FKH UNAIR Dorong Deteksi Dini Stunting pada Usia Pra-Pubertas Melalui Pengabdian Berkelanjutan

Must read

EDUCARE.CO.ID – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus mencegah stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurut FKH UNAIR, anak usia pra-pubertas juga memerlukan pemantauan pertumbuhan karena fase ini masih memberi peluang untuk memperbaiki status gizi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui program pengabdian masyarakat berkelanjutan di Kabupaten Bojonegoro. Tim FKH UNAIR bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Vokasi (FV) memeriksa 295 siswa kelas IV, V, dan VI dari delapan sekolah dasar pada Senin (6/7/2026).

Program ini bertujuan menemukan lebih awal tanda-tanda gangguan pertumbuhan sekaligus menyediakan data yang dapat mendukung kebijakan pencegahan stunting.

Usia Pra-Pubertas Masih Menjadi Kesempatan Memperbaiki Gizi

Ketua Pengabdian Masyarakat FKH UNAIR, Prof. Dr. Widjiati, drh., M.Si., PAVet.(K), menjelaskan bahwa usia pra-pubertas merupakan masa penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Pada fase tersebut, tubuh masih memiliki kesempatan mengejar kebutuhan gizi apabila tenaga kesehatan menemukan indikasi stunting sejak awal.

“Masa pra-pubertas sangat penting karena merupakan periode pertumbuhan anak. Jika pada fase ini ditemukan indikasi stunting, kebutuhan gizinya masih bisa dikejar. Kalau kita gagal di fase ini, kita bisa kehilangan satu generasi,” ujar Prof. Widjiati.

Karena itu, ia menilai pemeriksaan rutin pada anak usia sekolah menjadi langkah penting untuk mencegah dampak stunting pada masa remaja.

Pemeriksaan Antropometri Dilakukan Secara Menyeluruh

Tim pengabdian melakukan pemeriksaan antropometri kepada seluruh peserta. Pemeriksaan meliputi tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul.

Selanjutnya, tim membandingkan tinggi badan setiap anak dengan usia dan jenis kelamin menggunakan kurva pertumbuhan World Health Organization (WHO) serta Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Hasil pengukuran tersebut menjadi dasar untuk mengetahui risiko stunting sejak dini.

Tim kemudian mengolah seluruh data sebelum menyerahkannya kepada Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Pemerintah daerah nantinya memanfaatkan data tersebut untuk menyusun strategi penanganan stunting yang lebih tepat sasaran.

Sekolah Turut Menjaga Status Gizi Peserta Didik

Sekolah juga berperan aktif dalam menjaga kesehatan siswa.

Wali Kelas SDN Banjarjo II, Kiki Novandari, menjelaskan bahwa para guru telah mengikuti pelatihan mengenai makanan bergizi dari Dinas Kesehatan.

Selain itu, pihak sekolah rutin mengawasi kantin agar hanya menyediakan makanan yang memenuhi standar kesehatan.

Di sisi lain, puskesmas mengunjungi sekolah setiap dua bulan untuk memantau kondisi kesehatan siswa. Petugas juga memeriksa pertumbuhan anak dan melaporkan hasilnya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro.

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Pencegahan Stunting

FKH UNAIR berharap masyarakat semakin memahami bahwa pencegahan stunting tidak berhenti setelah anak melewati masa balita.

Perguruan tinggi, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah perlu terus bekerja sama agar anak memperoleh pemantauan pertumbuhan secara berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut memungkinkan tenaga kesehatan menemukan gangguan pertumbuhan lebih cepat. Dengan demikian, anak masih memiliki kesempatan memperoleh intervensi gizi sebelum memasuki masa remaja.

Melalui pendekatan berbasis data dan kerja sama lintas sektor, UNAIR optimistis upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif sekaligus mendukung lahirnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article

spot_img