Bukan Sekadar Mencoblos! FISIP Unair Ajak Gen Z Lebih Kritis Jelang Pemilu 2029

Must read

EDUCARE.CO.ID – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya untuk memperkuat literasi politik mahasiswa. Melalui kegiatan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026, keduanya mengajak pemilih pemula mengasah nalar kritis menjelang Pemilu 2029.

Berdasarkan siaran pers FISIP UNAIR, kegiatan tersebut berlangsung di Hall A Gedung Soetandyo FISIP Unair pada Senin (12/10/2026). Sebanyak 90 mahasiswa S1 Ilmu Politik mengikuti sosialisasi yang membahas kualitas demokrasi, tantangan literasi politik, dan peran generasi muda dalam pemilu.

Tri Handoko memandu diskusi yang menghadirkan dosen Ilmu Politik Unair, dr. Kris Nugroho, M.A., serta perwakilan KPU Surabaya, Naafilah Astri Swarist.

Pemilih Pemula Perlu Menilai Program dan Rekam Jejak

Dalam pemaparannya, Kris Nugroho menekankan bahwa keadilan menjadi fondasi penting dalam penyelenggaraan pemilu. Menurutnya, partisipasi pemilih tidak cukup hanya ditunjukkan dengan datang ke tempat pemungutan suara dan mencoblos.

Pemilih juga perlu memahami pilihan politiknya. Karena itu, ia mendorong mahasiswa menilai calon berdasarkan program, visi, dan rekam jejak, bukan sekadar mengikuti ajakan atau janji politik.

“Pemilih pemula idealnya menentukan pilihan berdasarkan program, rekam jejak, dan visi calon. Kalau enggak ya, mereka berisiko terjebak dalam tradisi pemilu yang hanya kemakan janji tanpa substansi,” ujar Kris.

Ia juga menyoroti tantangan literasi politik di era digital. Generasi Z tumbuh dengan akses internet yang luas, tetapi kemudahan tersebut turut menghadirkan risiko paparan hoaks dan disinformasi.

Informasi yang keliru dapat membentuk persepsi politik tanpa dasar yang kuat. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu memeriksa sumber dan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya.

Selain masalah disinformasi, Kris menyoroti sikap apatis sebagian anak muda terhadap politik. Anggapan bahwa memilih atau tidak memilih tidak membawa perubahan dapat mengurangi partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi.

Politik Uang Tak Selalu Berbentuk Uang Tunai

Perwakilan KPU Surabaya, Naafilah Astri Swarist, turut membahas praktik politik uang yang masih menjadi tantangan dalam pemilu. Menurutnya, praktik tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk uang tunai, tetapi juga dapat berkaitan dengan pemberian bantuan sosial.

“Money politics sudah bukan menjadi strategi, tetapi sudah menjadi budaya. Tingginya angka kemiskinan juga menjadi indikator kalau politik uang bermain di sana,” ujar Naafilah.

Pembahasan ini mengajak mahasiswa melihat praktik politik uang secara lebih kritis. Pemilih perlu memahami konteks dan tujuan suatu pemberian, terutama ketika hal tersebut berkaitan dengan kepentingan elektoral.

Di sisi lain, diskusi juga menyoroti hubungan antara kondisi sosial-ekonomi dan kerentanan pemilih terhadap politik transaksional. Literasi politik menjadi salah satu bekal agar masyarakat dapat menilai proses politik secara lebih cermat.

Mahasiswa Berbeda Pandangan soal Peran Partai Politik

Sikap kritis peserta terlihat dalam hasil post-test yang menunjukkan mayoritas mahasiswa masih meragukan partai politik. Diskusi kemudian berkembang pada pertanyaan mengenai kemampuan partai dalam menyalurkan aspirasi masyarakat.

Julian, mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2026, menilai partai politik belum menyalurkan aspirasi masyarakat secara merata. Sementara itu, Dien berpandangan bahwa partai tetap memiliki peran penting sebagai saluran aspirasi masyarakat menuju lembaga legislatif.

Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa memiliki penilaian yang beragam terhadap fungsi partai politik. Karena itu, ruang diskusi menjadi penting untuk menguji argumen, membandingkan perspektif, dan memahami persoalan politik dari berbagai sudut pandang.

Gen Z dan Milenial Punya Peran dalam Demokrasi

Kris menilai generasi Z dan milenial memiliki peran penting dalam mendorong perubahan politik. Jumlah pemilih dari kedua kelompok generasi tersebut membuat partisipasi mereka menjadi bagian penting dalam menentukan arah demokrasi.

Namun, partisipasi yang bermakna membutuhkan pemahaman dan pertimbangan yang matang. Ia mengajak anak muda mengikuti forum diskusi, mengasah nalar kritis, serta membiasakan diri memeriksa informasi sebelum menyebarkannya.

“Masa depan demokrasi ada di tangan pemilih,” tegas Kris.

Melalui Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026, FISIP Unair dan KPU Surabaya mendorong mahasiswa mengambil peran lebih aktif dalam kehidupan demokrasi. Harapannya, pemilih pemula tidak sekadar menggunakan hak pilih, tetapi juga mampu menilai informasi, memahami pilihan politik, dan berpartisipasi secara bertanggung jawab.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article