Anak 3T Bangkit! Beasiswa Bina Talenta Lahirkan Talenta Teknologi Masa Depan

EduNews EduScholar

EDUCARE.CO.ID – Di antara debur ombak dan perbukitan eksotis Lembata, lahir mimpi-mimpi besar dari anak-anak daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Jarak geografis dan keterbatasan fasilitas tak lagi menjadi penghalang untuk menembus batas. Melalui program Bina Talenta Indonesia (BTI) yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Pusat Prestasi Nasional, dua murid SMP Negeri 2 Nubatukan membuktikan bahwa talenta dari timur Indonesia mampu bersaing di era teknologi dan kecerdasan artifisial.

Wenseslaus Pito Koban adalah salah satu bintang muda itu. Putra seorang guru dan bidan ini menemukan panggung barunya lewat BTI. Ketertarikannya pada dunia koding tumbuh pesat setelah mendapat bimbingan langsung dari para pengajar profesional. Sebelumnya, ia telah menorehkan prestasi sebagai peraih Medali Emas Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten/kota bidang IPS tahun 2024. Di ajang BTI luring yang digelar bersama Politeknik Negeri Jakarta, Wenseslaus bahkan dinobatkan sebagai peserta teraktif dan tim dengan karya terfavorit. Baginya, teknologi adalah bahasa masa depan—dan ia ingin fasih menguasainya.

Semangat serupa juga menyala dalam diri Emanuel Sabon Gua. Putra petani dari Lembata ini tak hanya berprestasi secara akademik—ia meraih Medali Emas OSN tingkat kabupaten/kota bidang IPA 2024 dan masuk empat besar Duta GenRe Kabupaten Lembata 2025—tetapi juga aktif berbagi ilmu sepulang dari pelatihan. Di BTI, ia memperdalam pemahaman tentang Koding dan Kecerdasan Artifisial sekaligus penguatan karakter. Menariknya, di tengah ketertarikannya pada teknologi, Emanuel menyimpan mimpi besar menjadi presiden—sebuah cita-cita yang ia yakini bisa diraih dengan disiplin, kerja keras, dan doa.

Program Bina Talenta Indonesia sendiri merupakan bagian dari kebijakan Manajemen Talenta Murid yang dirancang untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapat ruang tumbuh yang setara. Ribuan siswa dari 38 provinsi dan Sekolah Indonesia Luar Negeri telah merasakan manfaatnya—mulai dari penguatan STEM hingga pembinaan karakter komprehensif. Dari Lembata, Wenseslaus dan Emanuel mengirim pesan kuat kepada negeri: talenta tak mengenal batas geografis. Dengan akses dan pembinaan yang tepat, anak-anak 3T pun mampu berdiri sejajar, membawa harapan menuju Indonesia Emas.

BACA JUGA:  Dua Siswa MI An-Nashriyah Raih Prestasi di Olimpiade Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *