Dari Kepulauan Terpencil, Alumni FKG UNAIR Nyalakan Asa dan Bawa Misi Kemanusiaan
educare.co.id, Surabaya, 13 Agustus 2025 – Membangun akses pendidikan, menggerakkan ekonomi warga, dan memperjuangkan layanan kesehatan menjadi misi utama drg Zahrotun Riyad, alumni Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1997. Lulus pada 2003, Zahra—sapaan akrabnya—telah lebih dari dua dekade mengabdi di Kepulauan Galang, Batam, wilayah yang terdiri dari 104 pulau, dengan 40 di antaranya berpenghuni.
Sejak diangkat menjadi dokter gigi PNS pada 2010, Zahra menyaksikan langsung keterbatasan akses kesehatan di wilayah tersebut. Untuk menjangkau puskesmas, warga harus menyewa kapal hampir satu juta rupiah dan menempuh perjalanan jauh, sementara sebagian besar desa belum memiliki listrik. Kondisi ini mendorongnya menggagas “Warung Gigi”, layanan kesehatan gigi keliling yang ia jalankan dengan membawa alat medis, obat-obatan, dan anestesi di dalam ransel.
Di lapangan, Zahra juga menemukan persoalan sosial yang memprihatinkan, seperti tingginya angka kehamilan remaja di luar nikah. Ia pun merancang Konselor Remaja Nusantara (KRN), program pelatihan bagi 12–15 siswa di setiap sekolah untuk menjadi konselor sebaya dan teman curhat.
Pengabdiannya tak berhenti di bidang kesehatan. Sejak 2018, Zahra merintis program beasiswa SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Saat ini, lebih dari 40–50 anak menerima bantuan rutin membayar SPP, termasuk 10 mahasiswa yang kuliah berkat beasiswa tersebut. Dana program ini berasal dari jejaring relawan di berbagai daerah, bahkan luar negeri seperti Qatar dan Australia.
Untuk memberdayakan ekonomi, Zahra menginisiasi peternakan domba yang dikelola masyarakat setempat. Hasil penjualan saat Iduladha dikembalikan kepada peternak sebagai keuntungan sekaligus modal usaha, dengan harapan berkembang hingga ke sektor perikanan.
Berkat inisiatif ini, masyarakat menunjukkan respons positif, terutama terhadap program pendidikan. Namun, keterbatasan dana kerap menjadi kendala. Sebagian bantuan terpaksa dialihkan untuk kebutuhan mendesak, seperti memperbaiki atap bangunan yang ambruk di salah satu pulau.
Meski menghadapi tantangan berat, termasuk medan geografis yang sulit dijangkau, Zahra tetap teguh. “Ada sebuah cahaya yang, meskipun tidak 100 watt, tapi masih ada jalannya mereka untuk merancang masa depan,” ungkapnya.
Atas pengabdiannya, Zahra meraih berbagai penghargaan seperti Dokter Teladan Nasional (2016), CNN Indonesia Heroes (2017), Perempuan Inspiratif NOVA (2014), Tupperware SheCan Award (2014), hingga 100 Tokoh Ksatria Airlangga. Namun, baginya, penghargaan hanyalah bonus dari kerja panjang yang ia jalani dengan hati.
Ke depan, Zahra berharap dapat memperluas program beasiswa dan mewujudkan rumah sakit terapung sebagai solusi layanan kesehatan di kepulauan. (SCP)
