Mahasiswa ITB Ciptakan AI yang Bisa Terjemahkan Bahasa Isyarat Jadi Suara

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tiga mahasiswa Teknik Elektro, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB), mengembangkan SignWave, perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membantu siswa tuli berkomunikasi di sekolah reguler.

Teknologi tersebut menerjemahkan bahasa isyarat menjadi suara dan ucapan menjadi teks. Dengan dua fungsi itu, guru dan siswa dapat berinteraksi secara lebih langsung selama kegiatan belajar di kelas.

Tim pengembang SignWave terdiri atas William Gerald Briandelo, Fairuz Apiulla Rahagi, dan Hifzhi Dinullah. Ketiganya merupakan mahasiswa Teknik Elektro ITB angkatan 2022.

SignWave menjadi salah satu proyek Capstone Design yang tampil dalam EE Days 2026. Tim merancang perangkat ini untuk menjawab tantangan pembelajaran inklusif, terutama bagi siswa tuli yang bersekolah di lingkungan reguler.

SignWave Berawal dari Persoalan Komunikasi di Kelas

Gagasan SignWave berangkat dari pengalaman mahasiswa tuli di lingkungan ITB beberapa tahun lalu. Saat mengikuti perkuliahan, mahasiswa tersebut mengandalkan gerak bibir dosen untuk memahami materi.

Situasi menjadi lebih sulit ketika ia ingin bertanya atau menyampaikan pendapat. Ia harus menuliskan terlebih dahulu pesan yang ingin disampaikan.

Menurut Hifzhi Dinullah, cara tersebut membuat komunikasi berlangsung lebih lambat dan kurang alami.

“Proses membaca bibir dan menulis manual di kertas sangat menyulitkan siswa serta memakan waktu. SignWave hadir untuk memangkas jarak tersebut sehingga interaksi di dalam kelas dapat berlangsung secara alami dan lancar,” ujar Hifzhi, Selasa (23/6/2026).

Pengalaman itu kemudian mendorong ketiganya mencari solusi teknologi. Mereka ingin membuat alat yang dapat membantu siswa menerima penjelasan guru sekaligus menyampaikan respons secara langsung.

Dua Sistem AI Buat Komunikasi Lebih Lancar

SignWave mengusung dua sistem penerjemahan dalam satu perangkat. Sistem pertama menerjemahkan bahasa isyarat ke suara, sedangkan sistem kedua mengubah ucapan menjadi teks.

Pada sistem pertama, kamera menangkap gerakan bahasa isyarat yang dilakukan siswa. Komputer mini kemudian memproses gerakan tersebut dan mengubah hasilnya menjadi suara.

Guru dapat mendengar suara hasil terjemahan tanpa harus membaca pesan secara manual.

Sistem penerjemah bahasa isyarat itu memiliki akurasi sedikitnya 80 persen. Tim juga menetapkan latensi maksimal 10 detik dan waktu operasional sedikitnya 135 menit.

Saat ini, pustaka SignWave telah memuat sedikitnya 86 kosakata bahasa isyarat.

Sementara itu, sistem kedua membantu siswa memahami ucapan guru. Mikrofon menangkap suara pengajar, kemudian sistem mengolahnya menjadi teks.

Layar pada perangkat menampilkan hasil transkripsi tersebut. Dengan demikian, siswa dapat membaca materi atau instruksi yang disampaikan secara lisan.

Sistem ucapan ke teks memiliki akurasi sedikitnya 80 persen dengan latensi maksimal 5 detik. Sistem tersebut juga dapat bekerja sedikitnya selama 135 menit.

Secara keseluruhan, SignWave memadukan kamera, komputer mini, layar, dan mikrofon dalam satu perangkat. Kombinasi komponen tersebut memungkinkan komunikasi berlangsung dari kedua arah.

Bisa Menyesuaikan Istilah Mata Pelajaran

SignWave tidak hanya mengenali kosakata untuk percakapan sehari-hari. Tim juga menguji kemampuannya dalam memahami istilah yang muncul selama pembelajaran.

Pengujian mencakup istilah matematika, seperti aljabar, hingga istilah teknik elektro, salah satunya transistor NPN.

Menariknya, pengguna dapat menambahkan kosakata baru ke dalam pustaka SignWave secara mandiri. Fitur tersebut membuat sistem lebih mudah menyesuaikan kebutuhan setiap mata pelajaran.

Dengan kemampuan itu, SignWave tidak hanya berfungsi sebagai penerjemah percakapan. Perangkat ini juga dapat mengikuti konteks pembelajaran yang memiliki istilah khusus.

Pemrosesan Lokal untuk Sekolah dengan Internet Terbatas

Salah satu keunggulan SignWave terletak pada kemampuan memproses data secara lokal melalui perangkat embedded. Sistem tidak harus terus bergantung pada koneksi internet berkecepatan tinggi.

Pemrosesan lokal juga membantu menjaga latensi tetap rendah. Karena itu, perangkat memiliki peluang penggunaan yang lebih luas, termasuk di sekolah yang menghadapi keterbatasan akses internet.

Tim mengarahkan pengembangan SignWave untuk mendukung pembelajaran inklusif di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Konsep tersebut juga membuat SignWave lebih fleksibel untuk digunakan dalam berbagai kondisi kelas.

Inklusif, Portabel, dan Dua Arah

Dalam pengembangan SignWave, tim membawa tiga prinsip utama, yaitu inklusif, portabel, dan komunikasi dua arah.

Prinsip inklusif mendorong perangkat agar dapat membantu menciptakan interaksi yang lebih setara antara guru dan siswa tuli.

Sementara itu, desain yang ringkas membuat SignWave lebih mudah dibawa dan digunakan di berbagai lingkungan pembelajaran.

Kemampuan menerjemahkan bahasa isyarat sekaligus ucapan juga membuat komunikasi tidak berhenti pada satu arah. Siswa dapat menyampaikan pesan kepada guru, sementara guru dapat memberikan respons melalui teks yang tampil di layar.

Teknologi AI untuk Pendidikan yang Lebih Inklusif

SignWave menunjukkan bagaimana teknologi AI dapat menjawab persoalan nyata dalam dunia pendidikan. Tim tidak hanya mengejar kemampuan teknis perangkat, tetapi juga berusaha menghadirkan solusi yang dekat dengan kebutuhan siswa.

Dengan penerjemahan bahasa isyarat ke suara dan ucapan ke teks, SignWave membuka peluang interaksi yang lebih mudah bagi siswa tuli di sekolah reguler.

Pengembangan ini juga memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan dapat lahir dari pengalaman sederhana di ruang kelas. Ketika teknologi bertemu kebutuhan inklusi, perangkat seperti SignWave dapat membantu menciptakan proses belajar yang lebih setara.

Penulis: Andini Namira Saskirana

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article