Alumni TLM UNAIR Bagikan Kisah Karier di Prodia: Adaptasi dan Komunikasi Jadi Kunci

Must read

EDUCARE.CO.ID – Ketertarikan terhadap tokoh fiksi bisa menjadi titik awal perjalanan karier seseorang. Hal ini dialami Ilma, S.Tr.Kes., alumnus Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini bekerja di Prodia Kramat, Jakarta.

Ketertarikan Ilma pada Molly Hooper, tokoh patolog dalam serial Sherlock Holmes, mendorongnya memilih bidang studi yang berkaitan dengan pekerjaan laboratorium. Kini, ia menjalankan tugas sebagai phlebotomist dan melayani pasien dari kalangan klien korporasi, asuransi, hingga VVIP.

Berdasarkan siaran pers Fakultas Vokasi UNAIR, perjalanan Ilma menunjukkan bahwa karier di bidang kesehatan tidak hanya membutuhkan penguasaan ilmu sains. Kemampuan berkomunikasi, mengatur prioritas, dan menyesuaikan diri dengan situasi juga memegang peran penting.

Terinspirasi Molly Hooper, Mantap Memilih TLM UNAIR

Sejak awal, Ilma tertarik pada sosok Molly Hooper yang bekerja di laboratorium dalam serial Sherlock Holmes. Ketertarikan itu kemudian membawanya menempuh pendidikan Teknologi Laboratorium Medis.

Setelah menjalani perkuliahan, Ilma merasa pilihannya sesuai dengan minatnya. Ia menikmati materi yang menantang sekaligus memberikan pengalaman belajar baru.

“Kuliahnya asik, menantang, bener-bener jurusan hidden gem,” ungkap Ilma.

Selama kuliah, ia juga menikmati berbagai mata kuliah yang mendukung pemahaman tentang pemeriksaan laboratorium. Mikrobiologi menjadi salah satu bidang favoritnya karena ia menyukai proses identifikasi bakteri melalui tahapan pemeriksaan.

UKM Fotografi Jadi Bekal Soft Skills

Di tengah padatnya materi sains, Ilma memilih bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi. Baginya, kegiatan tersebut memberi kesempatan untuk bertemu teman-teman yang kreatif sekaligus menjalani aktivitas di luar perkuliahan.

Melalui UKM, Ilma belajar mengatur waktu, mengelola acara, dan berkomunikasi dengan orang lain. Pengalaman berorganisasi itu melengkapi keterampilan teknis yang ia pelajari selama kuliah.

Ilma juga mengapresiasi para dosen dan materi pembelajaran di TLM UNAIR. Ia merasa pengalaman kuliahnya memberikan bekal yang sesuai dengan kebutuhan bidang yang ia tekuni. Jika mendapat kesempatan mengulang masa kuliah, ia mengaku tetap akan memilih program studi tersebut.

Magang di Rumah Sakit Sambil Menjadi Penerjemah

Memasuki tahun terakhir kuliah, Ilma menjalani magang di RSUD Haji. Pada saat yang sama, ia bekerja lepas sebagai penerjemah atau translator.

Kedua aktivitas itu memberinya pengalaman untuk membagi waktu dan menjalankan tanggung jawab yang berbeda. Selain memperdalam pengetahuan di bidang laboratorium medis, ia juga memanfaatkan kemampuan lain di luar bidang studinya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal saat Ilma mulai meniti karier setelah lulus.

Dari Daily Worker hingga Berkarier di Prodia

Setelah menyelesaikan pendidikan, Ilma memulai karier sebagai daily worker di Tirta Medical Center. Selama kurang lebih satu bulan, ia bertugas sebagai phlebotomist, tenaga kesehatan yang mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium.

Tidak lama kemudian, Ilma mendapat kesempatan bergabung dengan tempat kerjanya saat ini, Prodia Kramat, Jakarta.

Di sana, ia bertugas sebagai phlebotomist pada layanan Corporate Client, Insurance, dan VVIP Patient dalam posisi Branch Diagnostic Service. Pekerjaan tersebut sesuai dengan harapannya setelah lulus dari TLM UNAIR.

