Bukan Dosen Biasa! Tegar Siregar Tembus Jurnal Scopus Q1 dan Raih Best Article Award

Must read

EDUCARE.CO.ID – Konsistensi riset membawa dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), dr. Tegar Adriansyah Putra Siregar, M.Biomed., Ph.D., ke level akademik internasional.

Sejak Oktober 2025, Tegar dipercaya menjadi reviewer jurnal Emerging Microbes & Infections. Jurnal tersebut diterbitkan Taylor & Francis Publisher di Milton Park, Abingdonshire, Oxfordshire, United Kingdom.

Berdasarkan keterangan yang dilansir situs Kemdiktisaintek, Emerging Microbes & Infections masuk dalam kuartil teratas atau Q1 Scopus.

Jurnal itu juga memiliki peringkat tinggi dalam bidangnya. Emerging Microbes & Infections menempati posisi ke-15 dari 194 jurnal Mikrobiologi. Sementara itu, jurnal tersebut berada di peringkat ke-16 dari 361 jurnal Penyakit Infeksi.

Capaian tersebut menambah rekam jejak Tegar sebagai akademisi dan peneliti. Namun, ia tidak mendapat kepercayaan itu secara instan.

Reputasi tersebut Tegar bangun melalui konsistensi riset dan publikasi ilmiah.

Tegar Mengajar Mikrobiologi Sejak 2016

Karier akademiknya di FKIK UMSU dimulai dengan mengajar mata kuliah mikrobiologi dan imunologi pada 2016. Sejak itu, ia terus mengembangkan minat riset pada bidang yang sama.

Dalam sekitar lima tahun terakhir, Tegar memperkuat penelitian mengenai tuberkulosis, Mycobacterium tuberculosis, autofagi, serta interaksi antara pejamu dan patogen atau host-pathogen interaction.

Fokus tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas akademiknya. Ia memilih mendalami satu bidang agar rekam jejak penelitiannya semakin jelas.

“Awalnya saya membangun track record. Selama lima tahun saya fokus publikasi di bidang saya, yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis, respon imunitas tubuh terhadap infeksi, dan interaksi keduanya,” ujar Tegar, dilansir situs Kemdiktisaintek pada 28 Agustus 2026.

Selain fokus pada topik riset, Tegar juga menjaga ritme publikasi. Ia menargetkan setidaknya satu artikel ilmiah setiap tahun di jurnal yang masuk Scopus Q1.

Dengan strategi tersebut, ia terus memperkuat kepakaran sekaligus memperluas jaringan akademik.

Riset Tegar Pernah Raih Best Article Award

Rekam jejak penelitian Tegar juga membawanya meraih penghargaan internasional.

Pada 2022, Tegar menjadi penulis utama dalam artikel berjudul “The autophagy-resistant Mycobacterium tuberculosis Beijing strain upregulates KatG to evade starvation-induced autophagic restriction”.

Ia menulis artikel tersebut bersama 11 peneliti lainnya. Kemudian, Dewan Editor jurnal Pathogens and Disease memilih artikel itu sebagai artikel terbaik pada 2022.

Pencapaian tersebut membuka kesempatan bagi seluruh penulis untuk mengikuti Best Article Awards. FEMS Journals bersama Oxford University Press memberikan penghargaan tersebut untuk artikel terbaik di setiap jurnal FEMS.

Tegar menilai penghargaan itu ikut memperkuat rekam jejaknya sebagai peneliti. Selain itu, pengalaman tersebut membantu editor melihat bidang kepakaran yang ia tekuni.

“Dengan membangun track record ini, editor dan dewan redaksi bisa melihat kepakaran kita. Karena sebenarnya yang dicari ketika menjadi reviewer adalah ahli dalam bidang tersebut,” kata Tegar.

Perjalanan pendidikannya juga mendukung fokus tersebut. Tegar merupakan alumnus Fakultas Kedokteran UMSU untuk jenjang sarjana.

Setelah itu, ia menempuh S2 Ilmu Biomedik bidang mikrobiologi di Universitas Indonesia. Ia kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Department of Microbiology, Mahidol University, Thailand.

