Alumni S2 Kesmas UNAIR Turun Langsung Bantu Korban Gempa NTT, Libatkan Anak Muda

Must read

EDUCARE.CO.ID – Aksi kemanusiaan pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi ruang pengabdian bagi Muh. Arfah, S.KM., M.Kes., alumni Program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR). Bersama berbagai unsur masyarakat, ia terlibat dalam kegiatan kemanusiaan yang menggabungkan edukasi kesehatan, dukungan kebutuhan medis, dan pemberdayaan komunitas.

Berdasarkan siaran pers Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR, kegiatan tersebut berlangsung pada 4–7 September 2026 di Dusun Nanganae, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, NTT. Selain membantu masyarakat terdampak gempa, kegiatan ini mendorong warga dan generasi muda agar terlibat aktif dalam proses pemulihan pascabencana.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima bantuan. Warga dan anak muda juga memiliki kesempatan untuk mengambil peran dalam membangun kesiapsiagaan serta memperkuat solidaritas sosial.

Berbekal Ilmu Kesehatan Masyarakat, Perkuat Pengabdian

Muh. Arfah saat ini menempuh pendidikan doktoral di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR). Ia juga mengajar sebagai dosen di Universitas Sunan Gresik.

Selain menjalankan aktivitas akademik, Arfah mendirikan Yayasan BARAKARSA yang bergerak di bidang Pendidikan, Pengabdian, dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M). Melalui yayasan tersebut, ia mengembangkan berbagai kegiatan sosial dengan melibatkan pemuda, komunitas, akademisi, relawan, dan mitra.

Pengalaman di bidang kesehatan masyarakat menjadi bekal untuk memahami kebutuhan warga sekaligus menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan yang muncul di lapangan. Dalam aksi kemanusiaan di Manggarai, pendekatan ini tercermin melalui perhatian terhadap edukasi kesehatan dan penguatan peran masyarakat.

Libatkan Anak Muda dalam Gerakan Kemanusiaan

Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut. Arfah mendorong anak muda agar tidak hanya menerima informasi atau bantuan, tetapi juga berkontribusi melalui kerelawanan, edukasi, dan kepedulian sosial.

Menurutnya, gerakan kemanusiaan dapat tumbuh dari langkah sederhana di lingkungan komunitas. Ketika semakin banyak anak muda memperoleh ruang untuk berkontribusi, kepedulian sosial berpeluang berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

“Kita ingin membangun kesadaran bahwa anak muda bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi. Ketika komunitas diberdayakan dan anak muda diberikan ruang untuk berkontribusi, gerakan kemanusiaan dapat tumbuh secara lebih luas,” ujar Muh. Arfah.

Melalui pelibatan tersebut, anak muda juga mendapat kesempatan untuk belajar langsung mengenai kebutuhan masyarakat terdampak bencana. Pengalaman ini dapat memperkuat kepekaan sosial sekaligus membangun kapasitas mereka dalam merespons persoalan kesehatan dan kemanusiaan.

Edukasi Kesehatan Jadi Bagian dari Pemulihan Pascagempa

Selain mendorong partisipasi warga, kegiatan kemanusiaan di Manggarai mencakup edukasi kesehatan dan dukungan kebutuhan medis. Tim turut menyalurkan obat-obatan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.

Edukasi kesehatan menjadi bagian penting karena situasi pascabencana dapat menghadirkan berbagai risiko kesehatan. Pemahaman mengenai kesehatan dan kesiapsiagaan dapat membantu warga mengenali kebutuhan mereka serta mengambil langkah yang sesuai.

Karena itu, upaya pemulihan tidak cukup hanya berfokus pada bantuan jangka pendek. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi dan dukungan yang dapat membantu mereka menghadapi risiko setelah bencana.

Kolaborasi Perluas Dampak Aksi Kemanusiaan

Aksi kemanusiaan di Manggarai turut menegaskan pentingnya kerja sama antara akademisi, organisasi masyarakat, relawan, komunitas, mitra lokal, dan warga. Setiap pihak dapat berkontribusi sesuai kemampuan dan sumber daya yang dimiliki.

Arfah menilai kolaborasi menjadi salah satu unsur penting agar gerakan kemanusiaan tidak berhenti pada penyaluran bantuan. Kerja bersama juga membuka ruang untuk berbagi pengetahuan, memperkuat kapasitas komunitas, dan memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.

“Kemanusiaan membutuhkan kolaborasi. Ketika akademisi, komunitas, anak muda, relawan, dan masyarakat bergerak bersama, setiap pihak dapat memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya,” katanya.

Selain membantu masyarakat, kegiatan lapangan juga menjadi pengalaman belajar bagi para relawan. Mereka dapat melihat secara langsung tantangan yang dihadapi warga sekaligus memahami pentingnya pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan setempat.

Pengabdian Berlanjut melalui Pemberdayaan Masyarakat

Bagi Arfah, aksi kemanusiaan pascagempa di NTT merupakan bagian dari pengabdian yang menghubungkan pendidikan, kesehatan masyarakat, dan pemberdayaan komunitas.

Bantuan tetap memegang peran penting, terutama ketika masyarakat menghadapi situasi darurat. Namun, penguatan kapasitas warga juga perlu berjalan agar mereka dapat berpartisipasi dalam pemulihan dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko di masa mendatang.

Melalui kolaborasi dan pemberdayaan, komunitas serta generasi muda memiliki ruang untuk terus terlibat dalam kegiatan sosial. Dengan demikian, semangat kemanusiaan tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga tumbuh melalui upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article