“Alhamdulillah mulus, mungkin karena doa ibu juga kali ya,” ujarnya.

Untuk mendukung pekerjaannya, Ilma juga mengikuti sejumlah pelatihan dari kantor. Pelatihan tersebut membantunya meningkatkan kompetensi dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan layanan kesehatan.

Kelincahan Beradaptasi Jadi Bekal Penting di Dunia Kerja

Menurut Ilma, dunia kuliah dan dunia kerja memiliki tuntutan yang berbeda. Di lingkungan profesional, seseorang perlu memahami situasi, menempatkan diri dengan tepat, dan menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan.

Karena itu, ia menilai kemampuan beradaptasi atau agility menjadi keterampilan penting bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja. Selain itu, mahasiswa perlu belajar menentukan prioritas dan menghadapi perubahan tanpa bersikap terlalu kaku.

Bekal akademik tetap penting, tetapi kemampuan menerapkannya dalam situasi nyata juga menentukan kelancaran pekerjaan. Terlebih, profesi di bidang layanan kesehatan menuntut ketelitian sekaligus interaksi yang baik dengan pasien.

Bangga Publikasikan Jurnal Ilmiah

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan bagi Ilma adalah keberhasilannya menerbitkan jurnal ilmiah yang terindeks Sinta 3. Ia merasa bangga karena menjalani sendiri proses penelitian hingga publikasi.

Di tempat kerja, Ilma juga memperoleh pengalaman berinteraksi dengan berbagai orang dari latar belakang berbeda, termasuk sejumlah tokoh penting. Pengalaman tersebut memperluas wawasannya, meski terkadang membutuhkan upaya ekstra dalam berkomunikasi dan menyesuaikan diri.

Bagi Ilma, setiap pengalaman memberikan pelajaran yang dapat mendukung perkembangan profesionalnya.

Tantangan Terbesar, Menjelaskan Sains kepada Pasien

Dalam pekerjaannya, Ilma menghadapi tantangan saat menjelaskan informasi ilmiah kepada pasien yang tidak memiliki latar belakang medis. Ia perlu menyampaikan informasi secara sederhana agar pasien dapat memahami penjelasannya dengan baik.

Tantangan ini semakin beragam karena setiap pasien memiliki latar belakang, pemahaman, dan kebutuhan yang berbeda. Oleh sebab itu, Ilma perlu menyesuaikan cara berkomunikasi tanpa mengabaikan ketepatan informasi.

Pada titik ini, pengalaman berorganisasi selama kuliah turut memberi manfaat. Kemampuan berkomunikasi dan menempatkan diri membantu Ilma menjembatani pengetahuan teknis dengan kebutuhan pasien.

Ingin Terus Berkembang dan Mencoba Tantangan Baru

Untuk perjalanan karier berikutnya, Ilma ingin mencari peluang yang menawarkan tantangan dan pengalaman baru. Meski demikian, ia memilih menjalani rencana tersebut dengan santai dan tidak terburu-buru.

Ia juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan alumni TLM agar bangga dengan bidang yang mereka tekuni. Menurutnya, Teknologi Laboratorium Medis memiliki peran penting dalam layanan kesehatan, meskipun belum banyak mendapat perhatian masyarakat.

“Jangan merasa jurusan kalian kurang keren karena sebenernya keren banget, cuma kurang exposure aja,” pesannya.

Kepada almamaternya, Ilma berharap Program Studi TLM UNAIR terus berkembang dan menghasilkan lulusan yang unggul di bidangnya. Ia juga berharap program studi tersebut semakin dikenal masyarakat luas.

Kisah Ilma memperlihatkan bahwa perjalanan menuju karier profesional dapat berawal dari ketertarikan sederhana. Namun, minat saja tidak cukup. Penguasaan ilmu, pengalaman organisasi, kemampuan beradaptasi, dan komunikasi turut membantu alumni TLM UNAIR menjalankan peran di dunia layanan kesehatan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article