Jadi Dosen dan Reviewer Butuh Manajemen Waktu

Di tengah aktivitas mengajar dan meneliti, Tegar juga menjalankan tugas sebagai reviewer jurnal internasional. Dua peran tersebut menuntut pengaturan waktu yang ketat.

Sebagai dosen, ia tetap menjalankan tridharma perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan kegiatan tersebut, ia meluangkan waktu untuk membaca dan menilai manuskrip ilmiah.

“Tantangannya lebih banyak di manajemen waktu. Dosen di Indonesia harus melakukan tridharma. Setelah melakukan tridharma perguruan tinggi, baru harus melakukan review dan menjaga objektivitas dari manuskrip yang disubmit kepada saya,” tutur Tegar.

Selain waktu, objektivitas juga menjadi perhatian utama. Tegar perlu menilai setiap manuskrip berdasarkan kualitas ilmiahnya tanpa mencampurkan kepentingan pribadi.

Karena itu, pekerjaan reviewer tidak sekadar membaca artikel. Reviewer juga ikut menjaga kualitas penelitian yang masuk ke jurnal ilmiah.

Dukungan Kampus Dorong Produktivitas Riset

Tegar menyadari bahwa penelitian tidak dapat berjalan sendirian. Dukungan institusi juga memegang peran penting.

Di UMSU, ia mendapat dukungan berupa fasilitas laboratorium, skema hibah internal, serta insentif penelitian. Berbagai fasilitas tersebut membantu dosen mengembangkan penelitian secara berkelanjutan.

Dukungan itu juga memberi ruang bagi Tegar untuk mengejar publikasi internasional. Dengan demikian, aktivitas penelitian tidak berhenti setelah satu proyek selesai.

Bagi Tegar, perjalanan akademik juga tidak berhenti pada satu penghargaan. Ia justru melihat setiap pencapaian sebagai bagian dari proses yang lebih panjang.

Laboratorium menjadi tempat ia mengembangkan riset. Ruang kelas menjadi tempat ia membagikan pengetahuan. Sementara itu, meja reviewer menjadi ruang lain untuk ikut menjaga kualitas ilmu pengetahuan.

Ketiga aktivitas tersebut saling terhubung. Semuanya mengarah pada satu tujuan, yaitu menghasilkan penelitian yang berkualitas dan memberi manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Teknologi Buka Peluang bagi Peneliti Indonesia

Tegar juga melihat perkembangan positif dalam ekosistem penelitian Indonesia.

Menurutnya, semakin banyak peneliti mulai memanfaatkan teknologi canggih dalam kegiatan riset. Perkembangan teknologi tersebut membuka peluang bagi peneliti Indonesia untuk menghasilkan karya yang lebih kompetitif.

Selain teknologi, kebijakan pemerintah juga dapat memengaruhi produktivitas peneliti. Tegar menilai kebijakan mengenai honor peneliti dari dana hibah dapat menjadi salah satu pendorong bagi peneliti untuk terus menghasilkan karya.

Namun, ekosistem riset membutuhkan lebih dari satu faktor. Peneliti membutuhkan fasilitas, pendanaan, kebijakan yang mendukung, serta kesempatan untuk berkolaborasi.

Jika berbagai unsur tersebut berjalan bersama, peneliti Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk menghasilkan penelitian berdaya saing global.

Konsistensi Riset Bawa Tegar ke Panggung Internasional

Perjalanan Tegar menunjukkan bahwa reputasi akademik tumbuh melalui proses yang panjang. Ia memulai langkah tersebut dari ruang kelas dan laboratorium.

Kemudian, ia memperkuat kepakaran melalui fokus penelitian dan publikasi ilmiah. Penghargaan Best Article Awards pada 2022 menjadi salah satu pencapaiannya.

Kini, pengalaman tersebut membawanya menjadi reviewer pada jurnal Emerging Microbes & Infections yang berada di Q1 Scopus.

Bagi akademisi, capaian seperti ini tidak hanya menunjukkan pengakuan terhadap kepakaran. Lebih jauh, peran reviewer juga memberi kesempatan untuk ikut menjaga kualitas publikasi ilmiah di tingkat internasional.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article