Galeri Prajnaparamita Resmi Dibuka, Museum Nasional Tawarkan Pengalaman Imersif

Must read

EDUCARE.CO.ID – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Galeri Prajnaparamita di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Galeri ini memadukan koleksi arca asli, teknologi digital, dan fasilitas ramah disabilitas untuk menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang lebih inklusif.

Berdasarkan sumber berita Kemenbud, Museum Nasional melengkapi galeri tersebut dengan deskripsi berhuruf Braille dan miniatur arca yang dapat disentuh. Fasilitas ini membantu pengunjung, termasuk penyandang disabilitas netra, mengenali bentuk dan detail karya seni melalui sentuhan.

Fadli menilai inovasi tersebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap warisan budaya Indonesia. Menurutnya, museum perlu menjaga keaslian koleksi sekaligus mengembangkan cara penyajian yang menarik bagi berbagai kelompok pengunjung.

Arca Prajnaparamita Asli, Mahakarya dari Masa Singasari

Galeri Prajnaparamita menampilkan arca asli dari kawasan percandian Singasari, Jawa Timur. Karya seni tiga dimensi dari abad ke-13 Masehi ini menggambarkan sosok dewi kebijaksanaan tertinggi dalam tradisi Buddha Mahayana.

Arca tersebut berasal dari masa kejayaan Kerajaan Singasari, ketika tradisi Hindu dan Buddha berkembang secara harmonis. Sang pematung mengukir detail arca dengan sangat halus melalui posisi meditasi vajrasana dan sikap tangan dharmacakra mudra.

Di sisi kiri arca, bunga teratai menopang naskah sutra. Sementara itu, raut wajah yang tenang dan pandangan ke arah ujung hidung menghadirkan kesan khusyuk, anggun, dan damai.

Fadli menyebut arca ini sebagai salah satu pencapaian seni dan estetika tertinggi dari leluhur Indonesia. Ia bahkan menyamakannya dengan Mona Lisa karena nilai artistik dan daya tariknya.

“Galeri Prajnaparamita ini menampilkan arca asli, bukan replika, secara khusus mahakarya dari nenek moyang kita. Salah satu pencapaian artistik dan estetika yang tertinggi. Bahkan kalau boleh dibilang, arca Prajnaparamita ini adalah Monalisa-nya Indonesia, Monalisa dari Jawa,” kata Menbud.

Menurut Fadli, pengunjung perlu mendapat kesempatan untuk menikmati warisan budaya tanpa terhalang keterbatasan akses. Karena itu, Museum Nasional menyediakan narasi Braille dan miniatur yang dapat disentuh.

“Jadi kira-kira bisa meraba bagaimana bentuk Arca Prajnaparamita,” lanjutnya.

Fasilitas tersebut memberi pengalaman belajar yang lebih beragam. Pengunjung dapat mengamati arca asli, membaca informasi yang tersedia, serta mengenali bentuknya melalui miniatur taktil.

Tata Pamer Imersif Ajak Generasi Muda Mengenal Sejarah

Museum Nasional juga mengembangkan tata pamer yang dinamis untuk menarik minat generasi muda. Pengelola memadukan teknologi digital dengan pencahayaan modern agar pengunjung dapat menikmati koleksi melalui pengalaman visual yang lebih menarik.

Salah satu unsur desain yang menonjol ialah lampu berbentuk kelopak bunga lotus. Tata cahaya tersebut membingkai pedestal atau dudukan arca dengan konsep padmasana.

Pendekatan ini mempertemukan nilai sejarah dengan desain pameran modern. Pengunjung tidak hanya melihat artefak sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menikmati detail karya dalam suasana galeri yang dirancang secara artistik.

Museum Nasional menargetkan Galeri Prajnaparamita menjadi salah satu daya tarik utama atau point of interest. Pengelola juga ingin menghidupkan museum melalui pameran temporer dan penambahan artefak baru.

Dengan langkah tersebut, Museum Nasional berupaya menghadirkan pengalaman kunjungan yang lebih interaktif. Penyajian koleksi juga dapat mendorong masyarakat untuk mendalami sejarah dan kebudayaan Indonesia.

Fadli Zon Harap Galeri Dorong Kajian Warisan Budaya

Fadli berharap Galeri Prajnaparamita dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni leluhur. Ia juga ingin kehadiran arca tersebut mendorong lebih banyak penelitian tentang sejarah, seni, dan kebudayaan Indonesia.

“Galeri Prajnaparamita, Monalisa-nya dari Jawa atau Monalisa-nya Nusantara ini bisa menjadi suatu atraksi di Museum Nasional untuk mengapresiasi, menghargai karya dari nenek moyang kita yang menghadirkan sebuah arca yang begitu indah, menarik, dan luar biasa. Ke depannya juga diharapkan dapat melahirkan kajian yang semakin banyak,” ungkap Menteri Kebudayaan.

Harapan tersebut sejalan dengan upaya museum untuk memperluas fungsi koleksi sebagai sumber pengetahuan. Melalui pameran yang informatif dan mudah diakses, masyarakat dapat mengenal lebih jauh nilai artistik serta konteks sejarah setiap artefak.

Sejumlah Pejabat Hadiri Peresmian

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, turut menghadiri peresmian Galeri Prajnaparamita.

Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo juga mendampingi Fadli Zon dalam acara tersebut. Hadir pula Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan; Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra; serta Inspektur Jenderal Fryda Lucyana.

Selain itu, hadir Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik Ridwan, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, serta Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin.

Peresmian Galeri Prajnaparamita menandai langkah Museum Nasional Indonesia dalam mengembangkan layanan edukasi yang lebih modern dan inklusif. Melalui arca asli, informasi Braille, miniatur taktil, serta tata pamer imersif, museum membuka lebih banyak cara bagi masyarakat untuk mengenal warisan budaya Nusantara.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article