EDUCARE.CO.ID – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mencatat prestasi di tingkat Asia Tenggara. Delegasi mahasiswa UGM meraih juara umum dalam 12th Southeast Asian Agricultural and Food Engineering Student Chapter Annual Regional Convention (ARC 2026).
Kompetisi tersebut berlangsung pada 13–19 September 2026 di Universitas Brawijaya, Malang. Selain menjadi juara umum, UGM juga membawa pulang MSAE Best Overall Award.
Prestasi itu datang dari mahasiswa Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM. Mereka mengirimkan 15 mahasiswa yang terbagi dalam lima tim untuk mengikuti sejumlah kategori kompetisi.
Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), delegasi UGM berhasil meraih sejumlah penghargaan. Capaian tersebut meliputi Gold Medal, Silver Medal, Bronze Medal, hingga Runner Up.
Borong Medali di Tiga Kategori Kompetisi
Pada Interactive Poster Competition, mahasiswa UGM meraih tiga Gold Medal dan dua Silver Medal.
Prestasi berikutnya datang dari Roarduino Competition. Delegasi UGM mengamankan satu Gold Medal, satu Silver Medal, dan satu Runner Up.
Sementara itu, pada Creative Vlog Competition, mahasiswa UGM meraih satu Bronze Medal, dua Silver Medal, dan satu Runner Up.
Capaian juga datang dari bidang seni dan budaya. Delegasi UGM meraih Gold Medal Cultural Performance melalui penampilan Tari Sabuk Mangir.
Tarian tersebut dibawakan oleh Nazmi Fayza Nazhara, Josh Hafid Bagus Jocky Alfrido, Rendy Dwi Nugraha, Nadhifa Alya Febriana, dan Adelia Cantika Dewi.
ARC 2026 Diikuti Empat Negara
ARC 2026 mempertemukan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Asia Tenggara.
Total terdapat 144 peserta yang terbagi dalam 48 kelompok atau tim delegasi. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Indonesia mengirimkan 17 tim dengan total 51 peserta. Malaysia menjadi negara dengan jumlah delegasi terbanyak, yakni 27 tim dengan 81 peserta.
Thailand mengirimkan tiga tim yang terdiri dari sembilan peserta. Sementara itu, Filipina mengirimkan satu tim dengan tiga peserta.
Keberagaman peserta membuat ARC 2026 menjadi ruang pertukaran pengalaman lintas negara. Para mahasiswa dapat mengenal pendekatan berbeda dalam bidang teknik pertanian dan pangan.
Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk membangun jejaring akademik dan memperkenalkan inovasi dari masing-masing negara.
Delegasi DTPB FTP UGM didampingi empat pembimbing. Mereka ialah Dr. Prieskarinda Lestari, S.T., IPM., Dwi Ayuni, S.T.P., M.Sc., Ph.D., Muhamad Khoiru Zaki, S.P., M.P., Ph.D., IPM., dan Bayu Nugraha, S.T.P., M.Sc., Ph.D.
Persiapan UGM Dilakukan Sejak Awal
Ketua tim DTPB FTP UGM, Alexander Dimas, mengatakan tim melakukan persiapan secara bertahap.
Mahasiswa terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan setiap kategori kompetisi. Setelah itu, mereka melakukan uji coba, latihan, dan evaluasi untuk mencari solusi dari berbagai kemungkinan persoalan.
Tim juga menggelar pertemuan rutin untuk memantau perkembangan setiap kelompok.
“Selain itu, dilakukan monitoring dan meeting untuk mengetahui progres setiap tim dan kendalanya masing-masing,” ujar Alexander, Kamis (1/10).
Menurut Alexander, setiap kategori kompetisi memiliki tantangan yang berbeda. Peserta tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis dan analisis.
Mereka juga harus mampu berkomunikasi, mengambil keputusan dengan cepat, serta menyesuaikan diri dengan situasi kompetisi.
Perbedaan Peserta Jadi Tantangan Sekaligus Pengalaman
Peserta ARC 2026 datang dari berbagai perguruan tinggi dan negara. Perbedaan bahasa, kebiasaan, serta cara bekerja membuat mahasiswa perlu beradaptasi.
Alexander mengatakan komunikasi dan kerja sama menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi tersebut.
Koordinasi berlangsung di dalam kelompok, antar tim delegasi, hingga bersama dosen pembimbing.
“Keterbukaan terhadap cara berpikir peserta dari perguruan tinggi lain memberikan pengalaman kami memahami pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan persoalan,” jelasnya.
Pengalaman tersebut membuat mahasiswa tidak hanya belajar dari materi kompetisi. Mereka juga mendapat kesempatan memahami cara peserta dari negara lain menyelesaikan persoalan.
Kerja Tim Jadi Kunci Raih Juara Umum
Alexander menyebut keberhasilan delegasi UGM tidak berasal dari satu faktor.
Persiapan, pembagian tugas, evaluasi, kemampuan beradaptasi, komunikasi, keterbukaan, serta dukungan dosen menjadi bagian penting selama kompetisi.
Menurutnya, seluruh anggota harus mampu menjaga kerja sama dari awal hingga akhir.
“Hal yang paling penting adalah bagaimana seluruh anggota dapat bekerja sebagai satu kesatuan dari awal hingga akhir kompetisi,” ujarnya.
Kemampuan bekerja di bawah tekanan juga menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa.
Setiap kompetisi menuntut peserta tetap fokus meski menghadapi perubahan situasi dan tekanan selama perlombaan.
“Setiap kompetisi juga menuntut kami untuk dapat bekerja di bawah tekanan, beradaptasi dengan situasi yang berubah, serta tetap fokus pada tujuan bersama,” tuturnya.
Pengalaman ARC Jadi Bekal untuk Mahasiswa UGM
Pengalaman dari ARC 2026 akan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan teknis dan nonteknis.
Para mahasiswa berencana membagikan pengalaman tersebut kepada mahasiswa lain. Mereka juga ingin memperluas jejaring dengan perguruan tinggi dari dalam maupun luar negeri.
Rencana tersebut semakin penting karena UGM akan menjadi tuan rumah ARC berikutnya.
Alexander berharap pengalaman penyelenggaraan ARC 2026 di Malang dapat membantu mahasiswa UGM saat mempersiapkan kegiatan berikutnya.
“Saya berharap pengalaman yang diperoleh dari penyelenggaraan ARC 2026 di Malang dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk turut berkontribusi dalam persiapan dan penyelenggaraan kegiatan di UGM,” pungkasnya.
Prestasi UGM di ARC 2026 sekaligus menunjukkan pengalaman kompetisi dapat menjadi ruang pengembangan mahasiswa. Mereka tidak hanya mengasah kemampuan akademik dan teknis, tetapi juga belajar berkolaborasi, beradaptasi, serta membangun jejaring di tingkat Asia Tenggara.

