berbagai tahap pengujian. Mereka menjalankan proses formulasi, pengujian mutu, uji penerimaan konsumen, dan pengujian pasar awal.
Tahapan tersebut membantu tim melihat kualitas produk sekaligus respons calon konsumen.
Helbygoom Hadir dalam Tujuh Varian
Saat ini, Helbygoom memiliki tujuh varian. Konsumen dapat menemukan pilihan rasa berikut:
- Rosela
- Jeruk
- Buah naga
- Pandan
- Bunga telang
- Jahe
- Susu
Tim tidak hanya menempatkan Helbygoom sebagai camilan fungsional.
Produk ini juga memiliki peluang untuk masuk ke beberapa kategori. Contohnya makanan pendamping, oleh-oleh, hadiah, hamper, dan produk retail.
Pengembangan tersebut membuat Helbygoom memiliki ruang untuk menjangkau konsumen dengan kebutuhan yang berbeda.
Prof Wini Bawa Riset Omega-3 ke FI Asia Conference
Pengembangan Helbygoom juga membawa Prof. Wini Trilaksani ke Food Ingredients Asia Conference.
Dalam forum tersebut, Prof. Wini mempresentasikan riset mengenai marine-derived omega-3.
Riset itu mengembangkan proses ekstraksi omega-3, khususnya DHA, dari mata tuna. Tim mengarahkan hasil ekstraksi untuk mendukung pengembangan bahan pangan fungsional.
Forum tersebut juga memberi ruang bagi peneliti untuk bertukar gagasan dengan pelaku industri dan peneliti lainnya.
Prof. Wini menilai FI Asia Conference dapat membantu mendorong lahirnya lebih banyak inovasi pangan berbasis riset.
“Kehadiran FI Asia Conference ini menjadi media yang sangat bagus. Tentu saja, mudah-mudahan dengan adanya FI Asia Conference ini akan semakin mendorong para peneliti untuk terus berinovasi dan melakukan riset yang terstruktur dengan baik,” ungkap Prof. Wini Trilaksani.
Peneliti Dorong Pengembangan Produk yang Terarah
Prof. Wini juga menekankan pentingnya proses pengembangan yang terarah.
Menurutnya, peneliti perlu menyusun setiap tahapan riset dengan pendekatan yang jelas. Prinsip quality by design dapat membantu peneliti menjaga kualitas sejak tahap awal pengembangan.
Pendekatan tersebut juga membantu peneliti menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan pengguna dan industri.
Dengan cara itu, penelitian tidak berhenti pada hasil laboratorium. Peneliti dapat mengembangkan temuan menjadi produk yang memiliki peluang pemanfaatan lebih luas.
Mata Tuna Punya Nilai Tambah
Helbygoom menunjukkan cara lain dalam memanfaatkan hasil samping industri perikanan.
Selama ini, mata tuna belum banyak mendapat perhatian sebagai bahan pengembangan pangan. Tim IPB justru melihat kandungan minyak dan DHA di dalamnya sebagai peluang riset.
Tim kemudian mengolah minyak tersebut dan mengembangkannya menjadi camilan dengan berbagai bahan pendukung.
Proses itu menciptakan nilai tambah dari sumber daya perikanan. Riset juga membuka peluang pemanfaatan bahan laut untuk produk pangan fungsional.
Helbygoom Tembus Panggung Industri Pangan Asia
Kehadiran Helbygoom di FI Asia 2026 mempertemukan hasil riset IPB dengan ekosistem industri pangan yang lebih luas.
Ajang tersebut memberi kesempatan bagi inovator untuk memperkenalkan produk, bertemu calon mitra, dan melihat peluang pengembangan lebih lanjut.
Helbygoom juga memperlihatkan hubungan antara riset, inovasi, dan pengembangan produk pangan.
Dari mata tuna, tim IPB menghasilkan minyak kaya omega-3. Mereka kemudian mengolahnya menjadi camilan fungsional dengan tujuh pilihan rasa.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa hasil samping perikanan masih memiliki peluang untuk menghasilkan produk bernilai tambah.
Ke depan, pengembangan Helbygoom dapat terus mengarah pada perluasan pemanfaatan omega-3 berbasis sumber daya laut Indonesia. Inovasi seperti ini juga membuka peluang bagi peneliti untuk mengembangkan lebih banyak produk pangan fungsional dari hasil riset perguruan tinggi.

